
Ekhem...
Koko terbatuk saat melihat kedua majikannya berpelukan.Dia sangat terkejut di saat melihat Zihan bersikap manis pada Gabriel.
Akhirnya penantian panjang si bos berakhir juga. Aku turut bahagia. Batin Koko.
" Sejak kapan kamu di situ? " tanya Gabriel dingin sambil menatap tajam Koko.
" Maaf Tuan,Tapi sejak tadi saya sedang tertidur di sofa " jawab Koko membuat sepasang suami istri itu menahan malu dengan wajah yang sudah merah merona.
" Keluar " ucap Gabriel dingin.
Dengan cepat Koko bangun dan keluar dari ruang rawat Zihan. Dia sangat menyadari jika Gabriel tengah menahan amarah serta malunya dalam bersamaan. Jadi lebih baik dia pergi meninggalkan majikannya itu.
" Jangan terlalu galak sama bawahan. Nanti dia kabur " ucap Zihan membuat Gabriel menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.
Gabriel tersenyum canggung,rasanya ada yang aneh dengan kebiasaan mereka saat ini. Namun hal itu sangat berbanding terbalik dengan hatinya yang semakin menghangat dengan sikap Zihan yang mulai menerimanya.
" Kita harus pulang kembali ke Milan. Di sini bukan tempat kita. Jadi kita akan pulang nanti siang,kamu tidak keberatan, bukan? " tanya Gabriel hati hati,takut kalau Zihan menolak kembali.
Namun ke khawatiran Gabriel lenyap seketika di saat Zihan mengangguk sambil tersenyum.
Zihan tidak mau mengulang kebodohannya lagi,apalagi sampai berkali kali. Sungguh Zihan menyesal dengan kelakuannya sendiri.
Sedangkan Rafael meminta suster untuk membantunya duduk di kursi roda. Ia berniat menemui Zihan,meskipun harus bertemu dengan Gabriel juga ,tapi niatnya tidak akan berubah.
Namun saat Rafael masuk ke ruangan Zihan. Ruangan tersebut sudah rapi dan tak ada yang menempati.
Sepuluh menit sebelum Rafael tiba,Zihan yang sudah di periksa kesehatannya dan di perbolehkan pulang oleh dokter pun memilih pulang.
' shit....aku terlambat. Namun akan ku pastikan,suatu saat aku akan menemui dia dan merebutnya dari mu ' Batin Rafael.
Sedangkan di perjalanan,Zihan menyandarkan kepalanya di pundak Gabriel. Jari mereka pun bertautan satu sama lain. Bahkan sesekali Gabriel mencium puncak kepala Zihan.
" Aku mencintaimu,Sangat " bisik Gabriel tepat di telinga Zihan.
Zihan tersenyum lalu mendongakkan kepalanya. " Terimakasih " jawab Zihan.
Zihan tidak akan membalas ucapan Gabriel di saat hatinya masih terasa bimbang. Biarkan saja dia memantapkan hatinya,untuk lebih menyadari perasaannya.
__ADS_1
" Papi juga sayang kamu,Nak " ucap Gabriel sambil sesekali mengusap perut Zihan.
Hatinya menghangat di saat tangan Gabriel mengusap perut istrinya. Ada rasa tidak percaya dalam hati Gabriel. Bahwa Zihan menerima Gabriel melalui kehadiran anaknya.
*
Kurang lebih 7 jam perjalanan, Gabriel dan Zihan tiba di mansion Gabriel. Di sana terlihat beberapa maid berjejer menyambut kedatangan majikannya.
" Selamat datang kembali,Tuan dan Nona " ucap mereka serempak.
" Hm.. " balas Gabriel.
Dia melingkarkan tangan kanannya di pinggang Zihan posesif. Sedangkan Zihan sendiri hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Gabriel.
Mereka berdua telah sampai di dalam kamar mereka. Kamar yang Gabriel desain ulang sedemikian rupa,hanya untuk kenyamanan sang istri.
" Aku mandi dulu,kamu istirahatlah " ucap Gabriel.
Namun di saat Gabriel melangkah,Zihan memegang erat pergelangan tangan Gabriel.
" Bisa kah,Om membantuku mengganti perban ini sebelum mandi? " pinta Zihan membuat Gabriel mengurungkan niatnya.
" Baiklah,Sayang " ucapnya sambil berbalik dan mengambil kotak P3K yang selalu Gabriel simpan.
" Jangan berbuat begini lagi,luka ini membuat dadaku sesak. Kamu itu jangan selalu membuat hal yang ekstrim ketika pikiran dan hatimu tidak sejalan,apa lagi sekarang lagi mengandung buah hati kita. Aku tidak mengijinkan " kata Gabriel membuat Zihan terdiam.
" Aku minta maaf.. Aku janji tidak akan berbuat begini lagi " ucap Zihan perlahan.
" Baiklah. Beres " kata Gabriel.
Setelah itu Gabriel bangkit dan menyimpan kembali kotak P3K ke tempat semula.
" Apa gak sebaiknya kamu mandi dulu. Biar Om bantuin sekalian mandi bareng " kata Gabriel membuat wajah Zihan merah merona.
" Om,saja duluan. Nanti Zihan mandi sendiri " ujar Zihan.
" Baiklah,Sayang... "
Gabriel berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Zihan yang kini mulai merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Entah keputusanku benar atau bukan. Yang jelas,aku tidak mau membunuh anakku sendiri,darah daging sendiri.Dan aku selalu merasa nyaman di saat bersama dia.
Ketika Gabriel keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap di tubuhnya ,dia tersenyum melihat wajah polos Zihan yang sedang tertidur.
Sebelum mendekati istrinya yang sedang tertidur. Gabriel berjalan mengambil ponsel di atas meja rias istrinya. Untuk sejenak dia mengirim pesan untuk Peter.
Setelah selesai dia mendekati Zihan lalu merebahkan tubuhnya di samping Zihan. Memeluk tubuh mungil Zihan,sambil mengelus perut Zihan hingga Gabriel tertidur.
^
Pagi pagi sekali Gabriel terbangun karena merasa mual dan pusing yang bersamaan. Dengan cepat dia berjalan dan memuntahkan isi perutnya di wastafel.
Tubuhnya yang kekar mendadak lemas tak bertenaga. Wajahnya pucat serta keringat mengucur di pelipisnya. Untuk sesekali dia memegang tembok kamar mandi hanya untuk menopang tubuh lemasnya.
Zihan yang mendengar Gabriel muntah terus di kamar mandi, segera bangun dan menyusul Gabriel ke kamar mandi.
Zihan mematung melihat keadaan Gabriel. Ada rasa bersalah dalam hatinya. Seharusnya dialah yang merasakan morning sickness itu bukan suaminya.
Zihan mendekat lalu mengusap punggung Gabriel,mencoba menyalurkan kekuatan untuk Gabriel.
Sedangkan Gabriel,dia tersenyum teduh di saat Zihan memberi perhatian untuknya.
****Papi rela menderita seperti ini. Asalkan kamu baik baik saja, juga Mami kamu seperhatian ini pada Papi. Papi akan menahan semuanya,demi kamu dan Mami kamu****
" Apa masih mual? " tanya Zihan.
" Sedikit " balas Gabriel.
Zihan memapah tubuh Gabriel dan membantu menidurkan tubuh Gabriel.
" Istirahatlah " ucapnya
" temenin aku di sini. Ku mohon " pinta Gabriel.
Dengan cepat Zihan menganggukkan kepalanya.Dan berbaring di samping Gabriel yang sedang tertidur. Sungguh tiada hari bahagia untuk Gabriel selain mendapat perhatian dari Zihan.
" Terima kasih,Sayang " ucapnya.
Setelah itu Gabriel memejamkan matanya kembali,sambil memeluk tubuh mungil Zihan. Zihan pun ikut menajamkan matanya di atas dada bidang Gabriel. Mereka tertidur kembali sampai matahari memasuki celah gorden kamar mereka.
__ADS_1
◇◇◇◇
Bersambung...