Om Ku Suamiku

Om Ku Suamiku
Keraguan Zihan


__ADS_3

Suasana di dalam kamar kembali sunyi. Zihan dan Gabriel sama-sama berperang dengan pemikiran mereka. Entah apa yang mereka fikirkan!,namun tatapan penuh cinta di mata Gabriel tak lepas dari sosok Zihan.


" Bicaralah " Zihan membuka percakapan.


" Apa yang harus,Om bicarakan,Sayang... " jawab Gabriel dengan nada lembut " Om,hanya punya satu pertanyaan dan kamu punya hutang satu jawaban " lanjutnya.


" Zihan sudah lelah,Om" katanya sambil menghebuskan nafas panjang " Kalau memang Om mau menikahi Zihan,nikahi Zihan sekarang juga " lanjutnya.


" Gak ada lagi yang Zihan pertahankan. Harga diri Zihan yang selama ini Zihan jaga kini sudah tiada " ucap Zihan lagi.


" Maafkan,Om Zihan. Om gak berpikir panjang ... Sehingga membuat kesalahan yang fatal " kini tangan Gabriel menggenggam tangan Zihan makin erat. " Besok pagi kita akan menikah,sesuai keinginanmu. Sekarang makan dulu,minum obat dan tidurlah.." putusnya.


Setelah menyuapi Zihan,dan membantu Zihan membaringkan tubuhnya. Tanpa menunggu lama,Gabriel menghubungi Peter yang masih setia ngobrol dengan Koko.


" Kamu tolong urus segala keperluan untuk pernikahanku besok pagi " kata Gabriel setelah sambungan telponnya di angkat.


tut...


Tanpa menunggu jawaban,seperti biasa Gabriel langsung mengakhiri tlpn nya. Setelah itu pergi dari kamar Zihan setelah mengcium kening Zihan.


Sedangkan di sisi lain,sumpah serapah Peter lontarkan pada bos gesreknya itu sambil keluar dan mengerjakan perintah Gabriel.


"Ambillah nyawa bos ku, Tuhannnn... " teriak Peter dalam hatinya.


*****


Pagi pun tiba,sesudah sarapan sesuai dengan rencana, Zihan dan Gabriel akan pergi ke kantor catatan sipil.


" Apa kamu sudah siap,Sayang? " tanya Gabriel di balik pintu kamar Zihan setelah membukanya.


Terlihat Zihan lagi memakai sepatu.


" Iya,Om " jawabnya.


Dalam hati Zihan timbul keraguan. Bagaimana nanti dia akan menjalani pernikahannya. Sedangkan tak ada rasa cinta untuk Gabriel di hati Zihan. Apalagi kalau mengingat orang tuanya yang tahu dengan kondisi Zihan saat ini. Mereka selama hampir 2 minggu ini belum Zihan hubungi. Hati dan fikiran Zihan semakin sakit di kala mengingatnya.

__ADS_1


Namun semua di kalahkan dengan rasa takut yang selama ini Zihan fikirkan. Bagaimana kalau nanti membuat dia berbadan dua ? Setelah Gabriel tanpa ampun menjamah tubuhnya.?.


Zihan kembali termenung setelah memakai sepatu. Hingga membuat Gabriel menyerngitkan dahinya. Apa yang Zihan fikirkan sehingga dia malah termenung tak bergerak,fikir Gabriel.


Dengan perlahan Gabriel mendekati Zihan. Kemudian berjongkok,lalu mengelus pipi Zihan. Mengagetkan Zihan yang sedang asyik dengan dunianya.


" Om... " katanya tersentak kaget.


" Kanapa,hm? Apa sekarang berubah fikiran ? " tanya Gabriel. " Ingat,Zihan !! Aku melakukan itu tanpa pengaman. Bagaimana kalau benihku sudah berkembang di sini " lanjutnya sambil mengelus perut Zihan di balik dres yang di pakainya.


Zihan kaget dengan bahasa frontal yang selalu di lontarkan Gabriel. Selain itu sentuhan itu? kembali mengingatkan kejadian dimana Gabriel mengambil mahkotanya. Ternyata selain berwajah dingin,Om nya itu mesum juga fikir Zihan.


" Kita berangkat sekarang,Om ? " ucap Zihan mengalihkan pertanyaan Gabriel.


" Ayok " balas Gabriel sambil menggendong Zihan ala - ala bridal.


Zihan berontak, " Turunkan Zihan,Om. Apa - apaan ini ? Malu sama orang rumah " teriaknya.


Namun bukannya di lepas Gabriel malah mengeratkan pelukannya " Diam !!! " bentaknya. " Kamu baru sembuh,jadi gak boleh banyak gerak. Koko..... siapkan mobil sekarang" lanjutnya


♡♡♡♡


Selama perjalanan Zihan memandang samping jendela. Dirinya masih kesel dengan kelakuan Gabriel. Bisa bisanya Gabriel bertingkah memalukan di depan Koko. Walau Koko sendiri tak mempermasalahkan. Tetapi Zihan sungguh malu.


" Om,..." tanya Zihan sambil menoleh ke arah Gabriel.


" hm.. "


" Apa Zihan boleh telpon Mom and Dad ? " tanya nya hati hati,takut membangkitkan kemarahan Zihan.


" Mau apa ? "


" Zihan kangen.... "


" Boleh. Tapi dengan syarat,kamu jangan mengadu pada orang tua mu apa yang sudah terjadi di antara kita. Sampai nanti aku sendiri yang mengatakannya. "

__ADS_1


Glek..


Dengan susah payah Zihan menelan salivanya. Kemudian mengangguk tanda setuju.


" Baiklah, setelah kita pulang dari kantor urusan agama. Kita pergi beli ponsel untukmu " lanjutnya.


Tak lama mobil yang di tumpangi Zihan dan Gabriel berhenti. Mereka keluar lalu berjalan masuk dalam gedung kantor urusan agama.


Semua menatap Gabriel dan Zihan dengan wajah yang tak biasa. Lebih tepatnya menatap Gabriel. Ada rasa takut,cemas bahkan iri. Bagaimana tidak,seorang yang berpengaruh di kotanya datang dan berdiri di hadapan mereka.


" Maaf tuan Gabriel,ada yang bisa kami bantu ? " ucap salah seorang lelaki berumur sekitar 45 tahunan.


" Aku ingin menikah dengan kekasihku. Dan berkasnya tadi malam sudah di urus oleh asistenku ,bernama Peter. " ucap Gabriel.


" Oh,iya... Mari pak. Semuanya sudah beres tinggal menandatangani semuanya " balas nya.


Setelah Zihan dan Gabriel selesai menandatangani berkas pernikahan mereka. Kini mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.


♧♧♧


Sesuai perkataan Gabriel,kini sepulang dari kantor catatan sipil,dia akan membeli handphone yang sesuai dengan keinginan Zihan.


Di dalam mobil,tak henti hentinya Gabriel memeluk Zihan,bahkan sekali kali mencium pipi bahkan bibir Zihan,mengabaikan Zihan yang terus menerus protes.


" Kamu itu sekarang istriku,Zihan. Jadi jangan pernah menolakku. Karna semua ini milikku " ucapnya sambil tersenyum menyeringai.


Mungkin keputusan yang Zihan ambil ini tak sesuai dengan pikirannya. Sungguh Zihan di buat mati kesal oleh Gabriel.


" Cukup,Om. Zihan mohon.... " pintanya


" Baiklah. Tapi nanti malam aku akan mengambil jatahku " bisiknya.


cup...


sekali lagi Gabriel mengecup bibir Zihan. Tidak memperdulikan tatapan Koko yang hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Gabriel.

__ADS_1


__ADS_2