One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 35


__ADS_3

“Apa yang membuatmu mencintai aku?” tanya Dakota. Setiap rasa pasti ada alasannya, bukan? Dia hanya ingin tahu. Mereka dekat juga setelah tragedi semalam, kemudian hamil, dan ada anak yang memang selalu luluh ketika ada di dekat Brennus.


Jika Dakota yang ditanya kenapa menerima Brennus, tentu dia bisa menjawab dengan lantang dan lancar karena pria itu selalu berusaha memberikan yang terbaik. Tanggung jawab, ia akui, tidak pantang menyerah.


Namun, Brennus menyukainya dari sisi mana? Selama ini pun Dakota tidak pernah memperlakukan baik, selalu ketus, berusaha menghindar. Jadi, jika pria itu mengatakan ingin menikahinya karena cinta, wajar saja kalau dipertanyakan karena ia merasa tak melakukan apa pun yang bisa membuat seseorang terpikat.


Sementara orang yang ditanya masih terdiam. Brennus bingung mau menjawab apa. Ketagihan? Rasa bersalah? Atau apa? Perasaan ingin berada di sisi Dakota selalu muncul begitu saja tanpa ada alasan. Hanya karena ingin. Tapi, mana mungkin dijawab begitu, pasti tidak akan diterima.


Brennus pikir, dengan adanya anak di dalam kandungan itu, dan Dakota nyaman tiap kali dalam dekapan dan usapannya akan mudah meluluhkan hati. Nyatanya, tetap saja sulit. Tidak semudah ia mendapatkan Laura dahulu yang sekali diajak menjalin hubungan, langsung mau. Menghadapi wanita yang kini masih menatapnya itu sangatlah menantang. Ada dada yang terus berdebar.


Dakota tidak segera mendapatkan jawaban apa-apa. Justru mereka saling tatap dalam waktu lumayan lama. Akhirnya ia berdeham karena sudah beberapa menit berlalu.

__ADS_1


“Masih bingung dengan perasaanmu? Maka, pikirkan dulu baik-baik. Jika sudah tahu apa yang membuatmu mencintaiku, baru kembali lagi.” Dakota mendorong kursi ke belakang, lalu berdiri. “Pastikan sangat rasional, bukan karena anak ini,” imbuhnya kemudian setelah memunggungi.


Brennus menyangga kening. “Kenapa mau menikah harus sepusing ini?” gumamnya.


Mungkin karena itu adalah Dakota. Wanita yang tak pernah merasa dicintai, bahkan oleh keluarga sendiri.


...........


Brennus memang belum berhasil mendapatkan kata ‘yes’ dari Dakota. Tapi, wanita itu tidak pernah menghalangi untuk bertemu. Setiap hari ia selalu menemani. Lebih tepatnya berusaha menjadi sosok yang selalu ada saat dibutuhkan.


Setelah pulang kerja pun Brennus langsung menuju tempat Dakota juga. Pokoknya dia adalah manusia paling siaga, tidak pernah mengeluh walau belum diberi kejelasan.

__ADS_1


Brennus tidak pernah menginap di apartemen sang wanita. Dia pulang ketika sudah dini hari, setelah ketiduran beberapa jam karena terlalu hanyut tiap memeluk Dakota.


Kaki yang masih terbalut celana kerja itu masuk ke apartemennya. Brennus pindah ke unit sebelah Dakota agar lebih mudah bertemu.


Baru juga menutup pintu, tekejut oleh keberadaan dua orang pria. Daddy dan pamannya.


Ia lirik jam, sudah dini hari. “Kenapa kalian di sini? Dan kenapa bisa masuk?”


“Mau mengejekmu karena mendapatkan satu wanita saja lama sekali,” seloroh Dariush dengan wajah tengilnya.


“Tentu saja aku tahu. Kau anakku, sangat tahu angka kesukaanmu.” Delavar menjawab pertanyaan kedua.

__ADS_1


Brennus mencebikkan bibir. Ia hempaskan tubuh ke sofa kosong. Berhubung ukuran apartemen itu kecil, dan ada satu sofa saja, jadilah mereka bertiga saling berhimpitan. “Aku sedang berusaha.”


Dariush melingkarkan tangan di pundak keponakannya. “Jika berjuang terus mengikuti cara daddymu tidak mempan. Sudahlah, tarik ulur saja seperti aku. Jika dia merasakan kehilangan, pasti akhirnya mau juga. Tapi, kalau tidak berhasil juga, tandanya kau memang disuruh menyerah.”


__ADS_2