One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 40


__ADS_3

Dakota meraup seluruh wajah Brennus dengan satu tangannya. Tidak cukup menutup seluruhnya karena telapak tak terlalu lebar. Ia usap kasar karena gemas sekali. Bisa-bisanya dalam kondisi sedang marah begitu masih digoda.


“Loh ... kenapa emosi? Dugaanku benar?” Brennus mencekal pergelangan sang wanita supaya berhenti membuat wajahnya berantakan. Alis naik turun genit.


“Salah!” sinis Dakota. Kepala melengos karena mimik Brennus itu menyebalkan sekali. Apa lagi seakan menunjukkan biasa saja dan tidak merasa aneh mendekatinya setelah bertemu juga digelayuti oleh mantan.


Dakota menghela napas. Harus tahan diri, ingat janin di dalam kandungan. Ia bergerak menjauhi sumber kekesalannya.


Tapi, namanya juga Brennus, dia kejar dan dirangkul. “Ayolah ... akui saja. Memang apa susahnya bilang rindu padaku?” pancingnya tanpa gentar.


“Cih! Malas. Tadinya anak ini yang rindu bertemu daddynya. Tapi, sekarang sudah tidak lagi. Dia sedang marah.” Dakota sembari menepis tangan yang bersemayam di pundak. “Malas melihat pria yang tidak konsisten dengan ucapannya. Mulut tak bisa dipercaya,” sindirnya kemudian.

__ADS_1


“Pasti karena Laura, ya?” Brennus menarik tangan Dakota, sedikit ditarik ke arahnya, lalu saat berhasil menubruk dada, langsung ia dekap. “Aku bisa jelaskan tentang itu.”


“Aku tidak butuh penjelasan apa pun. Lagi pula, kau pria lajang. Bebas mau dekat dengan siapa saja. Bukan urusanku!” Dakota berusaha mendorong dada Brennus. Walau sebenarnya dia senang dengan pelukan dan menghidu aroma tubuh pria itu. Tapi, rasa kesal di dada masih sangat mengganjal.


Sayangnya, Brennus sangat erat. Tidak akan melepaskan wanita yang ia rindukan sejak sebulan lalu. Menjauh dari Dakota sangatlah berat. Demi mengikuti saran pamannya, jadilah ditahan supaya tidak menemui. Lalu, sekarang terbayar, ia yang kini dicari. Namun, sedikit sial saja karena waktunya tidak tepat.


“Baiklah jika tidak ingin mendengar penjelasan. Tapi, kita makan dulu, ya? Perutmu sepertinya bunyi,” bujuk Brennus dengan suara sangat halus.


Anaknya tidak bisa diajak kompromi. Dakota sedang aksi marah, eh ... yang diperut protes keroncongan. Mau menolak, tapi dia lapar. Kalau tak makan masakan Brennus, pasti akan muntah dan berakhir sia-sia.


Brennus pernah membawakan Dakota dari restoran terenak supaya tidak makan masakannya yang pas-pasan dan tak layak. Tapi, selalu dimuntahkan dan tidak habis. Lalu, minta dibuatkan dari tangannya sendiri. Padahal jauh dari kata sedap, namun habis juga dan tidak ada yang dibuang sedikit pun. Jadi, bisa disimpulkan kalau selama hamil, anak itu sangat berpihak padanya.

__ADS_1


Dakota tidak menolak, justru pasrah mengikuti kemanapun ia dibawa pergi. Masuk ke dalam sebuah pintu dan langsung menghirup aroma masakan.


“Baunya tidak enak,” keluh Dakota. Ia capit hidung supaya tak mual-mual. Anaknya terlalu pemilih.


“Duduk di sini, aku minta juru masak itu berhenti sebentar.” Brennus mendudukkan sang wanita di kursi kayu biasa berbentuk bulat.


Pria itu memberikan perintah supaya semua orang keluar terlebih dahulu. Jam makan siang karyawannya diundur sebentar hanya demi memakai dapur untuk memasakkan Mommy dari anaknya.


Brennus memakai apron. Kemudian ia memasak asal tanpa melihat tutorial dari youtube lagi. Improvisasi saja.


Dari posisi duduk Dakota, ia bisa leluasa menatap punggung yang sibuk. Kini tidak lagi mual. Aneh sekali, kalau yang masak Brennus langsung luluh.

__ADS_1


“Kau tidak mengikuti tutorial lagi? Sudah mahir?” tanya Dakota. Sejak tadi ia amati, sang pria selalu asal dan menggunakan cara sendiri.


Pertanyaan itu terlontar tepat saat Brennus sudah selesai masak. “Untuk apa pusing-pusing melihat video? Kalau pada akhirnya enak atau tidak pun tetap kau lahap habis tanpa sisa.” Ia mendekat, lalu meletakkan carbonara di depan sang wanita. “Makan yang banyak, ya ... cantik.” Sempat-sempatnya mencuri kecupan di bibir dahulu. Dia rindu, sudah lama tidak melakukan itu.


__ADS_2