
Setibanya Zihan di Bandara Internasional Malpensa. Ia segera menghubungi Gabriel untuk menjemput ia di Bandara.
" Hallo,Om. Aku sudah sampai nih " Ucap Zihan.
" Iya,Om akan sampai sebentar lagi "
Setelah itu Zihan menutup telponnya sepihak.
Gabriel yang mendapat kabar bahwa Zihan telah sampai membuat dia kalang kabut tak menghiraukan jalanan yang kala itu sedang ramai. Bahkan sopirnya pun tak lepas dari amukannya.Fikirannya hanya Zihan.
10 menit berlalu,Gabriel tiba dengan napas terengah engah. Matanya menyapu seluruh tempat duduk di bandara. Fikirannya menginginkan Zihan datang,berlari dan langsung memeluknya. Memberikan ciuman hangat untuk pertemuannya setelah beberapa tahun tak jumpa. Sungguh Gabriel mampu menjadi kucing yang patuh pada majikannya jika dia berhadapan dengan Zihan. Otaknya pun selalu tak sejalan jika menyangkut Zihan.
Sopir yang sedari tadi mengikutinya pun hanya menghela napas berat. Melihat tingkah Gabriel yang seperti orang kesurupan. Bukan Gabriel yang penuh dengan wibawa dan sifat angkuhnya.
Punya majikan satu,anehnya gak ketulungan.
Lama Gabriel berputar putar,sampai matanya menajam menatap seorang gadis yang sedang memainkan ponselnya sambil tertunduk. " Ketemu " Batin Gabriel.
Senyum mengembang dari sudut bibirnya.
" Sayang..,maaf om telat "
Setelah gabriel di hadapan Zihan. Zihan yang menyadari kehadiran Gabriel tersenyum menatap Gabriel. Tentu tatapan Zihan membuat getaran di dada Gabriel semakin membuncah. Hatinya yang selama ini menginginkan Zihan bertambah semakin dalam. Bahkan sisi lain Gabriel pun ikut beraksi.
" Akh sayang... Aku sudah gak tahan ingin memilikimu " Hati dan fikiran Gabriel bersahutan.
Di tambah dengan dandanan Zihan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya walau berbalut celana jeans dan sweter tebal. Apalagi dengan rambut yang di cepol dan menyisakan sedikit rambut di bagian depan telinganya. Memperlihatkan leher mulus jenjangnya. Membuat keseksian Zihan bertambah.
Tanpa persetujuan Zihan,Gabriel menggendong Zihan. Menempatkan tubuh Zihan di pundaknya. Zihan yang mendapat perlakuan secara tiba tiba dari Gabriel sontak terkejut dan berontak.
" Om,turunin Zihan ,Om. Ada apa dengan,Om ? Malu om di lihat orang " teriak Zihan yang tak di hiraukan Gabriel.
Sopir Gabriel dengan segera menyeret koper perlengkapan Zihan yang di tinggal. Sedikit berlari menyusul langkah majikan gilanya. Sesekali meminta maaf atas tingkah Gabriel yang sudah membuat keributan.
Gabriel tak melepas tangannya dari Zihan. Sejak masuk mobil,Gabriel bahkan mendudukan Zihan di pengakuannya. Jangan berfikir Zihan menikmatinya. Justru ia menangis terisak dan semakin berontak,takut dengan sikap dan kelakuan Gabriel yang tidak terkendali.
" Om,Om ini kenapa?. Kenapa Om memperlakukan Zihan seperti ini ?" Zihan berteriak bahkan memukul dada Gabriel berkali kali.
__ADS_1
" Ini bentuk kasih sayang,Om padamu sayang. " hanya kata kata itu yang selalu Gabriel berikan atas semua pertanyaan Zihan.
Sopir Gabriel tak mampu berkata apalagi bertindak di sepanjang perjalanan. Karena sedikit saja salah melangkah,bukan hanya pekerjaan yang jadi jaminan. Namun nyawa pun bisa melayang.
••••
Sesampainya di rumah Gabriel,Gabriel menggendong Zihan yang tertidur akibat kelelahan. Lelah dengan perjalanan dan lelah akan sikaf Om nya sendiri yang membuat Zihan tak bisa berfikir.
Seisi rumah di buat ricuh dengan kehadiran Gabriel yang tiba dengan menggendong seorang wanita berjalan menuju kamarnya.
Siapa wanita itu?
(Pertanyaan semua pelayan )
" Kamu sangat cantik,sayang. Dan kamu milikku,hanya milikku " gumam Gabriel sambil mengecup kening Zihan setelah merebahkannya di atas kasur empuknya.
Kini matanya beralih melirik bibir seksi milik Zihan. " Damnt it !!!! Kamu sungguh menggoda birahiku sayang " Ucap Gabriel.
Karna Gabriel tak ingin membuat kesalahan,dengan cepat Gabriel keluar dengan muka yang memerah menahan hasratnya.
" Baik,Tuan. "
Setelah kepergian Koko,Gabriel menyuruh supir yang menyeret koper Zihan untuk menyimpannya di dalam kamar Gabriel.
Di luar salju semakin turun deras. Gabriel memilih untuk di rumah hari ini. Dia berjalan menuju ruang kerjanya. Mengerjakan pekerjaan dari rumah. Sebelum itu tak lupa Gabriel meminta di buatkan coklat panas kesukaannya.
" Peter, kirim berkas yang harus saya periksa ke email saya " Pinta Gabriel lewat telepon pada kepercayaan serta sahabatnya.
" Siap,BOS!!! "
Sambil menunggu kiriman email dari Peter,Gabriel membaca laporan keuangan dan pengeluaran dalam satu bulan ini. Dia sangat teliti ketika memeriksa sesuatu yang menyangkut perusahaan,baginya sedikit saja kesalahan yang karyawannya lakukan akan membuat mereka semua dalam masalah. Jadi dengan sigap Gabriel selalu mengantisipasi nya.
" Tuan ( tok tok tok) coklat panasnya " Koko datang membawa segelas coklat panas. Di taruhnya di hadapan Gabriel " Saya undur diri tuan " pamitnya.
" Koko, " Koko pun menoleh. " Nanti kalau Zihan sudah bangun beri dia makan, jangan biarkan dia kelaparan atau kelelahan " tegasnya.
Setelah mengangguk paham,Koko keluar.
__ADS_1
Di dalam kamar,Zihan terbangun. Matanya mengerjap mengumpulkan sebagian nyawa yang hilang. Di lihat nya,kamar bercat putih dengan tataan yang pas dengan kaca besar memperlihatkan keadaan luar yang sedang turun salju.
" Sudah bangun,Sayang " sapa Gabriel yang tiba tiba datang tanpa mengetuk pintu dia masuk. Berjalan ke arah Zihan.
" O,Om.. !! " Zihan tergagap. Mengingat memori kejadian tadi pagi yang di lakukan Gabriel berputar kembali. Sungguh hati Zihan saat ini takut. " Om Gabriel ternyata orang yang seperti ini. Tapi kenapa bersikap aneh padaku? Aku kan sepupunya " Batin Zihan bertanya.
" Bagaimana tidurnya,sayang? " tanya Gabriel sambil duduk di tepi ranjang. Zihan yang merasa takut pun mundur namun telat. Gabriel sudah memegang tangannya. Menatap Zihan dengan tatapan tidak suka.
" Nyenyak,Om " jalas Zihan. Keringat Zihan bercucuran. Nampak jelas terlihat oleh Gabriel yang menyadari kegelisahan Zihan.
" Kenapa, sayang? " tanya Gabriel sambil mengusap keringat Zihan di dahinya. " Kamu jangan takut, Om gak akan melukaimu,sayang " kata Gabriel dengan nada lembut.
" Zihan,asal kamu tahu. Om,sayang sama kamu. Om bahagia kamu akan tinggal di sini,karna om bisa selalu dekat denganmu." lanjut Gabriel.
Untuk sesaat Zihan tertegun dengan kata kata yang terucap dari mulut Gabriel.
" Ma,maksud Om ? " tanya Zihan.
Kini Gabriel melepas cekalan tangannya. Beralih menangkup pipi Zihan dengan kedua tangan. Tatapan matanya mulai meredup,memperlihatkan tatapan penuh cinta.
" Entah kamu percaya atau tidak Zihan. Namun,Om selama bertahun tahun menginginkanmu. Tepatnya,Om mencintaimu. Terserah,kamu akan percaya atau tidak. Tetapi,Om benar benar menginginkan kamu, Sayang. Rasa ini mungkin tak pantas,tetapi Om tidak bisa menyembunyikan lagi setelah bertemu kembali denganmu. " Ucap Gabriel yang berhasil membuat mata Zihan terbelalak.
" Jangan bercanda,Om? " sangkal Zihan. Jantung Zihan berontak saking tak percaya akan kenyataan di hadapannya. Baru saja berjumpa dengan adik bungsu dari ibunya itu tetapi sudah mampu membuat Zihan ketakutan.
" Om tidak bercanda,Sayang "
dreet...dreet...dreet...
Suasana mencekam itu teralihkan dengan ponsel Zihan yang bergetar di dalam saku celananya. Di lihatnya siapa yang memanggil " Frans " . Gabriel yang ikut melihat ponsel Zihan mengeraskan rahangnya. Api cemburu dalam jiwanya bangkit tak dapat di sembunyikan.
" Siapa Frans ? " tanya Gabriel dingin, yang sudah menatap Zihan dengan tatapan tajamnya.
" Te,Teman ,Om " kini rasa takut Zihan bertambah.
Baru panggilan itu akan di angkat oleh Zihan. Dengan sigap Gabriel merebut handphone Zihan dengan sekali tarikan. Melempar handphone Zihan ke lantai sampai tak berbentuk. Lalu naik ke ranjang dan menindih tubuh Zihan.
" Apa yang Om lakukan ? "
__ADS_1