
Jantung Naya berdetak tak beraturan saat Yuan berjalan perlahan untuk mendekatinya.Naya hampir saja berteriak minta tolong,Namun dia mengurungkan niatnya sebab ternyata Yuan bukan ingin mendekat,dia hanya memunggut buku yang tercecer di lantai bersama alat tulisnya.
Ya ampun...aku mikir apaan coba?mana mungkin ini orang mau ngapa-ngapain aku. Naya melirik wajahnya yang terpantul pada cermin lemari baju miliknya. Ahhh..wajah aku jelek banget sih,kenapa bisa penuh minyak seperti itu sih.. Perasaan Naya jadi semakin tidak bersemangat ketika melihat pantulan wajahnya sendiri yang terlihat mengkilap alias penuh minyak.
"Ini kenapa bukunya kamu taruh sini dedek."tanya Yuan memungut buku serta bulpen yang tercecer di lantai.
"Bukan urusan kamu..!"jawab Naya untuk menutupi kekesalannya.
Yuan melirik ke arah meja rias yang penuh sesak dengan buku komik dan novel."Aku baru tahu fungsi meja itu buat apa,"kata Yuan tersenyum dan menunjuk ke arah meja rias.Alasan Yuan saat ini tersenyum sebab Yuan tahu seharusnya yang ada di depan meja rias adalah makeup atau hal semacamnya.
"Lemari buku aku sudah nggak muat,jadi aku taruh saja di situ.Ya sudah...!Mending kamu balik ke kamar kamu,ngapain ke sini malam-malam manjat jendela segala.Nggak enak juga sama tetangga soalnya kamu kan cowok dan aku cewek."Naya berdiri tegap karena memang tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
"Astaga aku baru sadar kalau kamu cewek wkwkwkwk,"Yuan kembali terkekeh mendengar ucapan Naya,Namun dia menghentikan tertawanya saat dia melihat bola mata Naya melirik ke arahnya kesal."Maaf..maaf aku cuma bercanda dedek,,emm mau aku bantuin bikin PR nya?"Memperlihatkan buku di tangannya.
"Tidak perlu,aku sudah bisa kerjain itu kok.."
"Kalau memang bisa kenapa ini buku jadi tergeletak di lantai?"Tersenyum.
"Itu tadi cuma jatuh dan aku nggak tahu,"jawab Naya mencoba beralasan.
"Aku bantuin..Duduk sini,nanti aku ajari cara yang mudah buat jawab semua soal ini ,"Seolah sudah akrab Yuan pun duduk di kursi belajar milik Naya.Dengan terpaksa Naya berjalan perlahan ke arah Yuan,dia memang sedang merasa pusing memikirkan PR yang harus di kumpulkan besok pagi.
"Duduk sini dedek,"Yuan beranjak dari tempat duduk tersebut lalu memegang kedua pundak Naya lembut dan menggiring Naya untuk duduk di kursi belajarnya tersebut.Yuan pun mulai menjelaskan teori-teori agar Naya bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan mudah.Penilaian buruk Naya soal Yuan langsung hilang saat Naya melihat ke arah Yuan yang saat ini sedang serius menjelaskan materi.
Berapa umur kak Yuan sih,pinter banget?aku denger penjelasan dari guru saja nggak paham-paham,tapi setelah kak Yuan yang jelasin kok kelihatannya mudah banget soalnya.
30 menit kemudian Naya menutup buku tulisnya dan tersenyum lega karna PR nya sudah selesai."Makasi sudah di bantu,"ucap Naya memasukan buku tulis ke dalam tasnya.
"Kalau kesulitan soal PR bilang aku saja dedek."tersenyum.
Tiba-tiba Bik Ratih masuk dan sontak terkejut saat melihat Yuan ada di kamar Naya sebab bik Ratih tidak merasa membukakan pintu untuk Yuan.
"Loh Aden Yuan kok di sini?"
"Ehh bibik hehe,terpaksa tadi loncat dari teras soalnya di mintain tolong Naya buat ngerjain PR nya."ucap Yuan menjelaskan dan lagi-lagi penjelasan tersebut membuat Naya kesal.
"Kapan aku minta tolong..!! kamu sendiri kan yang ke sini,"melirik malas ke arah Yuan.
"Sudahlah nggak perlu malu ngakuin,kan cuma bibik yang tahu.."
"Iya non aman pokoknya kalau sama bibik,yang penting sekarang minum susunya dulu."bik Ratih memberika segelas susu pada Naya.
Naya langsung mengambil gelas tersebut dan meminum susu dalam sekali nafas."Makasih ya bik,"memberikan gelas kosong.
"Sama-sama non,Aden Yuan minta bibik buatin minum apa?"
"Nggak usah bik terimakasih,saya nggak sedang haus kok."tersenyum ramah.
"Ya sudah bibik permisi,"bik Ratih berjalan keluar dan hendak menutup pintu kamar Naya.
"Ehh bik biarin kebuka pintunya,"Teriak Naya.
"Baik non,"bik Ratih pun pergi.
"Orang tua kamu kemana dedek?"
"Kerja,"jawab Naya singkat.
"Ohh jadi kamu sama bik Ratih saja di sini."menatap ke arah Naya dengan wajah serius.
"Hmm iya,mendingan kamu pulang saja kak,ini sudah malam."ucap Naya yang mulai merendahkan suaranya.
"Aku temenin ngobrol dedek daripada kamu nggak bisa tidur.Tenang saja dedek,umur aku tuh sudah 27 tahun jadi selera aku bukan bocah ingusan seperti kamu."Yuan berkata itu agar Naya tidak berfikir macam-macam tentangnya.
Dan karena mendengar pengakuan soal umur,Naya jadi tertawa lepas karena baru mengetahui jika Yuan bahkan pantas untuk menjadi Om nya."Astaga sudah om-om ya ternyata haha."
"Iya begitulah,syukurlah sudah bisa buat kamu tertawa."Yuan masih sangat nyaman menatap ke arah Naya,padahal Naya kelihatan sangat tidak menarik untuk di lihat.
"Aku panggil OM Yuan wkwkwk.."menutup mulutnya dengan tangan.
"Iya panggil saja Om biar cepat akrab.."
Dari sinilah kisah di mulai,Awalnya Yuan berniat menganggap Naya sebagai adik perempuannya,dan Naya mulai paham jika Yuan tidak seburuk yang ada di dalam fikirannya.Naya yakin jika Yuan bukan seorang psikopat atau orang aneh yang sempat terlintas di fikiran Naya saat awal bertemu.Naya yakin jika Yuan akan jadi tetangga yang baik untuknya namun Naya juga harus tetap waspada karena walau bagaimanapun Yuan teteplah seorang laki-laki.
__ADS_1
***
Pagi harinya...
Tidak seperti biasanya hari ini Naya bangun pagi,bahkan dari sejak semalam dia mencoba menggunakan sabun wajah yang di belinya di mini market sebelum dia berangkat untuk tidur.Tulisan keterangan dalam sabun membuat Naya bersugesti jika wajahnya terasa lebih baik karena sabun tersebut.Dia merasa sangat percaya diri padahal produk sabun tidak akan langsung terlihat hasilnya dalam waktu semalam jadi sampai pagi ini wajah Naya tetaplah terlihat kusam.
Pukul 06:01 naya terlihat keluar dengan membawa tas ransel biru miliknya.Yuan yang mengetahui hal tersebut,langsung saja masuk rumah dan mengambil kunci lalu segera masuk mobil untuk mengikuti Naya.Ketika Naya sedang berjalan santai,Yuan membunyikan klakson mobil dari arah belakang dan sontak hal tersebut membuat Naya terpekik kaget.Yuan meminggirkan mobilnya lalu turun dan menghampiri Naya sambil tertawa lepas.
"Sudah tua juga jahil banget sih..!"Runtuk Naya kesal.
"Maaf hehe,Yuk Om Yuan anterin daripada jalan kaki."Tersenyum menatap Naya.
"Emangnya kamu nggak kerja?"
"Kerja donk dedek,cuma nanti jam 9 pagi."
"Emm gitu,tapi aku biasa jalan kaki kok,lagian ini masih pagi jadi biar aku berangkat sendiri saja."
"Cieee...nada suaranya sudah agak lembut ya haha.."
Naya kembali melirik kesal ke arah Yuan,"Aku masih punya sopan santun buat hormati orang tua iihh.. Bicara kasar salah,bicara lembut protes,ribet tahu nggak..!"
"Iya bagus seperti itu,anak pintar.."Mengusap lembut puncak kepala Naya dan karena tidak pernah di perlakukan seperti itu,Naya jadi berjalan mundur satu langkah.
dia kelihatan belum nyaman..ya sudahlah aku sudah lama nggak ngelakuin hal ini,biasanya setiap kali Tiara mau berangkat sekolah dia selalu aku manjain seperti ini,dan sekarang aku menganggap kamu sebagai Tiara ku yang hilang..
"Jadi nganterin nggak nih?"ucap Naya membuat Yuan tersadar dari lamunannya.
"Hmm iya donk jadi,kalau perlu nanti pulang aku jemput biar kamu nggak jalan kaki seperti ini."Yuan membukakan pintu mobil dan Naya segera masuk ke dalam mobil.
Lima menit kemudian mobil Yuan sudah terparkir di depan pintu pagar sekolahan.Yuan menyuruh Naya untuk berdiam di dalam mobil sementara Yuan turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Naya.Tentu saja hal itu menjadi sorotan banyak siswi yang mulai berdatangan,sebab Yuan berparas tampan,dewasa,dan memang bukan cerita baru jika Yuan jadi incaran para gadis.
"Mau di jemput jam berapa nanti?"kata Yuan tersenyum ke arah Naya meski banyak mata yang melihat mereka saat ini.
"Nggak perlu kak,ini saja terimakasih sudah di anterin."
"Katanya mau manggil Om kemarin?kenapa hmm wajah aku terlalu muda ya buat di panggil Om?"
"Ish..enggak..!!kamu itu belum nikah kak,jadi aku kasihan kalau panggil kamu Om."jawab Naya menjelaskan.
"Ya sudah aku masuk dulu kak, Terimakasih sudah di anterin,"Tersenyum menatap ke arah Yuan yang lebih tinggi darinya.
"Sama-sama dedek me..Sekolah yang rajin ya,"Yuan kembali mengusap puncak kepala Naya.
"Hmm siap kak,"Wajah Naya seketika terlihat aneh karena perlakuan Yuan terhadap dirinya saat ini.Naya segera masuk ke dalam gerbang pintu sekolah karena merasa cukup malu saat Yuan melakukan hal itu.Sementara Yuan masih memperhatikan Naya yang masih terlihat dipandangannya.
"Syukurlah aku sudah bisa membuat dia yakin jika aku pria baik-baik,entahlah...baru kali ini ada seorang gadis yang bersikap begitu padaku kecuali Tiara,karakter mereka sama..sebaiknya aku tanya salah satu murid dari sini,"memanggil seorang murid dengan isyarat tangan.
"Iya kak,"
"Maaf kalau boleh tahu sekolahnya bubar jam berapa ya??"tanya Yuan ramah.
"Jam setengah satu kak,"
"Hmm begitu,, makasih ya,"
"Baik kak,permisi,"
Yuan masuk ke mobilnya dan melaju meninggalkan sekolahan bersamaan dengan datangnya motor Taendra yang terlihat langsung menuju ke arah parkiran untuk memarkirkan motornya.Vero dan Erin sudah menunggu kedatangan Taendra di sebuah tempat duduk di taman.
"Kirain nggak masuk,"sapa Vero ramah.
"Aku nggak mau absen cuman gara-gara hal nggak penting itu."
Ketiganya berjalan menuju kelas bersama sambil membicarakan rencana mereka hari ini.
"Rencana kita lakuin istirahat saja,biar seru hahaha di kantin kan banyak orang,"ucap Vero tertawa.
"Terserah...!! Kamu mau balikin itu surat kapan?kalau aku yang kalian suruh balikin mending aku nggak masuk sekolah deh..Geli banget kalau harus deketan sama dia..Uhh.."runtuk Taendra.
"Oke kamu terima beres saja pokoknya.."
Naya sudah sangat salah jika mencintai Taendra,karna Taendra bukan lelaki sebaik kelihatannya.Dia hanya seorang pengecut dan pecundang yang bersembunyi di balik senyum palsunya.
__ADS_1
***
Kantin sekolah..
Siang ini Naya hanya duduk berdua bersama ines untuk menikmati makan siangnya.Rea terpaksa harus izin pulang karna ada kepentingan keluarga mendadak.Ines dan Naya baru saja membahas soal surat karena belum mendapatkan kabar apapun,Namun tiba-tiba Vero dan Erin duduk di hadapan mereka dengan tatapan tajam menatap ke arah Naya.Wajah Naya seketika pucat pasi seolah dia paham atas kedatangan Vero dan Erin saat ini.
Astaga apa kak Vero dan Erin marah gara-gara surat kemarin... Naya menelan saliva-nya sambil tertunduk lemas.
"Kamu punya kaca nggak di rumah?"Tanya Vero ketus sambil menatap lekat ke arah Naya.
"Maksudnya kak?"Naya mencoba mengangkat wajahnya menatap manik Vero yang kelihatan sangat marah.
"Selain muka kamu yang hancur ..!! Kamu juga ada gangguan pendengaran ya?..haha,Kamu punya kaca nggak di rumah..!!,"Erin mengulang lagi ucapan tersebut dengan penuh penekanan.
"Ada kak..."jawab Naya lirih.
"Berkaca dulu sana..!! baru nulis surat ini,"Vero melemparkan amplop biru ke wajah Naya."HEI TEMEN-TEMEN SEMUA...KALIAN TAHU NGGAK??KEMARIN SI NAYA NIH MENGIRIM SURAT KE SI TAENDRA,NIH BACA SURATNYA,"Vero mengambil surat yang tergeletak di meja dan melemparkannya sembarangan,seseorang siswa memunggutnya lalu membacanya dengan keras.
Naya hanya terdiam mendengar seisi kantin yang saat ini menertawakannya.
"Ish ... Ternyata kak Tae pengecut ya,"sahut ines membela.
"Heiii maksudnya apa kamu ngomong seperti itu??"
"Kembaliin sendirilah kesini,,Kenapa nyuruh orang seperti ini..!!"
"Dia itu jijik lihat muka dia..!!!"Menunjuk ke arah Naya.
"Hei kak Vero yang sok cantik,, dengerin!! dia itu cuman sekedar ngungkapin perasaan saja!!nggak lebih..!! mau di terima atau enggak bukan masalah besar kok,jangan seperti inilah caranya nolaknya.."ucap Ines mencoba membela Naya.
"Kalau mau nyatain cinta itu berkaca dulu heiiii..!!wajah mirip pengorengan saja sok mau miliki Taendra,"jawab Vero yang tidak sadar akan kesalahannya.
"Wajarlah beb mereka itu sama-sama nggak punya otak jadi seperti itu deh,,ngelakuin apa-apa nggak di pikir dulu."
"Iya kak maaf sudah lancang,sampaikan kata maaf aku buat kak Tae ya karena sudah berani ngirim surat seperti ini"ucap Naya lirih.
"Ngapain kamu minta maaf sih Nay..!kak Tae itu yang pengencut,kalau tahu seperti ini,Aku bakal ngelarang kamu buat suka sama dia,"Imbuh ines yang tidak terima dengar perkataan Vero dan Erin.
"Intinya begini..!!Kamu tidak perlu berharap sama taendra,wajah kamu itu bukan selevel sama dia..Perbaiki wajah kamu dulu baru deh kamu boleh bikin surat norak seperti itu.Tapi....itupun kita nggak tahu wajah kamu bisa di perbaiki atau hancur permanen,"Erin dan Vero kembali tertawa lepas sambil melihat ke arah wajah Naya yang pucat pasi.
"Kalau kamu berani ngirimin surat norak itu lagi!!.. siap-siap saja sekolah kamu nggak bakal bisa berjalan baik!! ngerti nggak..!!"
"Ngerti kak,"jawab Naya lirih.
Ines akan angkat bicara namun tangan Naya mencegahnya,"Sudah nes biarin,"ucap Naya lirih sehingga Vero dan Erin pergi begitu saja.Ines menatap wajah Naya yang pucat pasi karena kejadian ini,bagaimana tidak,seluru isi kantin menertawakannya saat Boby membaca surat tersebut keras-keras.
"Maaf nay..?"ucap ines lirih seolah ikut merasa bersalah.
"Ini bukan salah kamu kok."
"Harusnya aku nggak setuju sama ide Rea,"mengusap lembut punggung Naya.
"Sudahlah aku nggak apa-apa,ini buat pembelajaran kita,"ucap Naya mencoba tersenyum ke arah Ines.
"Pokoknya aku harus bicara sama kak Tae soal ini..!"
"Nggak perlu ines.."
"Aku mau bilang kalau dia ternyata hanya seorang pengecut."
"Nggak usah nes,ini sudah cukup buat aku malu,jadi kamu nggak usah bilang apapun lagi,aku udah merasa lebih baik kok.Yang pasti aku sudah merasa lega karna tahu jawabannya meskipun nggak sesuai sama rencana kita."ines pun memeluk erat Naya seolah tahu jika saat ini Naya sedang berbohong.-
Apa Naya akan melupakan cinta pertamanya??
ikuti terus ceritanya😁
silahkan 👍
komen💬
klik♥️
Vote juga donk🙋
__ADS_1
terima kasih ♥️