One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 41


__ADS_3

Meski wajah Dakota nampak cemberut saat melahap masakannya, tapi di mata Brennus tetaplah menarik. Wanita itu jadi terkesan menggemaskan. Marah, merajuk, namun jelas sedang kelaparan. Tak kuasa ia menahan kekehan. Sembari tangan terulur dan mengacak-acak rambut cokelat lurus.


“Seperti orang sebulan belum makan,” kelakar Brennus. Dia hanya menyeletuk sesuai penilaian.


Dakota berdecak ditambah cebikan bibir. “Memang, setiap hari makan roti selai terus.”


“Kenapa begitu?” Jemari Brennus menyentuh ujung bibir Dakota, menghilangkan sisa makanan yang menempel di sana.

__ADS_1


“Karena anakmu terlalu pemilih untuk makan. Maunya masakan daddynya. Tapi, yang membuat ada janin di dalam perutku ternyata menghilang,” sindir Dakota. Jelas jika ditujukan pada pria di sampingnya karena mata pun melirik ke sana. “Ku pikir sibuk kerja, nyatanya mengurus mantan.” Kemudian kepala melengos.


Brennus menahan senyum. Merasa dicemburui, senang sekali. Meski Dakota tidak meminta penjelasan tentang Laura. Tapi, sepertinya tetap perlu memberi tahu supaya tak salah paham berkepanjangan.


“Aku tidak bermaksud meninggalkanmu selama satu bulan ini. Dari jauh tetap memantau dan memastikan jika kalian baik-baik saja.” Brennus sambil mengusap perut yang terasa keras. “Kau selalu tidak mau menerima aku, meski sudah didekati dan bujuk dengan berbagai cara. Jadi, keluargaku menyarankan untuk coba sedikit menjauh, agar kau bisa merasakan ketidakhadiranku, dan sadar apa arti hidupku untukmu.” Menumpukkan telapak lebar ke atas punggung tangan Dakota. “Jadi, apa kau sudah merasakan kehilangan?”


Dakota terkekeh lucu dengan diri sendiri. Bisa-bisanya tak paham kalau sedang dipermainkan. “Oh ... Brennus. Aku tidak memberimu kejelasan karena kau sendiri belum tahu kenapa memiliki perasaan padaku.” Bergeleng pelan seraya menepis tangan sang pria. Dia tidak habis pikir, ternyata satu keluarga Dominique tahu semua dan saling memberikan saran. “Padahal aku hanya ingin kau menyelami hatimu sendiri.” Menepuk pelan dada Brennus. “Rupanya masih ada masa lalu yang belum bisa dilupakan.”

__ADS_1


Brennus tak diam saja. Lekas menyusul dan sebelum Dakota berhasil keluar, ia peluk tubuh itu dari belakang. Tahu kelemahan sang wanita, diusap perut, maka telapak lebarnya melakukan itu supaya tidak ditinggal begitu saja. “Aku tidak ada maksud bertemu atau berhubungan lagi dengan mantan,” jelasnya.


Dakota hanya diam, enggan memberi tanggapan. Memberikan waktu untuk Brennus menjelaskan.


“Laura terus menghubungiku meski nomornya sudah ku blokir, dia menggunakan nomor baru terus. Tak sampai di situ, dia juga menelepon kantor. Itu sangat mengganggu. Jadi, aku putuskan untuk menemuinya karena mau memberikan peringatan supaya berhenti mengacau.” Brennus menjeda sejenak. Ia kecup pundak sang wanita yang sangat dirindukan. “Tapi, Laura masih tidak terima jika hubungan ku akhiri begitu saja. Dia terus berusaha mengajak aku balikan.”


“Terus, kau mau?” tanya Dakota.

__ADS_1


Memegang kedua pundak, Brennus memutar tubuh Dakota hingga mereka saling berhadapan. Menggeleng sebagai kata tidak. “Kini keinginanku hanya satu, kau.” Telunjuk menoel hidung sang wanita. “Laura tidak lagi penting dalam hidupku, karena pusat duniaku kini ada padamu.”


Brennus menangkup kedua pipi Dakota, sedikit mendongakkan wajah wanita itu. Ketika mata tertuju pada bibir, rasanya ingin ia sosor sekarang. Dan ... ya, dia benar-benar melakukan itu. Mencium Dakota tanpa izin. Dia tidak takut didorong dan ditolak. Setidaknya rindu tersalurkan meski dalam wujud ciuman yang kaku, ia tak dibalas sama sekali, tapi juga tak ditolak.


__ADS_2