
Pergi ke toilet itu bisa cepat jika Dakota tidak dicegah oleh Brennus. Berhubung sudah tak tahan lagi, akhirnya ia menumpahkan seluruh isi perut di depan pria itu. Dia tidak sengaja, salah sendiri menahan tangannya.
Kemeja biru Brennus jadi kotor, hingga sepatunya juga. Tapi, itu tidak menjadi masalah. Justru kini mengkhawatirkan kondisi Dakota.
Menghiraukan noda-noda itu, belum berencana membersihkan. Brennus meraih pundak sang wanita. “Kau sakit, Dakota. Ayo, aku antar periksa,” ajaknya.
Namun, dibalas gelengan kepala. Dakota menepis tangan pria itu. “Aku baik-baik saja, hanya mual karena melihatmu.” Berharap dengan mengatakannya bisa membuat Brennus marah dan membencinya. Kalau perlu ilfeel setelah ia nampak menjijikkan.
“Seburuk itu, kah?” Brennus kini mengambil jarak. Masuk ke toilet untuk melepaskan pakaiannya yang kotor. Dia buang itu ke tempat sampah, lalu mengganti dengan baju milik Aloysius yang memang ditinggal di kantor.
“Jika kau berpikir aku akan menyerah mendekatimu. Maka, salah besar.” Brennus keluar lagi dengan senyum penuh semangat.
Ada hembusan napas kasar diiringi lelah dari seorang Dakota. Dia kehabisan kesabaran. Selama ini mencoba bertahan demi gaji besar. Tapi, semakin dirasakan, ternyata tidak betah. Butuh kewarasan. Kalau kerja begini terus, yang ada pusing sendiri.
Sejak tiga hari lalu sudah menimbang secara matang tentang keputusan mengundurkan diri. Nampaknya sekarang adalah waktu yang memang tepat.
__ADS_1
Dakota telah membuat surat pengunduran diri sejak kemarin. Namun ragu-ragu untuk memberikan. Sekarang tidak lagi. Tekatnya bulat. Lagi pula, pengalaman juga sudah ada, pasti banyak perusahaan yang mau menerima walau gaji tidak sebanyak sekarang. Tak masalah, setidaknya dia bisa waras dan kerja sesuai waktu, bukan seminggu penuh.
Menelusupkan tangan ke dalam tas. Dakota meraih amplop cokelat.
“Ini hanya pemikiranku saja, apa mungkin kau hamil?” tebak Brennus. Ia berdiri di depan sang wanita yang tengah duduk.
“Ha? Jangan sembarangan, mana mungkin.” Sedetik langsung Dakota tanggapi dengan tidak terima.
“Mungkin saja, kau muntah. Katanya, tanda orang hamil salah satunya adalah mual.”
“Iya ... kau keracunan cairanku. Siapa tahu, kan?” Brennus mengedikkan bahu.
“What? Kau bilang apa?” Dakota sampai belum sempat menyodorkan surat pengunduran diri itu.
“Keracunan cairanku. Malam itu, sengaja ku keluarkan di dalam.” Bagai tak merasa berdosa, Brennus justru menyentakkan dua alis ke atas.
__ADS_1
Sedangkan si wanita melotot seperti orang yang siap melahap manusia di hadapannya. Tahan ... tahan ... jangan marah, walau rasanya ingin sekali mencekik leher Brennus.
Awalnya Dakota santai dan tidak berpikiran sampai ke sana. Hamil? Mana mungkin. Ia mengira kalau Brennus pasti melakukan dalam batas aman. Ternyata, baru tahu sekarang jika pria itu ... Argh sialan sekali!
Semua belum pasti. Bisa jadi mualnya sebatas kelelahan bekerja karena seminggu full tidak ada libur. Dakota masih berpikiran positif. Tetap kembali pada rencana awalnya, mengundurkan diri. Maka, hidup akan lebih tenang.
“Maaf, sepertinya aku tidak kuat lagi bekerja di sini.” Dakota memberikan surat penginduran diri.
Brennus hanya melihat dengan satu alis terangkat sebelah. “Aku tidak memiliki kewenangan untuk menerima itu. Karena hak paling tinggi tetap ada di tangan Aloysius. Jadi, kau tak bisa mengundurkan diri begitu saja.” Dia toel dagu sekretaris yang selalu cemberut tapi selalu terlihat cantik hingga ia terpikat terus.
“Oke, aku akan ajukan pada Aloysius.” Dakota meraih tas. Mengayunkan kaki dan siap keluar.
“Kau mau ke mana?” Brennus mengekor di belakang.
“Peternakan di mana bosku yang asli berada.”
__ADS_1
“Gila ... itu jauh sekali. Ku antarkan. Tapi, sebelumnya kita ke rumah sakit dahulu untuk periksa apakah benar kau hamil atau tidak.” Brennus menggenggam tangan sang wanita. Erat, hingga tak mudah dilepaskan begitu saja.