OM Yuan

OM Yuan
chapter 4


__ADS_3

Pukul 6 pagi..


Kamar naya


Suara ketukan dari balik pintu terdengar terus menerus,namun Naya makin mengeratkan pelukannya pada guling di sampingnya.Bik Ratih masih terus berusaha mengetuk sambil memanggil-manggil nama Naya lembut,karna jika bik Ratih tidak melakukan hal itu,Naya bisa terlambat masuk sekolah yang di mulai pukul tujuh pagi.


"Berisik banget sih...hooooaaammmm...masih malam juga ngapain bik Ratih ketuk-ketuk kamar aku gini"gumah Naya yang belum sadar karena rasa kantuk yang masih sangat terasa.


Ketukan itu terus terdengar sehingga membuat Naya terpaksa bangun meski dengan mata yang masih sesekali tertutup.Naya duduk serayap mengucek-ngucek mata yang terasa masih sangat berat.


"Non non Naya,"swara bik Ratih terdengar lirih memanggil,membuat Naya berdecak sambil berusaha berdiri.


"Iya bik sebentar..,"dengan terhuyung-huyung Naya pun berjalan menuju pintu dan membukanya,bik Ratih tersenyum ke arah Naya sambil memperhatikan Naya yang masih sangat berantakan."Ada apa sih bik malam-malam berisik banget,"ucap Naya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Non Naya nggak sekolah,"Tanya bik Ratih tersenyum lembut.


"Iya besok pagi sekolah kok bik."jawab Naya yang masih belum sadar.


Bik Ratih kembali tersenyum karena sadar jika Naya mengira jika ini masih malam hari."coba non Naya lihat jendela,masih gelap atau sudah terang.."


Naya melihat ke arah jendela samping dan terlihat cahaya matahari masuk di sela-sela tirai yang masih tertutup.


"Astagaaaaa bik...!! ini jam berapa bik??"Rasa kantuk Naya seketika hilang sirna.


"Jam 6 lebih 15 non,"jawab bik Ratih lembut.


"Aduuuhhh aku telat..!!,"Naya langsung berlari masuk ke kamar mandi tanpa menutup pintu kamarnya terlebih dahulu.Bik Ratih menarik nafas panjang sambil mengelengkan kepalanya melihat kelakuan Naya yang banyak berubah sejak menginjak SMA.


"Akhir-akhir ini non Naya sering bangun kesiangan ya,padahal biasanya dia rajin bangun bagi.Maklum lah,,nyonya sibuk terus sama kerjaanya.Kadang-kadang lihat non Naya itu kasian banget,kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tua.Dia sudah seperti anakku saja,nggak terasa non Naya sudah SMA ya..! Astaga..,bibik doain semoga non Naya selalu di beri kesehatan,"bik Ratih segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan buat Naya.


Naya menuruni tangga rumahnya dengan tergesah-gesah,dia berjalan ke arah bik Ratih yang sudah membawakannya segelas susu dan roti untuknya.Tanpa pikir panjang Naya mengambil gelas itu dan meneguk susu tersebut.


"Pelan-pelan non,nanti tersedak loh.."


Naya tidak memperdulikan ucapan bik Ratih dan menghabiskan susu dalam sekali nafas."Nih bik,"memberikan gelas kosong pada bik Ratih.


"Rotinya non,"ucap bik Ratih menyodorkan roti isi selai kacang coklat kesukaan Naya.


Naya langsung mengambil roti dari tangan bik Ratih dan berjalan keluar rumah dengan langkah cepat."Aku berangkat dulu bik,"Naya melambai tangan karena lupa untuk mencium tangan bik Ratih yang sudah di anggap nenek oleh Naya.


Saat Naya keluar rumah dengan keadaan yang sangat berantakan, bersamaan dengan Yuan yang sedang berada di luar rumah menikmati hangatnya mentari pagi.Pandangan Yuan langsung teralihkan saat melihat Naya meski hanya sekilas.Dan entah kenapa Yuan tersenyum melihat hal tersebut,ini adalah senyuman Yuan untuk pertama kalinya sejak tujuh tahun terakhir hidup tanpa sebuah senyum.


***


Pukul tujuh kurang 2 menit Naya tiba di gerbang sekolah yang hampir di tutup oleh satpam,dia kembali berteriak agar satpam tersebut tidak menutup pintu gerbangnya dulu."Astaga kamu lagi,"ucap satpam yang seringnya melihat Naya datang terlambat.


"Maaf pak aduuuh,"Dada Naya naik turun karena kehabisan nafas,sesekali dia mengusap keringat yang mengucur di seluruh wajahnya."Pak please izinin saya masuk,"ucap Naya yang tersendat-sendat.


kasian juga anak ini kalau aku suruh balik,setiap kali lihat anak ini,aku jadi inget anak aku...


"Ya sudah masuk saja,lagian masih jam tujuh kurang kok,"Ucap satpam tersenyum.


"Makasi banyak pak,permisi..."Naya pun menerobos masuk dan berlari ke arah kelasnya.


***


Rencana pun di jalankan,Rea berniat akan memberikan surat tersebut sepulang sekolah.Sementara Rea menunggu kedatangan Taendra di parkiran bersama Ines,Naya sendiri menunggu kedua temannya di sebuah pohon yang tak jauh dari tempat Rea dan ines berdiri.Jantung Naya berdetak tak beraturan saat Naya melihat sosok Taendra yang sudah berjalan ke arah parkiran.


"apa cara ini akan berhasil,"ucap Naya lirih dengan tangan yang saling mengengam erat.


Rea langsung berjalan menghampiri Taendra yang masih berada lumayan jauh dari tempat mereka berdiri.


"Siang kak,"sapa Rea ramah.


"Siang juga,"jawab Taendra tersenyum ramah


Siapa mereka?lihat wajah mereka saja sudah bikin aku langsung mual!.Runtuk Taendra dalam hati yang selalu tidak sama dengan kenyataannya.


"Ada perlu sama aku,"ucap Taendra mengimbuhkan.


"Aku cuman mau ngasih'in ini kak,"Rea mengulurkan tangan dan memberikan amplop berwarna biru muda ke hadapan Taendra.


"Ini apa?,"Taendra tidak langsung menerima amplop tersebut.


"Ini surat kak tapi bukan dari aku,emm temen aku malu mau ngasih surat ini sendiri."jawab Rea menjelaskan

__ADS_1


"Temen kamu yang mana?"imbuh Taendra lagi.


"Mendingan kak Tae terima dulu,nanti juga Tahu sendiri siapa yang ngasih,"memperlihatkan giginya.


"Hmm baik,"mengambil surat itu dari tangan Rea.


"Ya udah kak kita permisi dulu maaf sudah menganggu waktunya sebentar.."Rea tersenyum manis lalu menarik lembut tangan ines untuk segera pergi dari hadapan Taendra.


"Ada-ada aja sih,semoga saja yang ngirim surat cantik.."Taendra melipat surat dan menaruhnya dalam saku celananya karna berniat membacanya di rumah.


***


Naya menyambut kedua temannya dengan perasaan berdebar,takut jika Taendra akan menolak surat tersebut."Udah??"tanya naya singkat.


"Beres donk hehe,tinggal lihat hasilnya besok,"Rea tersenyum menjawab sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Syukurlah,"ucap Naya tersenyum lega.


"Tapi inget ya nay,kamu harus menerima kenyataan kalau kak Tae nolak kamu besok."


"Hmm iya setidaknya kita sudah berusaha kan"ucap Rea mengimbuhkan.


"Iya..iya makasih ya,"tersenyum ke arah Rea dan ines.


"Sama-sama nay,,jangan lupa traktir weekend besok ya,"


"Oke tidak masalah,emm.. mau mampir atau pulang langsung?"


"Pulang nay... maaf ya kemarin mama aku marah karna waktu mama pulang aku belum ada di rumah,nggak apa-apa kan nay?"ucap ines lirih.


"nggak apa-apa kok.."tersenyum.


"Weekend kita jalan oke,"imbuh ines lagi.


"Iya oke,"


"Ya sudah kamu pulang duluan saja biar nggak terlalu sore nanti.."kata Ines menyarankan pada Naya.


"Nggak apa-apa nih aku tinggal?"


"Hmm ya sudah...aku pulang duluan ya Re Nes..."


"Oke hati-hati nay,"


Naya hanya membalas ucapan ines dengan lambaian tangan sambil berjalan menyusuri trotoar.Sepanjang perjalanan menuju rumah bibir Naya bersenandung untuk membunuh rasa bosan saat dia berjalan sendirian seperti sekarang.Ada satu Alasan kenapa Naya memilih berjalan kaki daripada harus naik taksi?Itu karna tidak ada seseorang yang menunggunya pulang,jadi lebih baik dia berjalan kaki sambil menikmati suasana di sepanjang perjalanan.


Setibanya di rumah,Naya melirik ke arah rumah pak prabu yang sudah menjadi milik Yuan.Dia masih sangat penasaran dengan lelaki yang menempati rumah tersebut.Karna rasa ingin tahu yang besar,Naya pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam pagar rumahnya.Naya malah berjalan lurus menuju ke arah rumah tersebut.Dia langsung menerobos masuk pagar saat dia melihat mang Asep yang sibuk merapikan tanaman.


"Ehh non cantik,"goda mang Asep yang sudah kenal baik dengan Naya.


"Ish..mamang bisa saja,wajah jelek seperti ini di bilang cantik,"tersenyum.


"Yang terpenting mah cantik hatinya atuh non,"ucap mang Asep tersenyum."Ada perlu apa non kesini,mungkin butuh bantuan mamang motong rumput atau apa?"tanya mang Asep yang jasanya sering di pakai oleh Naya.


"Engak mang,,aku kemarin nggak sengaja lihat ada orang ke sini,apa rumah ini sudah terjual mang?"


"Hmm iya non,sudah di beli sama Aden Yuan.."


"Yuan??,"Naya mengulang nama tersebut.


"Iya non itu nama pemilik rumah ini."


"Ohh begitu mang,, kerja apa mang pak Yuan ?"


Mang Asep terkekeh mendengar pertanyaan dari Naya,"Jangan di panggil pak non..Aden Yuan itu belum nikah kok,"


" maaf mang aku nggak tahu soalnya kemarin wajahnya di tutupin masker,"


"Aden Yuan itu cakep banget non,terus ramah dan juga sopan sama orang tua."


"Gitu ya mang,,terus Yuan kerja apa mang??"


"Nggak tahu non kalau masalah itu,biar nanti saya tanyakan."


"Ehh.... nggak perlu mang,...aku pikir mamang tadi tahu,ternyata engak haha,"

__ADS_1


"Nggak apa-apa non,Aden Yuan ramah kok,"


"nggak perlu mang....Ya udah aku permisi dulu mang,"


"Mau di Salamin ke Aden Yuan non,"kata mang Asep mengoda.


"Janganlah mang..permisi mang Asep,"Naya tersenyum lalu berjalan keluar pagar dan berlari kecil menuju ke arah pagar rumahnya.


Naya masuk rumah dan duduk di sofa ruang tamu sambil meluruskan kedua kakinya,Naya beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menaiki tangga rumahnya.Bik Ratih seakan sudah paham dan langsung membawakan segelas air putih untuk Naya.


"Capek non,"menyodorkan segelas air putih.


"Iyaa bik,lumayan"meminum air sampai habis.


"mau di bawain tasnya ke atas,"tanya bik Ratih menawarkan.


"nggak perlu bik,biar aku saja"memberikan gelas kosong pada bik Ratih.


"Ya sudah mau di siapin makan siang apa non?"


"nggak perlu juga bik,"


"Non Naya nggak boleh kalau sampai nggak makan,nanti bibik kena semprot nyonya non kalau non Naya nggak mau makan,"


"Hehe iya... cuma habis ini aku mau ke mini market sebentar bik,mau beli pembalut,Sekalian mampir karena lagi pengen baksonya mang giman,"kata Naya tersenyum.


"Ohh gitu..."tersenyum.


"Bibik mau aku bungkusin bakso?"


"nggak perlu non Naya,kepala bibik pusing kalau makan bakso,"


"Mungkin titip yang lain bik?sabun cuci piring atau apa sabun yang lain, soalnya sekalian bik,"


"nggak perlu non,nanti bawanya berat,non beli keperluan non sendiri saja,biar itu jadi urusan bibik Lagian non harga sabun lebih murah di pasar tradisional daripada di toko."


"Hmm ya sudah,aku mau ganti baju terus berangkat langsung ya bik,"


"Iya non hati-hati ya,"


"oke bik,"


Setibanya di kamar,Naya langsung meletakkan tasnya sembarangan.Dia melepas kancing baju satu-persatu dan menanggalkan bajunya begitu saja di lantai,tangannya menurunkan resleting rok seragamnya dan rok pun jatuh ke lantai yang tak jauh dari kemeja putihnya tadi.Naya berjalan ke arah lemari dengan keadaan hanya memakai baju dalam saja,dia menarik sebuah baju dan celana pendek dan segera di kenakannya.Setelah selesai memakai baju,tak lupa Naya membawa dompet pink pemberian sang mama yang di letakkannya dalam laci.Saat dompet sudah berada di tangannya,sekilas dia melihat sebuah sosok yang berdiri menatapnya di seberang kamar yang berhadapan langsung dengan kamarnya.Wajah Naya berubah pucat karena dia baru sadar jika Yuan memperhatikan Naya dari sana.


M*mpus kampret,,itu orang sejak kapan berdiri di situ,,jangan bilang dia lihat aku waktu ganti baju tadi,,astagaaaaa....aku lupa kalau itu rumah sudah ada penghuninya..


Naya memalingkan wajahnya karena merasa malu,dia segera menutup tirai kamar agar Yuan tidak bisa melihatnya dengan tatapan yang menurut Naya sangat aneh.Setelah tirai tertutup rapat,Naya menarik nafas panjang mencoba untuk berfikir positif dulu.


"Ihhh...ngeri banget mirip psiko itu orang,memang harus ngelihatinya sampai seperti itu,astaga jantung aku rasanya mau copot,semoga dugaanku salah,mungkin saja dia baru saja datang..ahh tahulah..mendingan aku cepet berangkat daripada kesorean nanti."


Naya memutuskan untuk berangkat karna melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tiga.Entah apa maksud dari sikap Naya saat ini,dia menutup pintu rumah sangat pelan hingga tidak menimbulkan suara sedikitpun.Sebelum menuju pagar rumahnya, Naya sempat mengintip ke arah rumah Yuan untuk memastikan tidak ada siapapun di sana.


"huuuffft aman..."gumahnya sambil menarik nafas lembut.


Perlahan-lahan Naya berjalan menuju ke arah pagar dan kembali membuka pintu pagar dengan sangat pelan.Naya sengaja tidak menutup pintu pagarnya karena akan menimbulkan suara yang cukup berisik.Dia kembali mengintip sekitar dan melanjutkan perjalanan saat dia merasa Aman.Manik Naya melirik ke arah halaman rumah Yuan yang saat ini sudah terparkir mobil kemarin yang di lihatnya.


"pantas saja tadi sudah di kamar,ternyata Yuan sudah pulang."ucap Naya yang masih memperhatikan sekitar."kelihatannya aman-aman saja,masak sih dia ngikutin aku turun,mungkin tadi dia mau istirahat kan,ish...nggak jelas..!ngapain aku mikirin Yuan sih?kenal juga enggak..! mau dia istirahat atau enggak terserah dia kan.."


Naya pun melanjutkan perjalanannya menyusuri trotoar perumahan,Naya tidak sadar jika saat ini ada seseorang yang mengikutinya dari belakang,-


bersambung,-


siapa yang ngikutin Naya dari belakang??


apakah Yuan atau mang Asep?🤣


tetep setia ya...


silahkan like👍


komentar 💬


klik♥️


Vote Author juga biar selalu bisa terus berkarya..

__ADS_1


Makasih😘😘


__ADS_2