Om Ku Suamiku

Om Ku Suamiku
Masa lalu


__ADS_3

" Mom,Dad " kata Zihan.


Zihan mencoba menetralkan jantungnya yang kian berdegup kencang.


" Apa kabar,Mom,Dad? " kata Zihan.


Dia semakin mendekat,mencium tangan Hito dan Erina bergantian.


" Kami,baik - baik saja. Kamu apa kabar,Nak?. Kemana saja,tidak menghubungi Mom and Dad lagi? " tanya beruntun Erina,membuat Zihan melirik Gabriel yang kini menatapnya dengan tatapan datar.


Gak ngerti banget sih ' batin Zihan.


" Zihan sibuk kuliah,Mom. Maafin Zihan ya.. "


" Dengar,Nak.Sesibuk apapun kamu,seharusnya luangkan sedikit waktu mu untuk kami " kata Hito mencoba memahami putrinya.


" Maafin Zihan " katanya sambil menjewer kedua telinganya sendiri setelah melepas pelukannya dari Erina.


" Baiklah. Kami akan memaafkanmu "ucap Hito beralih memeluk putrinya.


Sementara Gabriel sendiri tersenyum ketika dia sedang melihat tingkah istrinya yang kini telah bertingkah manja pada Erina.


" Kalau begitu,aku mau mengerjakan tugas kantor dulu, kak. Kalian nikmatilah waktu kalian " ucapnya pada Hito dan Erina.


" Gak ngantor,briel? " tanya Hito tiba - tiba di saat Gabriel berbalik dan melangkahkan kakinya menuju lantai atas.


" Gak,kak. Aku merasa lelah hari ini, dan aku juga sudah meminta asistenku untuk mengurus kantor sementara waktu " jawab Gabriel.


" Istirahatlah " ucap Hito.


Gabriel tersenyum,lalu mengangguk. Dia memilih meninggalkan kakaknya beserta istri yang amat sangat dia sayangi.


^


Sementara di dalam ruang kerja Gabriel di lantai atas. Dia termenung sambil mengingat kejadian di mana ia harus meninggalkan negara di mana Erina dan Hito tinggal karena paksaan dari Nyonya Lucia ( ibu Gabriel ) yang memintanya mengikuti semua perintah dari Lucia.


Delapan belas tahun yang lalu...

__ADS_1


Lucia beserta Marcel Zito mengungkap sebuah pernyataan yang mengejutkan Gabriel. Di saat mereka meminta Gabriel untuk meninggalkan Erina bersama Hito ke Milan. Namun saat itu,Gabriel menolak untuk ikut karena rasa sayangnya pada Zihan mulai muncul.


Dia memilih berdebat dengan Lucia dan tak menghiraukan perkataan Lucia. Bahkan ketika Marcel mengikuti langkah Lucia,pendirian Gabriel tetap tidak goyah. Dia semakin menginginkan untuk tinggal dan memilih dekat dengan Hito dan Erina.


Tak sampai di situ saja,Gabriel bahkan sempat tidak ingin menemui Lucia beserta Marcel selama dua minggu lamanya.Dia selalu menghindar dari orang yang menyuruh Gabriel meninggalkan Zihan. Siapa pun itu,tidak ada yang bisa membuat Gabriel merubah keputusannya.


Sampai tiba saatnya Marcel meminta Gabriel menemuinya secara pribadi di kantor milik Marcel pada jam makan siang.


" Sebenarnya,apa yang Papi inginkan dari Gabriel? " pertanyaan pertama yang Gabriel lontarkan pada Marcel.


" Mari kita buat kesepakatan. Dan kesepakatan ini hanya kita berdua. Yang penting,kamu harus ikut Papi ke Milan bersama Mami " ucap Marcel memberi penawaran yang entah apa.


" Kesepakatan apa lagi? " tanya Gabriel dingin.


Bahkan terlihat dari sorot matanya bahwa Gabriel tidak akan bertindak bodoh untuk sekedar menyanggupi kesepakatan antara dirinya dan Marcel.


" Sebelum kamu mengetahui kesepakatan apa yang Papi ajukan untukmu. Kamu juga harus mendengar cerita Papi "


" Apa lagi ? Tolong jangan buang waktu Gabriel lagi " ucap Gabriel kesal.


" Erina bukanlah kakak kandung kamu " kata Marcel.


" Jangan bohong,Pi ?. Kak Erina,Kakak Gabriel kan?. Mana mungkin dia bukan kakak Gabriel!! " ucapan Gabriel terdengar pilu di telinga Marcel.


Namun itulah kenyataannya. Bahwa Erina dan Gabriel bukanlah kakak dan adik kandung dari Lucia dan Marcel,melainkan anak dari teman masa lalunya bernama Viktor.


" Duduklah. Dan dengar cerita ini selanjutnya "


Meski ragu,namun Gabriel masih merasa sangat penasaran dengan perkataan Marcel. Akhirnya dia duduk kembali sambil bersender dan melipat kedua tangannya di dada.


" Erina itu anak perempuan dari Viktor dan Ishita. Orang tua Erina meninggal dunia di saat Erina masih kecil. Dan pesan terakhir dari Viktor sebelum dia menghembuskan nafas terakhir adalah meminta Papi untuk menjaga Erina. Menjaga Erina sampai dewasa dan mengenalkan pada dunia bahwa dia itu anak gadis Papi "


"..... Dan saat itu pula,Papi dan Mami belum memiliki anak. Kami bahagia dengan kehadiran Erina di tengah - tengah kami. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk mengangkat Erina menjadi anak kami " jelas Marcel pada Gabriel.


Gabriel diam mematung,dia benar benar tidak mengira bahwa kakak yang selama ini berbagi kasih sayang dengannya bukanlah kakak kandungnya.


" Lalu apa kesepakatannya? " tanya Gabriel di saat pikirannya kembali tenang.

__ADS_1


" Aku akan mengabulkan keinginan kamu untuk memiliki putri Erina,akan tetapi semua itu akan terjadi di saat gadis kecil itu berusia 18 tahun. Syaratnya,kamu harus ikut dan tinggal menetap di Milan. Menemani Papi dan Mami di masa tua juga menjalankan perusahaan Papi di sana " ucap Marcel membuat wajah remaja Gabriel terlihat dilema.


Setelah menimbang beberapa menit yang lalu akhirnya Gabriel setuju. Dia berjanji tidak akan memperlihatkan rasa cintanya sebelum gadis kecilnya layak menjadi seorang istri dan ibu dari anak nya.


^


Gabriel tersadar dari lamunannya, di saat Zihan menepuk pundaknya sambil membawa segelas coklat panas di tangannya.


" Kenapa dari tadi bengong terus,nanti kesambet baru tahu rasa,Om " omel Zihan membuat Gabriel tersenyum bahagia.


" Makasih,Sayang " katanya di sana segelas coklat itu mendarat di meja, depan wajahnya.


Bukannya menanggapi ocehan Zihan, Gabriel memilih tersenyum. Dia amat sangat bahagia mendapat perlakuan istimewa dari Zihan.


" Mom and Dad kemana? " tanya Gabriel.


" Mereka ku suruh istirahat di ruang tamu " balas Zihan.


" Baguslah " kata Gabriel.


Zihan tersenyum, bagaimana pun Zihan tahu,bahwa Gabriel tidak ingin hubungan mereka di ketahui sekarang. Begitu pun dengan Zihan. Dia belum siap melihat kekecewaan serta rasa malu pada kedua orang tuanya.


Bagaimana pun hubungan mereka saat ini sangat tidak baik untuk di dengar semua orang. Selain orang yang tahu bagaimana Gabriel memperjuangkan cintanya pada Zihan sejak awal.


Gabriel berdiri dan berjalan mendekati Zihan. Dia duduk tepat di samping Zihan lalu menggenggam kedatangan Zihan lembut.


" Tolong jaga anak kita. Jaga juga kesehatan kamu. Karena selama ada Mom and Dad di sini,mungkin kebersamaan kita akan berkurang " ucap Gabriel. " Om gak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kalian " lanjutnya sambil mencium punggung tangan Zihan.


Zihan hanya tersenyum menanggapi perkataan suaminya. Ada rasa gemas dan ingin menggigit suaminya,kalau melihat tingkah Gabriel saat ini.


" Aku janji akan jaga dia. Bagaimana pun,dia juga anakku " kata Zihan membuat Gabriel tak sabar lalu mencium kasar bibir Zihan.


Selang beberapa menit,barulah mereka melepas pugutannya. Untuk sesaat mereka terdiam sambil menetralkan jantung mereka.


" Sedang apa kamu di ruang kerja Gabriel,Zihan? "


^

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2