
Menahan diri tak membalas ciuman dari wanita yang amat dicintai merupakan hal paling sulit dilakukan Brennus. Tapi, dia berhasil membeku walau Dakota sedang mencoba menarik lidahnya dan membelit. Terkesan kaku, namun masih mau tahu sampai mana bisa meluluhkannya.
Sejatinya, hati Brennus sudah berbunga-bunga dan kembang api bagai meletup di dada saat Dakota mengungkapkan kata cinta. Benar itu yang ia tunggu, hanya saja masih ada satu lagi terlewat. Ajakannya menikah.
Merasa tidak mendapatkan balasan, Dakota menarik kepala ke belakang dan menyudahi ciuman. Memasang wajah cemberut. “Aku seperti mencium tembok,” gerutunya, seraya mengusap bibir.
“Baru ku abaikan begitu, sudah tidak tahan menghadapi aku?” Brennus menarik sebelah sudut bibir, meremehkan perjuangan sang wanita yang baru secuil. “Lantas, bagaimana denganku yang berbulan-bulan mencoba meluluhkan hatimu?”
Dakota merasa disindir. Bukan ... lebih tepatnya dipaparkan tentang kenyataan bahwa apa yang ia lakukan belum setara jika dibandingkan Brennus. Kepalanya menunduk, lalu tak lama menatap sang pria dengan sorot penuh keyakinan dan tanpa takut.
“Aku sudah memutuskan untuk menerima lamaranmu. Mari kita menikah jika kau masih ingin hidup bersama denganku.” Kalimat yang Dakota keluarkan sangat tegas dan tiada keraguan.
__ADS_1
Setidaknya Dakota sudah mencoba untuk minta maaf atas kesalahan yang ia perbuat. Menyadari kalau keterlaluan. Tapi, seandainya masih diperlakukan dingin begitu, lebih baik angkat tangan. Dia bergerak menjauhi kursi kerja Brennus setelah mengatakan keputusan terbesar dan bisa merubah hidupnya karena tidak akan sendiri lagi.
“Marahlah terus kalau kau memang senang mendiamkanku.” Dakota meraih tas yang ditinggalkan di atas sofa. “Aku lebih baik pulang daripada menurunkan harga diri pun masih tetap tak membuatmu kembali seperti dahulu.”
Tak bisa dibiarkan wanitanya pergi begitu saja setelah mengeluarkan seluruh isi hati. Brennus merasa cukup memberikan pelajaran pada Dakota. Lagi pula sekarang dia tidak digantung hubungannya.
Persetan dengan mencintai dalam diam. Brennus tak piawai melakukan itu. Dia lebih cocok mengungkapkan cinta secara ugal-ugalan dan terang-terangan.
Kedua tangan Brennus menangkup pipi sang wanita, mendongakkan Dakota agar ia mudah meraup bibir dengan polesan lipstik tipis itu. Ciuman yang ia berikan sebagai tanda cinta. “Terima kasih sudah membalas perasaanku dan tidak menggantungku lagi. Aku sangat mencintaimu dan ku pastikan akan memberikan kehidupan penuh kasih, mari kita besarkan anak ini dengan limpahan perhatian yang tidak terhingga.”
Setelah mengusap perut buncit Dakota, Brennus membopong wanitanya dan dibawa ke ruang istirahat yang menyatu dengan ruang kerjanya. Ada satu ranjang berukuran besar, perlahan merebahkan si ibu hamil ke sana.
__ADS_1
Brennus ikut naik juga. Rasanya ingin mengungkung Dakota. Tapi, melihat perut buncit itu rasanya tidak mungkin bisa menindih. Jadi, dia memiringkan tubuh, begitu juga dengan Dakota.
“Apa artinya sekarang aku boleh melakukannya?” tanya Brennus. Tangannya menyingkirkan rambut panjang yang sedikit menutupi wajah cantik.
“Melakukan apa?” Dakota hanya pura-pura tak paham, padahal dia sangat tahu apa yang dimaksud.
“Melucuti seluruh pakaianmu, lalu aku juga sama, menyatukan badan polos kita, membuat bunyi penyatuan, dan suara erotis memenuhi ruangan ini,” jelas Brennus. Padahal belum dijawab iya, tapi tangannya sudah melepaskan kancing kemejanya sendiri.
“Em ....” Dakota mengangguk memperbolehkan. “Ajari aku cara bermain di atas, sepertinya perut buncitku tidak mungkin nyaman jika terlentang di bawah,” bisiknya dengan suara sensual, tepat di telinga Brennus.
“Oh, dengan senang hati.” Brennus berlapang dada kalau harus terlentang di bawah. Ia menarik tangan Dakota dan menepuk pahanya supaya sang wanita duduk di sana. “Mari, ku beri tahu tutorial woman on top.”
__ADS_1