
" Sedang apa kamu di ruang kerja Gabriel,Zihan ? tanya Erina membuat sepasang suami istri itu terdiam dengan wajah yang sudah pucat pasi.
" Ak..aku sedang membahas masalah kuliah dengan Om,Mom " ucap Zihan pelan.
" Terus kenapa kamu bicara tergagap begitu? " curiga Erina.
" Bagaimana,Zihan gak tergagap. Mom buat Zihan terkejut " kata Zihan tertunduk.
" Lagian kakak juga ngapain ke sini? " timpal Gabriel,kesal.
" Kakak mau pinjem kemeja kamu buat Mas Hito. Kakak tadi lupa tidak bawa kemeja " ucap Erina yang langsung teringat tujuan awal dia menemui Gabriel.
Gabriel memicingkan matanya. " Memang mau kemana? " tanya Gabriel.
" Kami akan ke kota C,menemui Papi dan Mami. Barusan mereka nelpon kakak dan meminta kakak serta Mas Hito mengunjungi mereka " kata Erina membuat Gabriel berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
" Mom mau pergi lagi? " tanya Zihan lirih.
Dia masih sangat merindukan Erina. Namun kalau menyangkut perintah Marcel dan Lucia. Zihan juga tidak dapat menolak.
" Maafin Mom,ya.. Lain kali Mom and Dad akan meluangkan waktu untuk menikmati waktu bersama kamu lagi " ucap Erina sambil mencium puncak kepala Zihan.
" Baiklah. "
" Kak.. Ini kemejanya " kata Gabriel tiba- tiba.
Menghentikan percakapan antara ibu dan anak itu.
" Baiklah, Terimakasih. Kakak titip Zihan lagi ya... Tolong jaga dia " kata Erina.
Dengan cepat Gabriel mengangguk. Rencana Gabriel menghubungi Marcel emang sengaja ia lakukan. Karena dia ingin bermesraan dengan Zihan dan dapat menjaga anak mereka bersama. Bagaimana pun Marcel adalah orang pertama yang Gabriel kasih tahu tentang pernikahan serta kehamilan Zihan.
10 menit sebelum kedatangan Zihan ke kamarnya. Gabriel menghubungi Marcel dan meminta Papi nya untuk membuat Erina dan Hito pergi menjauh dari rumah Gabriel.
Bagaimana pun Gabriel belum siap untuk jujur kepada Erina bahwa Zihan sedang mengandung. Dan anak yang Zihan kandung adalah hasil dari ke egoisannya untuk mendapatkan hati Zihan.
" Tentu,Gabriel akan jaga dia. Bagaimana pun dia adalah keponakan Gabriel " ucap Gabriel.
Erina tersenyum lalu melangkah memeluk Zihan.
__ADS_1
" Jaga diri baik-baik. Turuti semua nasihat,Om. Jangan mencari masalah yang akan membuat Om Gabriel kesusahan " kata Erina.
Zihan menangis dalam diam di dalam pelukan Erina. Jujur,dia masih sangat merindukan ibunya.
" Mom,Papi udah nelpon lagi. Dan kita harus segera berangkat " ujar Hito tiba-tiba.
Dengan cepat dia mengambil kemeja Gabriel dari tangan Erina dan berlalu pergi meninggalkan tiga orang yang tampak menahan tawa melihat kelakuan Hito.
Setelah Hito selesai,ia kembali menemui istri,anak serta menantu rahasia, yang masih asyik di ruang kerja menantu rahasia itu.
" Zihan. Dad minta,jaga diri baik-baik. Dan jangan lupa untuk tetap menghubungi kami " perintah Hito tanpa bantahan.
Zihan mengangguk,setelah itu ia berpindah memeluk tubuh Hito. " Kami pamit " ucap Hito dan Erina serempak.
Tampak ke empat orang tersebut menuruni tangga,di sana mereka di sambut Koko yang telah siap menyiapkan mobil untuk mengantar Erina dan Hito menuju rumah utama kediaman Zeto.
" Ingat,Koko. Hati hati di jalan dan tolong jaga mereka untukku " kata Gabriel.
" Baik,Tuan " ucap Koko tegas.
" Hubungi kami kalau kalian sudah sampai " ucap Gabriel yang masih berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada, sementara Zihan sendiri,dia sedang mengusap air mata yang jatuh tanpa henti.
^
Gabriel menarik Zihan dalam pelukannya. Dia sudah sangat gatal ingin merengkuh tubuh Zihan. Dan ini saatnya,di saat Erina dan Hito telah pergi dari mansionnya.
" Sttt,jangan menangis lagi, sayang. Om ada di sini. Mereka pasti akan berkunjung kembali ke sini dan menginap di sini " ucap Gabriel yang masih memeluk Zihan.
Zihan hanya mengangguk tanpa bersuara. Membuat Gabriel tersenyum menyeringai. Dengan perlahan,Gabriel mengangkat tubuh Zihan lalu menggendongnya.
" Akh...Om.. " teriak Zihan.
Zihan dengan cepat mengalungkan kedua tangannya di leher Gabriel. Bahkan tangisan Zihan seketika mereda di saat Gabriel menggenndongnya.
" Jangan menangis lagi. Kasihan baby yang ada di dalam perutmu itu,Sayang " ujar Gabriel di saat ia menaiki tangga.
" Om..turunin Zihan. Takut,Om.. " rengek Zihan.
Namun bukannya mendengarkan keinginan Zihan,Gabriel terus menggendong Zihan ala Bridal style sampai tiba di kamar mereka.
__ADS_1
Dengan pelan,Gabriel meletakkan tubuh Zihan di atas kasur king size nya. Untuk sesaat tatapan mereka bertemu dan saling mengunci.
" Aku mencintaimu,Zihan " bisik Gabriel tepat di telinga Zihan.
" Aku juga mencintai kamu " balas Zihan.
" Jangan pernah tinggalkan aku,sampai kapan pun itu " ujar Gabriel.
Zihan tersenyum teduh menatap Gabriel. Akhirnya dia tahu,seberapa besar cinta Gabriel untuknya. Bahkan,dia juga dapat melihat besarnya cinta itu dari tatapan Gabriel.
" Aku tidak bisa berjanji,Om. Namun aku akan usahakan " ucap Zihan.
Gabriel tersenyum,laku mengecup kening Zihan. Setelah itu,dia merebahkan tubuhnya di samping Zihan.
Bagaimana pun,kedatangan Erina dan Hito hari ini,membuat Gabriel tidak dapat bernapas lega. Dia sangat takut kalau tadi di saat mereka tahu kebenaran Zihan dan dapat membuat Erina marah hingga mengakibatkan hal buruk terjadi pada Zihan serta kandungannya.
" Kamu,Istirahatlah. Om akan masak makanan untuk kita makan malam hari ini " kata Gabriel yang hendak berdiri,namun dengan cepat Zihan memeluk tubuh Gabriel dari belakang.
" Temenin aku dulu sampai tidur. Baru Om boleh keluar " kata Zihan.
Gabriel berbalik sambil tersenyum menggoda. " Mau, Om temenin dengan cara bagaimana? " ujar Gabriel dengan nada menggoda, membuat bulu kuduk Zihan berdiri.
" Gak jadi,gak usah. Zihan gak gak jadi minta,Om temenin " kata Zihan sambil melepas pelukannya dan dengan segera membaringkan tubuhnya.
" Yakin?. Mungpung Om masih bisa tahan nie " kata Gabriel semakin membuat Zihan merona menahan rasa malu dan jengkel.
" Gak jadi,Om. Yakin. " kata Zihan mantap.
" Setadinya,Om akan temenin kamu sampai tidur. Ya sudah,Om mau masak saja kalau begitu " kata Gabriel yang langsung berdiri dan berlalu meninggalkan Zihan yang masih menahan rasa jengkelnya.
" Jadi pria kok gak peka banget, ikh. Sebel kan jadinya " gerutu Zihan.
Dia menarik selimut sampai batas lehernya. Setelah itu dia termenung menatap langit - langit kamarnya sambil memikirkan kejadian di mana Gabriel dengan teganya merenggut kesucian Zihan.
Hingga membuat Zihan sempat depresi dan sempat melakukan percobaan bunuh diri. Membuat hati dan pikirannya merasa sangat menyesal di saat mengingat kembali kejadian tersebut.
^
Bersambung...
__ADS_1