OM Yuan

OM Yuan
Chapter 6


__ADS_3

Setelah penjual bakso berhenti tepat di depan rumahnya,Naya langsung berjalan ke luar pagar rumahnya untuk memesan bakso,dia berdiri tepat di samping Abang tukang bakso.


"Pak bakso satu ya komplit tapi nggak pakai mie,terus minumnya es kelapa muda ya pak,esnya kasih sedikit saja.."


"Baik non.."


Naya tersenyum sambil memperhatikan penjual bakso menyiapkan pesanan untuknya.Saat penjual bakso akan memberikan semangkuk bakso pada naya,seseorang mengambilnya mangkuk yang hampir di ambil oleh Naya.


"Bakso aku....,"ucapan Naya terhenti saat melihat seseorang yang mengambil mangkuk bakso miliknya.


"Buatin satu lagi yang seperti ini"ucap Yuan tanpa rasa bersalah dan masuk ke dalam pagar rumah Naya.


Naya pun mengikuti Yuan dan menghadang langkah Yuan dengan berdiri di hadapan Yuan.


"Ehh siapa yang suruh masuk?"protes Naya dobel kesal.


"Masa nggak boleh dedek me..Sesama tetangga itu harus baik,silaturahmi biar cepat akrab oke hehe"Yuan melewati Naya begitu saja.


Itu orang maksudnya apa coba??lapar banget lagi...


Wkwkwk langsung kesel kayaknya haha..lucu banget sih...


"Ini non pesanannya,"tukang bakso memberikan semangkuk bakso yang mirip seperti pesanannya.


"Iya pak makasi,tungguin ya.."


"Siap non,"tukang bakso berjalan keluar untuk menyiapkan esnya.


Naya meletakkan bakso pada meja dengan sedikit membantingnya.


"Duduk sini dedek,"goda Yuan lagi.


"Ini rumah aku...!Naya pun duduk di hadapan Yuan."Jadi terserah aku mau duduk di sini atau di mana saja,harusnya aku yang bicara seperti itu ke kamu,ini malah kebalik.Lagian rumah kamu kan deket,terus ngapain kamu makan di sini?"


"Biar akrab dedek,kan sesama tetangga.."tersenyum.


"Tapi tidak seharusnya kamu merebut bakso aku tadi,"Naya mulai menyantap bakso di hadapannya.


"Astaga maaf hehe,ya sudah nih kalau mau tukeran.."Yuan akan mengeser mangkuk bakso milik Naya.


"Ehh apaan ini enak banget main tuker saja!!"Naya memegang mangkuknya erat-erat.


"Katanya tadi mau tuker,"jawab Yuan konyol.


"Bakso kamu sudah habis gitu masa di tukerin?"menatap Yuan kesal.


wkwkwk...hati aku bahagia banget...


"Kamu nggak jelas dedek,tadi nggak terima karna aku mengambil pesanan kamu,tapi sekarang mau di tukerin malah nggak mau,jangan bikin kak Yuan binggung dedek me,"


"Kamu tuh yang nggak jelas,malah memutar balikkan fakta saja.."


"Kak Yuan itu jelas benar-benar cakep,iya kan??"


"Terserah..!"Fokus makan.


"Mau di taruh mana minumnya non?"tanya penjual bakso membawa dua gelas es kelapa muda.


"Taruh di sini saja pak,"jawab Naya ramah.


Penjual bakso pun meletakkan minuman di atas meja,Yuan langsung mengeser satu gelas minuman dan meneguknya sambil terus melihat ke arah Naya.


"Bagi donk baksonya dedek me...,"goda Yuan lagi karna merasa di acuhkan oleh Naya.


"Pesen lagi..,"jawab naya ketus.


"Lebih enak rasanya kalau hasil ngerebut seperti tadi."


"Rebutan saja sama yang jualan.."


Sedikitpun Yuan tidak memalingkan pandangannya ke arah gadis kecil di depannya,tatapan yang teramat dalam seolah Yuan sedang melepas perasaan rindunya pada sosok tiara.Yuan merasa sangat dekat dengan Naya meski dalam kenyataanya mereka baru dua jam yang lalu saling mengobrol.


"Kelas berapa kamu dedek?"tersenyum.


"Rahasia..mau tahu saja sih.."jawab Naya ketus.


"Ya sudah biar aku cari tahu sendiri nanti."


"Maksudnya apa sih?"Naya meninggikan suaranya.


"Biar aku cari tahu kamu sekolah di mana dan kelas berapa?"Tersenyum.


"Buat apa ngelakuin itu..!! aneh banget sih.."


"Biar sesama tetangga harus saling memahami,"Yuan kembali terkekeh serayap mengatakan hal itu.


Bik Ratih tidak sengaja lewat dan mendengarkan obrolan Naya dengan seseorang yang tidak di ketahuinya.Dia segera berjalan ke depan untuk melihat siapa yang sedang berbicara dengan Naya.Bik Ratih tersenyum saat melihat seseorang yang saat ini duduk berdua dengan Naya di teras depan rumahnya.


"Ohh Aden Yuan,,kirain siapa tadi,"tersenyum di tengah pintu.


"Bibik kok kenal dia?"tanya Naya sambil menunjuk ke arah Yuan.


"Itu non tadi pagi,,bibik kan belanja di pasar,ehh dompet bibik di copet untung ada aden Yuan yang nolongin,jadi dompetnya bisa selamat."


"Oh gitu,"Menganguk-angguk.


Baik juga ini orang...


"Kamu kok tahu dia pembantu aku?"Naya melihat ke arah Yuan.


"Aku baru tahu tadi waktu aku nolongin bibik."Tersenyum.

__ADS_1


Bik Ratih tersenyum lalu menjelaskan semuanya pada Naya."habis nolong bibik,Aden Yuan berniat nganterin bibik pulang non,ya sudah bibik mau saja soalnya waktu itu bibik juga ketakutan,ehh ternyata tetangga sendiri,"


"Hm gitu..."


"Iya non begitu.."


"Mau bakso bik?"


"Nggak usah non makasi,bibik permisi kebelakang dulu,"bik Ratih tersenyum sebentar kemudian berjalan kebelakang.


"Masih mikir kalau aku orang jahat dedek?"


"Aku nggak pernah mikir kamu gitu."ucap Naya mengelak.


"Aku bisa menebak apa yang ada di dalam fikiranmu dedek."Tersenyum.


"Sok tahu..!"Naya beranjak dari tempat duduknya dengan membawa mangkok kosong lalu Yuan pun mengikutinya.


"Berapa pak?"Memberikan mangkok kosong pada penjual.


"Biar aku bayar,"menyodorkan uang 100 ribu pada penjual bakso.


"Bentar kembaliannya."Sang penjual pun membuka laci yang berada di gerobaknya.


"Ehh nggak perlu kembalian pak,hari ini saya sedang senang karena mendapat mainan baru,jadi kembaliannya buat bapak saja."Yuan menguncapksn itu sambil melihat ke arah Naya.


"Apa maksudnya ngomong seperti itu tapi lihatnya ke aku??"


"Nggak apa-apa dedek,"menunjukkan giginya.


"Makasi ya Aden,,permisi,"penjual bakso itupun pergi untuk melanjutkan berjualannya.


"Nanti malam ada acara kemana dedek?"


"Nggak ada ..! pergi sana..!ngapain masih di sini juga."Ucap Naya ketus.


Astaga dia makin terlihat imut saat marah seperti itu..


"Beli es krim yuk dedek?"


"Nggak maleeees....!!"berjalan masuk rumah dan menutup pintu keras


Braaaaaakkkkk...


"Astaga.."Tersenyum."Rasanya memang mereka sangat mirip,apa ini hanya perasaanku saja karena aku sangat merindukan Tiara.Aku mulai menyukaimu Naya.."Yuan tersenyum sejenak lalu berjalan ke arah rumahnya.


Sementara di dalan rumah Naya,dia masih mengintip Yuan dari cela jendela rumahnya,dia terpekik kaget saat bik Ratih menyentuh pundaknya lembut.


"Kirain siapa bik ihh.."Berbalik arah dan menghadap ke arah bik Ratih.


"Ngintip siapa non?Aden Yuan,cakep ya non."Tersenyum.


"Aneh gimana non??orangnya baik kok non,sopan sama banget sama bibik meski bibik seorang pembantu."


"Serius bik kak Yuan itu orang aneh,kalau lagi lihatin aku itu pakai senyum-senyum mirip orang stres gitu."ucap Naya menjelaskan.


"Suka mungkin sama non."jawab bik Ratih mengoda.


"Bibik ngomong apa ya? Takut bik di sukai sama orang seperti itu."


"Takut gimana sih non?"


"Sudahlah bibik itu nggak tahu apa-apa soal psikopat, ciri-cirinya itu mirip kak Yuan bik."


Bik Ratih terkekeh mendengar jawaban Naya seolah-olah bik Ratih tahu psikopat itu apa.


Non Naya nih aneh,di kasih perhatian orang secakep Aden Yuan kok nggak mau..


"Ya sudah bik,aku mau ngerjain PR dulu,"


"Nanti susunya mau yang putih atau coklat non."


"Putih saja bik,"Naya tersenyum dan menaiki tangga menuju kamarnya.


***


🖍️Kafe🖍️


Taendra sedang duduk menunggu kedatangan Vero dan Erin di salah satu tempat duduk di kafe.Dia membuat janji karna ingin memperlihatkan sesuatu.Beberapa menit menunggu,terlihat Vero dan Erin turun dari taksi dan langsung berjalan menuju meja Taendra yang sudah terlihat dari arah luar kafe.


"Haii maaf telat.."Ucap Vero yang langsung duduk di hadapan Taendra.


"Nggak masalah kok santai saja."Tersenyum ke arah keduanya.


"Ada hal penting ya?Nggak biasanya kamu ngajakin ketemuan malem-malem."


Taendra tidak menjawab pertanyaan itu,Tangannya langsung merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah amplop biru muda lalu meletakkannya di meja kafe.


"Surat..?"Vero mengambil surat tersebut dan langsung membukanya."Astaga jijik banget gue bacanya haha."Vero terkekeh membaca surat tersebut.


"Coba lihat.."Erin langsung mengambil surat dari Vero dan membacanya."hahaha...Ini anak hidup di Zaman purba apa?kok pakai kirim beginian.Astaga..."


"Aku nggak masalah soal itu,cuman aku penasaran saja,gimana anak yang namanya ada di surat itu?"


"Naya...??"Vero mencoba mengingat nama tersebut.


"Kemarin yang ngasih aku anak 10A."


"Aku tahu anaknya."Seketika Erin tertawa terkekeh setelah mengatakan hal tersebut.


"Kenapa malah tertawa gitu sih??kasih tahu aku siapa anaknya."Ucap Vero merasa tidak sabar.

__ADS_1


"Habisnya lucu,,maaf..!! Emm kamu inget anak yang kamu panggil dengan sebutan pengorengan?"


"Pengorengan..?Bentar..."


"Itu loh Ver anak yang sering dapat hukuman waktu MOS dulu,"Erin kembali tertawa mengingat wajah Naya.


"Astaga aku ingat...."Vero ikut tertawa bersama dengan Erin.


"Nggak di kasih tahu malah tertawa seperti itu,gimana anaknya cantik Nggak?"tanya Taendra penasaran.


"Cantik banget,mirip bidadari pengorengan,"Ines pun kembali tertawa bersama Vero.


"Serius aku nggak tahu."


"Naya itu anak yang aku hukum waktu itu.."


"Yang kamu kasih hukuman itu banyak,jelasin detailnya."


"Yang aku suruh ngasih bunga mawar plastik ke kamu itu loh haha."


Mata Taendra melebar saat mengingat kejadian itu,dia bahkan sempat marah pada Vero karna sudah membuat hukuman seperti itu.Dia merasa sangat jijik Karena harus menerima bunga dari orang buruk rupa seperti Naya."Serius dia anaknya?"tanya Taendra memastikan.


"Iya serius Tae ngapain aku bohong."Tersenyum.


"Berani banget dia ngasih aku surat seperti ini..!"


"Mungkin dia pikir,kamu serius suka dia gitu haha konyol banget itu anak.."


"Mau aku bantuin ngembaliin surat ini?"Vero tersenyum jahat ke arah Taendra.


"Kamu saja yang balikin,aku membayangkan Deket sama dia saja jijik.."


"Jadi bebas kan?"


"Maksud kamu?"


"Aku mau kasih pelajaran sedikit saja,terus aku boleh sebut nama kamu kan?"


"Terserah Kamu Ver..!! Kamu masukin Toilet juga aku ikhlas.."


Awas kamu Naya,,berani banget kamu ngirim surat ke gebetan aku!!mau cari masalah kamu sama aku,lihat saja aku bakal bikin kamu malu besok pagi...


***


Sementara di kamar Naya dia hilang konsentrasi untuk mengerjakan PR fisika yang harus di kumpulkan besok pagi.Ada perasaan tidak nyaman saat dia mengingat jika besok pagi Rea akan memberikan surat itu pada Taendra.Naya ingin sekali menelfon Rea agar mengurungkan niatnya besok,namun di sisi lain Naya juga penasaran bagaimana tanggapan Taendra soal perasaannya.


"Otak aku rasanya tumpul setelah kepikiran itu,atau aku telfon Rea saja biar batalin rencana besok, tapi aku juga pengen tahu reaksi kak Tae gimana..mendingan aku buka jendela saja mungkin pikiran aku bisa fress lagi."


Naya beranjak dari tempat duduknya dan membuka korden sedikit,dia ingin memastikan kamar Yuan masih terbuka atau tidak.Bibir Naya tersungging senang saat melihat kamar Yuan yang sudah tertutup rapat.Jendela pun di buka secara perlahan agar tidak menimbulkan suara,Naya menumpukan kedua siku tangannya ke pinggiran jendela sambil membawa buku tulis juga bulpen.


"Perasaan aku nggak enak banget setelah kepikiran itu,apa PR nya saja yang terlalu sulit."Eluh Naya sambil melihat buku Tulis yang di bawanya."Aaaaahhh..!! sulit banget sih,kepala aku rasanya mau meledak..! Tahulah..!! besok nyotek ines saja.."Naya melemparkan buku tulisnya ke lantai.


Tiba-tiba Naya melihat korden Yuan yang bergerak sedikit,Naya cepat-cepat bersembunyi di samping jendela yang sudah terbuka agar Yuan tidak melihat dia.


Kirain sudah tidur tadi...


Naya penasaran dengan apa yang Yuan lakukan saat ini, perlahan-lahan kepala Naya mengintip ke arah luar jendela dan terlihat jelas jika Yuan sedang membuka bajunya dengan keadaan pintu kamar yang terbuka.Naya buru-buru kembali ke posisi awal sebab dia tahu ini tidak layak untuk dia lihat.


Maksudnya apaan coba buka baju tapi malah di buka pintu kamarnya..apa dia sengaja biar aku lihatin gitu...astaga...badannya kak Yuan aduuhhhh....


Naya terpekik kaget saat tiba-tiba kepala Yuan muncul dari jendela kamarnya.


"Aaaaaaaaaaa....."Naya refleks dan mundur menjauhi jendela.


Yuan tertawa terkekeh melihat ekspresi Naya saat ini."maaf kaget ya haha.."


"Dasar psikopat sialan..!!! mau kamu apa sih??"


"Nggak mau apa-apa dedek me,cuma pengen tahu saja ngapain malam-malam belum tidur,"Tersenyum.


"Mau tahu saja urusan orang..!"jawab Naya ketus.


"Enak ya kalau mau bertamu tinggal nyebrang saja nggak pakai turun segala."


"Kalau Ayah pulang aku akan nyuruh ayah bongkar teras kamar aku biar kamu nggak bertamu seenaknya seperti ini.."ucap Naya kesal.


"Iya dedek terserah kamu,Tapi bukain pintunya donk aku mau masuk."


"Aku mau tidur..!"


"bohong itu dosa loh...Nggak kamu bukain aku manjat nih.."


"Ya panjat saja ..! kamu pikir kamu muat pan...."belum sempat ucapan Naya berhenti,Yuan sudah memanjat jendela dan masuk ke dalam kamar Naya.


Yuan berjalan perlahan ke arah Naya seolah akan menangkap Naya dan berniat buruk.


Ya Tuhan orang ini mau ngapain? kenapa seperti itu ekspresi wajahnya..-


Holla🙋


silahkan 👍


komentar 💬


klik♥️


tinggalin jejak 🐾


Vote juga donk👇


terimakasih 😘

__ADS_1


__ADS_2