
Setelah kejadian penolakan saat istirahat,Naya merasa jika dirinya makin menyedihkan saja.Cinta pertamanya harus berakhir dengan sangat buruk,namun anehnya air mata tidak terlihat sedikitpun di sudut matanya.Bukan karna Naya adalah gadis yang tegar atau kuat,namun jika dia sampai menangis,dia akan menjadi bahan tertawaan satu sekolah,jadi Naya sebisa mungkin harus menahan perasaan meskipun rasanya dia memang sedang ingin menangis.
Kalau saja waktu bisa di ulang,aku nggak akan setuju dengan ide itu,aku malu banget..harusnya dari kemarin aku harus berkaca dahulu.Sekarang semua sudah terlambat wajah aku hancur di tambah lagi sama perasaan aku yang hancur.Aku merasa satu sekolahan bakal ngetawain aku setelan ini,apa aku pindah sekolah saja??hmm tidak...Aku nggak mau jadi pengecut,sebaiknya aku belajar buat ikhlasin semua ini,aku harus tebal telinga dengan segala macam bisik-bisik murahan yang di lontarkan mereka nantinya..
Tepat pukul setengah satu pelajaran usai,ines menghampiri Naya yang masih membereskan buku pelajaran,Naya sengaja memperlambat semuanya agar dia pulang saat sekolahan sudah terlihat sepi.
"Nanti nonton yuk Nay"kata ines yang langsung duduk di hadapan Naya.
"Sepertinya aku nggak bisa Nes."mencoba tersenyum.
"Kamu ada acara nanti?"tanya ines ingin tahu.
"Aku pengen di rumah saja nes."tersenyum.
"Aku jadi merasa bersalah kalau kamu seperti itu Nay,apa perlu aku nginep di rumah kamu?"
"Nggak usah nes,aku baik-baik saja kok oke,"
Tiba-tiba seorang teman sekelas Naya menghampiri."Nay om kamu sudah nungguin dari tadi,"ucapnya tersenyum.
"Om..??"Naya masih tidak sadar jika yang di maksud temannya adalah Yuan.
"Iya Om kamu yang cakep gila itu,astaga Naya..Om kamu sudah punya cewek belum?"
Apa kak Yuan?.
"Om siapa Nay,bukannya keluarga kamu jauh semua?"tanya ines binggung sebab Naya pernah bercerita jika keluarganya berada di luar kota semua.
"Entar aku jelasin.."tersenyum.
"Kenalin donk Nay,"imbuh teman Naya.
"Aku nggak tahu om aku sudah punya cewek atau belum.Makasi ya sudah di kasih tahu,,yuk Nes,"Naya langsung mengandeng tangan ines untuk keluar kelas.
"Sekarang jelasin ke aku Nes?maksudnya om siapa??"
"Bukan om kandung aku kok,dia itu tetangga baru aku,aneh sih orangnya soalnya terlalu ikut campur masalah aku,cuma aku ngerasa itu orang baik,kemarin saja dia ngajarin aku kerjaain PR fisika.."ucap Naya bercerita.
"Tetangga kamu kan masih kecil-kecil anaknya,apa Om-nya datang ke sini terus kenalan sama kamu gitu?"tanya ines yang masih binggung.
"Bukan rumah yang itu Nes,tapi rumah kosong yang ada di sebelah kanan kamar aku itu loh.."
"Ohh rumah yang di bilang Rea angker itu,"ines mengingat obrolannya tempo hari.
"Iya yang itu.."
"Cakep nggak Nay orangnya?"
"Itu kamu lihat sendiri,"Naya menujuk ke luar pagar sekolahan dan di sana sudah ada Yuan yang menunggunya.
Dengan mulut setengah terbuka Ines menatap ke arah sosok Yuan yang menurutnya sangat tampan dan perfect.
"Hati aku langsung meledak Nay,"sambil terus melihat ke arah Yuan.
"Cakep ya tapi umurnya sudah 27 tahun wkwkwk,"Naya terkekeh karena dia juga sempat kaget soal fakta tersebut.
"Nggak masalah usianya tua yang penting wajahnya masih baby face,"
"Aku nggak paham maksud kamu nes."
"Wajahnya itu lebih muda dari umurnya Nay..Tapi menurutku kak Yuan lebih cakep daripada Taendra."Tersenyum.
"Sudah Nes nggak usah bahas dia lagi,yuk aku kenalin ke kak Yuan."
Naya dan ines pun berjalan ke arah Yuan yang sedang berdiri di samping mobilnya yang selalu terlihat mengkilap.Bola mata Yuan kembali fokus pada sosok gadis kecil yang saat ini berjalan ke arahnya.
"Siang dedek.."Tersenyum ke arah Naya padahal di sana juga sedang ada Ines.
"Kan tadi aku sudah bilang nggak usah di jemput kak."
"Tadi aku sudah janji buat jemput lagian aku nggak mau kamu jalan kaki pulangnya.."Tersenyum.
Serius kak Yuan perhatian banget sama Naya..perasaan kemarin waktu aku main sama Rea rumah itu masih kosong,berarti kan mereka baru saja kenal tapi kok sudah perhatian banget ya?
"Ya sudah kan terlanjur di jemput,kenalin nih kak temenku namanya ines."
"Ines kak.."Ines pun mengulurkan tangannya dan tanpa berfikir lagi Yuan menyambut tangan ines ramah.
__ADS_1
"Panggil aku om Yuan atau kak Yuan hehe,terserah mau panggil apa,asal jangan pak Yuan aja."Jawab Yuan ramah.
"Terlalu muda buat di panggil om,panggil kak saja deh.."Tersenyum.
"Hmm oke.."
Mereka berdua itu umurnya sama tapi cara pandang aku beda saat aku lihat Naya,rasa yang di timbulkan naya sangat mirip saat aku masih bersama Tiara dulu..padahal mereka berdua tidak mempunyai hubungan darah tapi mereka kelihatan sangat mirip dalam bertingkah laku,apa ini hanya perasaan yang timbul karena aku sangat merindukan Tiara..Entahlah..Yang pasti aku bakal jagain Naya sebaik aku menjaga Tiara dulu..
"Serius nay nggak mau aku temenin di rumah?"
"Kata kamu punya adek kecil yang perlu di jaga?"
"Hmm iya,cuman kalau weekend mama aku kan libur,jadi ada waktu buat main."jawab Ines menjelaskan.
"Aku baik-baik saja kok, besok saja kita jalan."Mencoba tersenyum di hadapan Ines.
"Ya sudah kalau nggak mau,aku pesen taksi saja langsung."Ines akan mengambil ponselnya di tas.
"Biar sekalian kak Yuan anterin."Ucap Yuan menawarkan.
"Ehh...Nggak usah kak,rumah aku jauh kok,malah ngerepotin nanti."Jawab Ines menolak.
"Emang sejauh apa sih? Di luar negri atau luar kota?"
"Ya nggak sejauh itu juga kak.."Tersenyum ke arah Yuan.
"Berarti masih Deket kan,soalnya masih di dalam kota."
"Kurang kerjaan ya kak."Goda Naya tertawa.
"Iya mungkin,Ya sudah ayo adek-adek masuk mobil semua,biar om Yuan anterin sampai tujuan dengan selamat."Membuka pintu mobil untuk Naya."Tapi kamu harus duduk sini,aku nggak mau di sebut supir pribadi kalian ya."
"Kamu nggak apa-apa Nes?"Melihat ke arah Ines.
"Aku di taruh jog belakang juga nggak apa-apa,asal jangan di iket di atas saja hehe."Ines tersenyum dan masuk.
"Buruan masuk.."
Naya pun masuk dan duduk di sebelah Yuan.Di sepanjang perjalanan menuju rumah Ines,Naya hanya berdiam sementara Ines memuji-muji mobil mewah milik Yuan.Sesekali Ines bertanya pada Naya berharap agar Naya melupakan yang terjadi tadi,namun nyatanya Naya masih saja memikirkan hal itu.Lima belas menit kemudian mobil Yuan sudah terparkir di rumah sederhana milik Ines.
"Terima kasih kak sudah di anterin."
"Nay nanti aku telfon ya.."
"Iya aku tunggu."membalas senyuman Ines.
"Hati-hati ya kalian,"Ines segera turun dari mobil dan mobil Yuan kembali melaju.
"Teman kamu nggak seberapa buruk wajahnya ya dedek."goda Yuan yang belum mengetahui jika perasaan Naya sedang tidak baik.
"Hmm."
Seketika Yuan menghentikan senyumannya saat mendengarkan jawaban singkat dari Naya,dia beberapa kali menengok ke arah Naya untuk memastikan kalau itu hanya dugaannya saja.Padahal apa yang Yuan rasakan saat ini sama persis dengan apa yang terjadi hari ini.Yuan merasa jawaban singkat tadi sudah menandakan jika Naya sedang tidak baik-baik saja.Apa Yuan sok tau??tentu tidak.Dia hanya menyamakan semuanya dengan sikap Tiara saat dulu masih bersamanya.
Apa yang membuatnya bersedih seperti itu?...Aku yakin dia sedang ada masalah saat ini..Kenapa aku jadi sok tahu seperti ini sih,inget Yuan..Dia adalah Naya bukan Tiara,jangan sampai dia merasa tidak nyaman karna semua tebakan bodohmu padanya..
"Gimana tadi di sekolahan?"Yuan mengalihkan pembicaraan berharap semua tebakannya itu benar.
"Baik kak.."
Deg...!!
Ahhh ini sungguh mengangguku,,apa aku harus bertanya ke inti nya saja,rasanya aku ikut sakit melihat raut wajahnya sekarang.
"Menurut kamu aku jelek banget ya kak?"Ucap nanya menatap ke arah Yuan yang sesekali melihat ke arahnya.
"Itu alami dek bukan jelek,maaf tempo hari aku hanya bercanda berkata begitu."Jawab Yuan mencoba berhati-hati menjawab pertanyaan Naya.
"Memang faktanya begitu kak,aku nggak pernah mengerti soal merawat diri,karna mama jarang di rumah.Dan kupikir itu semua nggak penting karena aku masih sekolah."Ucap Naya lirih.
"Memang seperti itu seharusnya, sekolah itu belajar bukan berdandan."Tersenyum aneh.
"Tapi rasanya semua itu sangat penting kak."Menghembuskan nafas panjang.
"Ada yang menganggumu di sekolah dek?"Tanya Yuan ingin tahu.
"Nggak ada kak."Jawaban itu masih terdengar singkat untuk Yuan.
__ADS_1
"Terus kenapa ngomong seperti itu?"
"Aku hanya merasa sangat buruk saja kak hari ini."Nada bicara Naya membuat Yuan merasa sangat tidak nyaman.
"Siapa yang ngomong seperti itu?"
"Aku sendiri kak."Jawab Naya yang masih tidak mau jujur.
Aku mau cerita tapi hal itu sangat memalukan,nanti yang ada malah di ketawain.Kak Yuan baik juga ya,dia serius juga nanggepin pertanyaan aku tadi..
"Tangan sama wajah kamu beda dedek."
"Maksudnya kak?"Melihat ke arah Yuan.
"Tangan dan kaki kamu lebih putih dari wajah kamu,itu berarti kamu hanya perlu perawatan wajah saja.Mungkin kulit wajah kamu terlalu sensitif jadi seperti itu berminyak dan kusam."Ucap Yuan berharap perasaan Naya kembali baik.
"Terus ngerawatnya bagaimana kak?"
"Kalo masalah itu aku nggak tahu dek,coba tanya mama kalau pulang.."Tersenyum.
"Ya sudah nanti aku telfon mama."
Melihat raut wajah Naya sekarang membuat Yuan sangat gelisah,perasaannya terasa sangat tidak nyaman sehingga dia mencari cara agar bisa lebih lama bersama Naya.
"Mau makan siang bareng dedek?di sekitar sini ada restoran spagety enak banget."Ucap Yuan menawarkan.
"Aku nggak suka mie kak."
Deg..!!
Aku benar-benar sudah gila..kenapa ucapan Naya sama dengan Tiara?
"Kok nggak suka dedek?hm..alasannya kenapa?"tanya Yuan untuk memastikan.
"Bukannya mie itu terlihat menjijikan kak,mirip banget sama cacing."
Astaga aku tidak percaya ini,kenapa jawabannya sama.Apa reinkarnasi itu ada?bukannya itu hanya ada di negeri dongeng atau semacamnya.Apa Tiara ku hidup lagi dan bersemayam pada tubuh Naya?Apa ini hanya imajinasi ku saja,tapi mana mungkin imajinasi senyata ini.Aku tidak ingin percaya,namun saat aku melihat Naya,aku seperti melihat Tiara lahir kembali.
Suara hati Yuan binggung dengan apa yang sedang di rasakannya sekarang.Dia bahkan baru kemarin bertemu dengan Naya namun dia seolah sudah sangat dekat dengan gadis kecil di sampingnya,sebab dia menganggap Naya adalah Tiara.
"Baik kita cari depot bakso ya."Tersenyum.
"Katanya mau spagety kak?"
"Kamu kan nggak suka."Tersenyum.
"Aku nganterin kak Yuan saja."
"Kalau kamu nggak makan,aku juga ikut nggak makan."
"Aku lagi nggak pengen makan sebenernya."
"Oke kita buktikan ya,setelah sampai depot bakso langganaku apa kamu bisa berkata seperti itu?"
"Aku cuma mau pulang kak."
"Nggak baik pulang dengan keadaan bersedih."
"Aku nggak lagi sedih,jangan sok tahu ya."Melirik kesal ke arah Yuan.
"Memang sudah tahu dek,nggak usah fikirin sesuatu yang bikin kamu sedih,atau kamu ngomong sama kak Yuan siapa yang sudah buat kamu sedih,biar nanti kakak beresin orang itu."Ucap Yuan dengan nada serius.
"Emang kakak siapa aku sih,main beresin saja..!"
"Calon kakak yang baik hehe."Memperlihatkan giginya."Lupakan yang sedih-sedih dulu kita sudah sampai."Yuan memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang di sediakan depot.
Naya turun dan masuk ke dalam depot bakso tersebut bersama Yuan.Setibanya di dalam Naya tiba-tiba menutupi wajahnya dengan buku yang di bawanya,seolah dia ingin menghindari seseorang yang duduk di salah satu meja di sana.-
Holla🙋
silahkan like👍
komentar 💬
Klik♥️
Vote juga please 😘
__ADS_1
terimakasih 😘