Om Ku Suamiku

Om Ku Suamiku
Kesedihan Gabriel


__ADS_3

Pagi hari di Roma...


Gabriel telah sampai di Roma tepat sepuluh menit yang lalu. Dia kini berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh Koko.


" Kita kemana,Tuan ? " tanya Koko.


" Bawa aku ke Rumah Sakit Holy Spirite " perintahnya.


" Baik "


Sebenarnya sedari tadi Gabriel merasa mual, kalau harus terus menerus berada di dalam mobil. Namun kali ini dia memilih untuk menikmatinya.


Sebelum berangkat,Gabriel berkonsultasi dahulu pada Dr. Harry. Dia terkejut di saat Dr.Harry membeberkan bahwa Gabriel mengalami morning sickness. Dan itu hal wajar untuk seorang suami di saat istrinya sedang mengandung.


' Papi akan bertahan menjalani ini baby. Papi rela,demi kamu. Yang penting kamu sehat dan baik baik di dalam perut ibumu '


gumam Gabriel



Sedangkan sedari kemarin,Zihan belum sadarkan diri dan telah di nyatakan koma.


Rafael sangat tersiksa di saat dokter itu memberitahukan kondisi Zihan. Dia merasa bersalah karena tidak becus menjaga Zihan.


Dokter juga mengatakan bahwa kondisi Zihan sangat buruk,akibat tidak adanya makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Di tambah ia sedang hamil muda,dan kandungannya masih sangat rentan.


Kyle yang sedari kemarin menemani Rafael hanya berdiam pasrah. Di sisi lain dia amat kasihan dengan Rafael,namun di sisi lainnya dia amat kesal dengan Zihan yang sudah membuat Rafael tidak memperdulikan kesehatan dan pekerjaannya.


" Makanlah dulu lah,Kak. Jangan menyiksa dirimu " Perintah Kyle.


Dia akan memanggil Rafael dengan sebutan " Kakak " di saat mereka sedang mengkhawatirkan satu sama lain.


" Tapi aku gak lapar,Kyle " jawab Rafael yang masih setia memegang tangan Zihan dan sesekali mengecupnya.


" Berhenti bersikap kekanakan,Kak. Nanti ibu dan Ayah marah padaku " kata Kyle memelas.


" Kamu cerewet sekali " ujar Rafael kesal. " Ayo lah " ajaknya kemudian. Lalu Rafael berlalu pergi bersama Kyle. Meninggalkan Zihan yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri.


Sebelum Rafael berlalu,Rafael meminta salah satu suster untuk menjaga Zihan selama dirinya dan Kyle pergi.


" Tolong jaga dia untukku,Sus. Segera hubungi aku kalau ada sesuatu yang terjadi padanya " perintah Rafael.

__ADS_1


" Baik,Pak "


Setelah Rafael pergi menuju restoran depan Rumah sakit,Gabriel tiba dengan Koko di loby Rumah sakit. Gabriel sudah tak sabar ingin menemui istrinya. Rasanya dia sudah tak sabar ingin segera memeluk tubuh istri yang kini sedang mengandung benihnya.


' Aku datang,Sayang... tunggu aku.. Papi datang,Nak ' gumam Gabriel dalam hatinya.


Terlihat senyum cerah di bibir Gabriel.


" Tuan,menurut informasi nona Zihan ada di lantai 3 rumah sakit ini, tepatnya di kamar no 306 " ucap Koko.


" Apa itu akurat? " tanya Gabriel memastikan.


" Tentu tuan,dan saya sudah memastikan semuanya "


" Bagus. Kita harus segera ke sana " ujar Gabriel berjalan tergesa.


Ketika Gabriel tepat di depan pintu ruang inap no 306 itu,dia berdiri mematung untuk sesaat. Meredakan getaran di dada Gabriel.


Ceklek..


Pintu itu Gabriel buka dan terlihatlah seorang wanita yang selama ini di rindukannya. Zihan terbaring dengan berbagai alat di tubuhnya. Sungguh,dada Gabriel sangat sesak melihat keadaan istrinya. Dia tak pernah bermimpi akan melihat orang yang dia cintai terbaring lemah di brankar rumah sakit.


" Sayang... " katanya,dengan nada yang gemetar.


Koko yang melihat majikannya sangat terpukul,membuat Koko ikut merasakan kesedihan majikannya.


" Maaf,Tuan siapa? " tanya suster yang tadi di tugaskan Rafael menjaga Zihan,di saat dia masuk ruang rawat Zihan.


Koko dan Gabriel menoleh bersama,


" Dia adalah suami pasien, Sus " kata Koko.


" Suami?. Jangan ngaku yang tidak tidak deh,Pak. Suami nona ini tadi sedang keluar,dan dia menugaskan saya untuk menjaga Nona ini " beber suster itu.


" Ini buktinya " ucap Koko sambil menyerahkan dua buah buku nikah milik Zihan dan Gabriel .


Suster itu diam mematung . Sebenarnya yang mana suami nona ini? pikir suster itu.


" Baiklah. Silahkan " ujar suster itu.


Dia memilih untuk mundur,dari pada membuat keributan hingga membuat pasien lain marah.

__ADS_1


Dengan langkah perlahan, Gabriel mendekati Zihan. Di ciumnya kening Zihan penuh cinta. Lalu,di lihatnya pergelangan tangan Zihan yang masih terbalut perban.


" Ada yang terjadi denganmu, Sayang? " ucap Gabriel.


Kini Gabriel turun melirik perut rata Zihan. Di usapnya perut itu perlahan. Dia tidak percaya bahwa di dalam perut istrinya kini hadir calon buah hatinya. Yang akan mengikat pernikahan Gabriel dan Zihan.


" Tumbuh dengan sehat,,Nak. Papi menunggu kehadiranmu " katanya lalu mencium perut rata yang tertutup oleh selimut dan baju.


" Bangunlah... Kamu harus sadar,demi anak kita. Aku mohon " ucap Gabriel memegang lembut tangan kanan Zihan.


Kini air mata Gabriel tak dapat di bandung lagi. Sakit rasanya melihat istri tercintanya tidak merespon.


Di sisi lain,Koko melihat setiap tingkah Gabriel. Ada rasa tidak percaya,bahwa lelaki yang selama ini di kenal dengan sebutan kejam tak tersentuh bisa dengan mudah menangis hanya karena seorang Zihan.


Koko harap,Zihan dapat membalas perasaan tulus Gabriel. Dan selalu menjadi penenang di saat amarah Gabriel memuncak.


' Semoga nona cepat sadar. Kasihan Tuan,baru kali ini tuan serapuh ini ' batin Koko.


" Sayang bangunlah...Aku mohon.. "


Berkali kali Gabriel memohon dalam tangisnya. Berharap ada keajaiban yang dapat mengembalikan kesadaran Zihan.


Sedangkan di lain tempat,Rafael dan Kyle telah selesai sarapan bersama.


" Aku balik kantor langsung,Bos " ucap Kyle sambil melihat jam tangan di pergelangan tangannya.


" Pergilah. Kalau ada hal yang mendadak,segera hubungi aku " kata Gabriel.


" Okey,Bos... "


Setelah itu Kyle pergi dari hadapan Rafael. Begitupun Rafael,setelah membayar tagihan makanan dia pun berlalu pergi dari restoran tersebut.


Ada sedikit perasaan tidak nyaman di hati Rafael. Namun entah kenapa perasaan itu hingga muncul secara mendadak.


" Kamu siapa? "



Apa yang akan terjadi ketika Gabriel dan Rafael ketemu ya...


ikuti terus kelanjutannya...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2