OM Yuan

OM Yuan
chapter 3


__ADS_3

Teeetttttttttttttt....


Bel tanda istirahat berbunyi,para siswa berhamburan menuju kantin sekolahan meski ada beberapa yang memilih berdiam diri di kelas.Naya masih membereskan buku-bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas.Seperti biasa,Rea dan ines berjalan menghampiri Naya dan duduk.


"Ke kantin yuk,sambil bahas ide gila kita,"ucap Rea bersemangat.


"Aku lagi males ke kantin,nih aku sudah membawa roti"Naya tersenyum sambil mengeluarkan roti dari tasnya.


"Esnya..?nggak seger kalau nggak ada es Nay.."protes Rea yang memang merasa mual jika meminum minuman yang tidak dingin.


"kamu beli di kantin donk..memangnya aku bisa bawa es dari rumah."jawab Naya melihat ke arah Rea.


"Maklum lah nay,si Rea kalau ngomong itu nggak pernah di pikir dulu."


"iya..iya maaf,"ucap Rea terkekeh.


"Sekarang..mending kamu ke kantin bungkus es nya terus kita makan di sini.."


"Kalian nitip apa?"tanya Rea melihat ke arah ines.


"aku teh manis saja,jangan lupa Re,es batunya banyakin biar seger."jawab ines tersenyum.


"aku samain aja Re,nih uangnya.."merogoh sakunya dan memberikan Rea pecahan uang dua puluh ribu.


"Udah nay..aku ada kok hehe,,emm..berarti tiga es manis ya..bentar ya...,"Rea setengah berlari keluar kelas.


"Anak itu kadang kalau ngomong nggak di pikir dulu ya,"


"mungkin udah bawaannya kayak gitu,"jawab Naya tersenyum.


"kemarin tidur nggak??"


"tidur jam 11 mungkin,aku juga nggak lihat jam waktu itu."jawab Naya menjelaskan.


"hah...jam 11??..biasanya tidur jam berapa memang?"tanya ines lagi dengan wajah kaget.


"antara jam dua sampai jam 4,"tersenyum ke arah ines.


"ya ampun nay,,pantesan setiap pelajaran kamu ngantuk,kenapa nggak sekalian saja bergadang haha.."


"pengennya sih tidur cuman emang nggak bisa nes..Mmmm terus idenya apa nes?katanya udah dapet?"tanya Naya merasa penasaran sebab sudah dari kemarin malam Rea memberitahukan hal itu.


"yang punya ide si Rea,aku juga penasaran kok."


"hm gitu,"Naya mengangguk dan maniknya menatap ke arah luar kelas.


10 menit kemudian Rea datang dengan membawa 3 bungkus es teh manis.Rea langsung duduk di hadapan Naya dan ines sambil menyeruput teh manis yang berada di tangannya.


"idenya apaan Re??"tanya Naya merasa tidak sabar.


"kirim surat saja,"jawab Rea tersenyum menatap kedua temannya.


"maksudnya Re?"imbuh ines.


"kita kan nggak punya kontak si target,terus...si Naya juga nggak berani ngomong langsung kan,jadi kita mengirim surat saja,"kata Rea dengan penuh semangat.


"aku malu ngasihnya Re.."protes Naya tidak setuju.


"bukan kamu yang ngasih Nay tapi aku,"menepuk lembut dadanya sendiri seolah sedang merasa bangga.


"ide bagus,,aku setuju,gimana nay?"imbuh ines yang ikut bersemangat.


"aku nggak bisa nulis surat gituan.."


"Ya ampun itu gampang,nih ada pemenang lomba pembuat syair cinta,"Rea terkekeh sambil menujuk ke arah ines.


"Sekate-kate kamu ya,"ines tersenyum mendengar lawakan Rea.


"Yang ngomong kan kamu sendiri..."


"Kalau kamu setuju,,,pulang sekolah aku buatin suratnya.."tanya ines melihat ke arah Naya seolah meminta persetujuan.


"aku sudah siapin kertasnya...yeaaaa,"teriak Rea sambil memperlihatkan kertas yang di bawanya.


Ada perasaan ragu dalam benak Naya saat ini.apa ini akan berhasil...Namun saat manik mata Naya melihat ke arah kedua temannya yang saat ini terlihat bahagia,senyum tipis pun menghiasi bibirnya,Naya mengangguk pelan membuat kedua temannya langsung memeluk Naya erat.paling tidak...aku sudah berusaha bukan...


***


Siang itu sepulang sekolah,Ines dan Rea tidak langsung pulang melainkan ikut kerumah Naya untuk menulis sepucuk surat cinta yang besok akan mereka berikan pada Taendra.Setibanya di rumah,Naya langsung mengiring kedua temannya ke kamar yang berada di lantai dua.Tidak lupa Naya menyuruh bik Ratih untuk menyiapkan beberapa cemilan juga minuman untuk kedua temannya.


"Nay sebagai seorang cewek kamu tuh cukup berani tinggal di sini sendiri,"ucap Rea sambil makan cemilan,sementara ines sibuk menulis surat.

__ADS_1


"Apa yang perlu aku takutin Re?ini rumah aku sendiri,aku lahir dan besar di sini,terus...apa yang harus aku takutin,"jawab Naya sambil membaca sebuah komik di tangannya.


"Rumah kamu tuh sepi banget mirip kuburan Nay,"memperlihatkan giginya.


"Mau gimana lagi Re,orang tua aku sibuk kerja,kalian kalau di suruh menginap juga nggak mau."


"aku sih yess..Ines yang nggak mau.."menujuk ke arah ines dengan isyarat mata.


"Mama aku itu kerja nay,terus aku punya adek yang harus aku jagain,ada pengasuhnya sih ,,cuman mama pengen aku tetep waspada,kan kamu tahu sendiri kalo pengasuh zaman sekarang tuh kadang jahat dan nggak bener kerjanya,"tutur Ines menjelaskan.


"Nggak semua seperti itu Nes,buktinya bik Ratih nggak gitu kok,dia sudah mengasuhku sejak umur aku 6 tahun sampai aku sebesar ini."tersenyum ke arah Ines.


"Ya itu keberuntungan mungkin Nay,terus bik Ratih pulangnya kapan kalau mama kamu jarang pulang gini?"


"Bibik jarang pulang Nes,soalnya semua anak bibik itu sudah berumah tangga,jadi bik Ratih pulang kalau mama ngambil cuti panjang,buat sekedar jenguk anaknya di kampung sih,terus dia balik ke sini lagi."kata Naya menjelaskan.


"Pasti kamu sudah dekat sama bik Ratih ya Nay?"


"Iya aku itu mirip anaknya bibik haha,tapi ya sudahlah aku mencoba ngertiin posisi orang tua aku,mereka kerja gitu kan demi aku juga."tersenyum ke arah Rea dan Ines.


"Good..."ines mengacungkan jempolnya."ini sudah selesai...,"meletakan selembar kertas surat di atas meja.


"Aku duluan yang baca,"Rea langsung mengambil kertas itu dan membacanya."Wooooaaaaaahhh....keren kamu nes,bagus di tambah banget,hati aku langsung tersentuh,"Rea memeluk erat kertas yang di bawanya.


"Coba lihat,"Naya mengambil kertas surat dari tangan Rea dan membacanya dengan wajah memerah."Anjjiiiiir Nes haha aku baca surat ini saja muka aku rasanya langsung panas,"ucap Naya tersenyum.


"oke kaaaannnnn..."ucap ines merasa bangga.


"Bagus banget,"jawab Naya tersenyum.


"Jadi Deal ya isi suratnya seperti itu?"tanya ines memastikan.


"Iya deal,"Naya memberikan surat pada Ines.


"Langsung aku masukin amplop hehe,"Ines memasukan surat tersebut ke amplop dan mengelemnya."Beressss...siap kirim,"memasukkan surat pada tasnya.


Rea beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu teras kamar Naya.Dia selalu penasaran dengan sebuah kamar milik tetangga Naya yang berhadapan langsung dengan kamar Naya.Rea begidik ngeri sebab rumah tersebut selalu terlihat kosong.


"Ehh nay...!"kata Rea berbisik.


"hmm ya.."


"Rumah itu sudah kosong sekitar 7 bulanan mungkin,aku juga nggak seberapa ingat Re."kata Naya menjelaskan.


"Ish... kamu nggak merasa takut Nay?Aku yang jarang kesini saja rasanya takut ngelihat kamar yang terasnya terhubung langsung sama teras kamar kamu Nes."


"Aku nggak pernah lihat apa-apa Re,kamu saja yang parno sendiri.."tersenyum ke arah Rea.


"Dulu rumah itu milik siapa sih Nay?"


"Pak prabu Re.."


"Kok bangunannya seperti itu nay?"Rea mengerutkan keningnya.


"maksud kamu bagaimana sih Re,aku nggak ngerti."


"Teras kamarnya kok dekat banget sama teras kamar kamu nay?Bukannya tinggal melangkah saja sudah langsung sampai di teras kamar kamu?"


"Ohh itu..."Naya tersenyum mengingat sebuah nama "Tania".


"Di tanyain malah senyum-senyum gitu aduuuh.."


"Aku dulu pernah punya teman namanya Tania,dia anak pak prabu,dulu kamar itu nggak deket banget seperti itu.Terus karena permintaan Tania,akhirnya teras kamar itu di bangun lebih dekat seperti itu,biar kalau kita main nggak pakai turun ke bawah.Tapi sayangnya mereka pergi nggak pamit dulu."kata Naya menjelaskan.


"Mungkin rumah itu berhantu Nay jadi mereka kabur."imbuh Rea yang lagi-lagi mengait-ngaitkan semuanya dengan mistis.


"kebanyakan nonton horor nih anak,"sahut ines menimpali.


"Tau tuh..."imbuh Naya tersenyum.


"Terus kenapa pindah tanpa pamit?kan mencurigakan.."


"Aku denger kabar sih pak prabu di mutasi perusahaannya ke Flores,jadi mau nggak mau mereka harus pindah ke Flores."


"hmm gitu,"Rea menganguk-anggukan kepalanya.


"Sudah sore Re, kapan-kapan kita main lagi,,aku takut mama marah kalau dia pulang kerja terus aku nggak ada di rumah."ines menghabiskan sisa sirupnya hingga tak tersisa.


"Ya sudah yuk aku anterin sampai depan."jawab Rea tersenyum.


Naya mengantarkan kedua temannya sampai ke depan rumahnya,Rea dan ines sempat melambaikan tangan sesaat sebelum sebuah taksi yang mereka naiki melaju meninggalkan rumah Naya.

__ADS_1


Saat Naya masuk dan menutup pintu pagar,Sebuah mobil mewah melaju masuk ke dalam pagar rumah yang hampir 7 bulan tidak berpenghuni.Karna merasa sangat penasaran,Naya pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke rumah,Naya malah menatap lekat ke arah mobil tersebut.Dia sangat ingin tahu seperti apa orang yang akan keluar dari mobil tersebut.Pintu mobil terbuka dan keluarlah seorang lelaki dari mobil itu,lelaki itu memakai baju serba hitam dengan masker yang menutupi wajahnya,hal itu membuat Naya tidak bisa melihat wajah pria tersebut.


Serem banget dandanan orang itu,mirip mavia saja pakai baju seperti itu..Naya mengumah serayap terus memandangi lelaki asing tersebut.


Lelaki tersebut sadar akan keberadaan Naya lalu berusaha menyapa Naya dengan melambaikan tangannya ke arah Naya.Mata Naya melotot saat dia menyadari jika lelaki itu melihat ke arahnya,bukannya membalas sapaannya Naya malah berlari ke arah pintu dan menutupnya keras.Brakkkkkkkk...!!!!


Lelaki tersebut terkekeh melihat tingkah laku konyol Naya.


"Kenapa dia malah lari?apa aku terlihat menyeramkan?sepertinya dia tinggal di sana,,lucu sekali..Astaga.."tersenyum di balik masker.


"Sore aden,"sapa mang Asep penunggu rumah.


"Sore juga mang"Yuan pun membuka maskernya dan tersenyum ke arah mang Asep.


"Gimana aden perjalanannya tadi?"tanya mang Asep ramah.


"Gampang kok mang nyarinya,buktinya saya sampai sini sore kan,"tersenyum ramah.


"Hmm syukurlah aden kalo gitu,semua ruangan sudah saya bersihkan termasuk kamar,jadi Aden bisa langsung istirahat,"ucap mang Asep ramah.


"Makasi ya mang Asep,,"


"Baik saya permisi dulu,tugas saya sudah selesai buat jaga rumah ini,"


"Maksud mang Asep,"


"Saya di suruh pak prabu jaga rumah ini sampai terjual,sekarang kan sudah jadi milik Aden,jadi tugas saya selesai,"ucap mang Asep menjelaskan.


"Jadi mang Asep mau ambil kerjaan lain gitu maksudnya?"tanya Yuan tidak paham.


"Siapa yang mau memperkerjakan orang tua seperti saya aden,"


"Hmm daripada mang Asep gag ada kerjaan,mendingan mang Asep kerja sama saya saja."


"Ya Tuhan ...serius Aden mau nawarin mamang kerja?"mang Asep merasa tidak percaya karena dia menyadari jika tubuhnya sudah tidak sekuat dulu.


"Mang Asep ngomong apa sih??"


"Mamang pikir Aden nggak bakal mau memperkerjakan orang tua seperti saya,"


"Ya sudah mulai besok mang Asep ke sini,bantu bersih-bersih kebun,em...terus Carikan saya asisten rumah tangga yang bisa beres-beres rumah sama masak, kira-kira ada nggak ya mang?"


"Kalo istri saya bagaimana Aden,dia dulu juga ikut pak prabu waktu rumah ini masih di tempatin,"kata mang Asep menyarankan.


"Hmm ya sudah mang,asal sedap masakannya,"tersenyum tipis.


"Insa'allah sedap Aden masakan istri saya,"


"Baik mang Asep boleh pulang sekarang,"mengambil dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang.


"Nggak usah Aden makasi,"mang Asep mendorong lembut tangan Yuan karena ingin menolak pemberiannya.


"Rezeki mang,buruan terima,"tersenyum ramah.


"Ya ampun makasi aden,"menerima sambil menundukkan sedikit punggungnya.


"Sama-sama mang,saya juga makasi sudah di bersihkan semuanya jadi saya bisa langsung beristirahat."


"Itu sudah tugas mang Asep aden.Ya sudah Aden,mamang permisi dulu."Mang Asep pun berjalan keluar pagar rumah yang sudah menjadi milik Yuan.


Jadi di sini Author jelasin ya๐Ÿ˜,,Yuan adalah teman baik dari pak prabu.


Yuan terpaksa membeli rumah itu karna pak prabu sangat membutuhkan uang jadi meskipun Yuan belum mengerti rumah itu seperti apa, Yuan tetap saja membelinya karena memang berniat membantu.


Yuan tersenyum senang karna melihat keadaan rumah yang memang masih sangat bagus,perabotan bahkan sangat lengkap jadi dia tidak perlu repot-repot membeli perabotan lagi.


"Tidak sia-sia aku beli rumah ini,padahal aku nggak pernah tahu rumah ini seperti apa bentuknya,tapi ya sudah buat pak prabu okelah.Ternyata rumah ini tidak mengecewakan,ini bahkan lebih bagus dari yang ku bayangkan,dan bonusnya...siapa gadis tadi??,"Yuan tersenyum mengingat sosok Naya yang terlihat masih seumuran dengan adek kesayangannya yang sudah meninggal 7 tahun silam.-


bersambung,-


haii readerrr..


jangan lupa like๐Ÿ‘


komen๐Ÿ’ฌ


klikโ™ฅ๏ธ


Vote Author juga biar author makin semangat dalam berkarya.. thanks ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™


love u All๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2