
Lihat, kan? Betapa menyebalkannya keluarga Dominique itu. Apa lagi masih satu garis keturunan dengan bosnya. Pastilah sifat sebelas dua belas, mirip-mirip.
Hanya perkara tidak dibalas saja sampai mencecar pertanyaan begitu banyaknya. Memang apa salahnya? Toh tidak ada kewajiban seseorang untuk membalas, lagi pula juga bukan pesan yang terlalu penting dan urgent untuk ditanggapi.
Dakota benci sekali situasi seperti sekarang. Ditatap seolah ia memiliki kesalahan. Padahal sebatas mengabaikan pesan.
“Karena aku sedang sibuk, pekerjaan banyak.” Oke, dari ribuan alasan yang bisa diucapkan, Dakota memilih paling aman. Memang benar begitu adanya. Bahkan mencari kekasih saja tak ada waktu karena sudah lelah dan pusing oleh pekerjaan.
Berusaha untuk tetap ramah. Jika dengan bosnya ia bisa santai saat bicara, layaknya bersama teman. Tapi, dengan pria yang kini di hadapannya justru sebaliknya. Dakota terkesan formal seperti atasan dan bawahan.
Dia tak mengatakan kalau memang sengaja menghindar karena tidak ingin memiliki hubungan apa pun.
“Oke, aku bisa mengerti jika kau sibuk. Tapi, setidaknya katakan sesuatu padaku, jangan dibaca saja,” pinta Brennus.
“Jika pesannya penting dan berhubungan dengan pekerjaan, maka akan ku balas dengan cepat, Tuan. Berhubung isinya—ya ... tidak terlalu mendesak untuk dibalas, jadi ku abaikan saja.” Namanya juga Dakota, terlalu jujur, walau sebenarnya sudah mencoba untuk ditahan tak mengatakan.
__ADS_1
Dakota lalu tersenyum kikuk. Rasanya canggung sekali. Mana mulutnya sulit ditahan supaya tak asal.
Brennus menghela napas. Setidaknya sekarang ia tahu kenapa wanita itu tak membalas. Bukan karena membencinya. Itu sudah cukup membuatnya lega.
“Kalau mulai dari sekarang aku minta kau untuk membalas pesanku meski tidak penting, apa kau mau?” tanya Brennus.
“Maaf, tidak.” Dakota meringis. Bagaimana ceritanya mau mengiyakan kalau ia saja sedang berusaha menghindar.
“Why?”
Lagi pula kenapa harus ada alasan untuk keputusannya? Hidup-hidupnya, bebas saja menentukan keinginan sendiri, kan? Sekarang Dakota jadi bertambah pusing menghadapi pria yang sudah bercinta dengannya walau hanya sekali.
“Kau membenciku?” tebak Brennus karena tidak kunjung mendapatkan jawaban juga.
“Bisa dibilang begitu.” Dakota langsung membekap mulut menggunakan kedua tangannya. Sial memang, punya jiwa jujur itu terlalu melelahkan, tidak bisa diajak berbohong dan menutupi apa pun.
__ADS_1
Brennus terkejut mendengar itu. “Memang aku salah apa sampai kau membenciku?”
“Bukan itu maksudku.” Entah untuk apa juga Dakota harus meluruskan, tapi ia tetap memberikan alasan. “Aku terlalu sibuk, dan malas meladeni siapa pun. Hidupku telah didedikasikan sepenuhnya untuk kerja, kerja, dan kerja.”
“Baiklah, kalau ku telepon, apakah akan kau angkat?” Brennus tidak mau memaksa, lagi pula wajah Dakota seperti tak nyaman.
“Em ... jika urusan kerja, iya, kalau tidak, maaf.”
Brennus menghembuskan napas kasar. “Kerja terus isi pikiranmu. Memangnya kau tidak mau dekat denganku?” Semuanya saja ditolak, membuatnya jadi kesal.
“Aku tidak ada keinginan untuk dekat denganmu.” Tidak perlu basa-basi atau berpikir dua kali, Dakota langsung menolak saat itu juga.
Brennus sampai melongo mendengar jawaban yang sangat jelas dan lantang itu. Begini, mereka sudah bercinta walau semalam. Tapi ia yang mengambil virgin Dakota. Seharusnya wanita itu marah dan memaksanya untuk tanggung jawab, bukan? Padahal ia sudah mempersiapkan untuk hal itu. Kenapa justru yang terjadi malah sebaliknya? Apa tak salah dengar telinganya? Atau mungkin lidah Dakota keseleo salah ucap?
Normalnya begitu, kan? Menuntut tanggung jawab. Ini kenapa yang terjadi padaku justru tidak sesuai dengan yang ku bayangkan?
__ADS_1