
“Tidak punya, lagi pula untuk apa juga aku memiliki testpack,” jawab Lindsay.
“Siapa tahu kau hamil lagi, kan,” ucap Brennus.
“Memangnya butuh untuk apa?” tanya Aloysius. Mengajak kembarannya agar duduk di sofa dan mereka tidak mengobrol sambil berdiri.
“Cek Dakota. Firasatku mengatakan kalau dia sedang hamil.” Ia hempaskan tubuh di sofa.
Wajah Aloysius seketika terkejut, tak berkedip, hingga lupa napas sesaat. “Kau?”
“Iya ... aku sudah pernah melakukan dengan sekretarismu.”
“Pantas saja minta diberikan posisi di perusahaanku. Ternyata mau pendekatan.”
“Begitulah.” Brennus kembali mengisi indra penglihatan dengan sang ipar. “Apotik di sini jauh?”
Mengangguk. “Lumayan.”
“Kalau begitu, aku titip Dakota sebentar.” Begitu semangatnya, Brennus sudah berdiri.
“Mau ke mana?” Aloysius mencegah kembarannya pergi.
“Beli testpack, aku harus menuntaskan rasa penasaran ini.”
“Tidak perlu, titip saja pada Andrew. Dia sedang di kota,” cetus Lindsay memberikan ide. Menunjuk ponsel suaminya menggunakan dagu. “Tolong hubungi Andrew,” pintanya kemudian.
__ADS_1
Brennus urung pergi. Kembali duduk dan mendengarkan kembarannya meminta pertolongan pada seseorang. Aloysius lalu kembali lagi berada di sebelahnya.
“Sudah, tunggu saja orangnya pulang,” beri tahu Aloysius. Sedikit memiringkan duduk. “Sekarang ku tanya. Kenapa kalian ke sini? Mau pendekatan menggunakan sapi juga?”
“Tidak, aku hanya mengantar Dakota yang keras kepala menginginkan bertemu denganmu.”
Alis Aloysius terangkat sebelah. Ini bukan hari biasanya sang sekretaris datang. “Untuk?”
“Dia mau mengundurkan diri.”
“What?” pekik Aloysius. Jelas sekali rasa tidak terima. “Meski aku selalu mengancamnya agar mengajukan surat pengunduran diri kalau melawan perintah, tapi tak ku sangka akan dilakukan juga.” Ada kepala menggeleng tidak percaya. “Ini pasti ada sangkut pautnya denganmu, ya? Kau melakukan apa pada sekretarisku?” tuduhnya dengan telunjuk terarah ke wajah Brennus.
“Santai, aku hanya terus menggodanya setiap hari, sabtu minggu ku suruh masuk agar bisa menatap wajahnya. Lembur sampai malam. Ya ... layaknya bos menindas bawahan.” Begitu bangganya pria itu menjelaskan tanpa merasa bersalah.
Sementara Aloysius sudah melepas sandal, lalu ia timpukkan ke kepala kembaran. “Pantas saja.”
“Tapi kau menyusahkan aku. Dakota itu sekretaris yang rajin, pekerjaan selalu selesai tepat waktu dan semua pasti beres. Kalau dia resign, bisa runyam semua urusannya,” gerutu Aloysius. Ia hembuskan napas dan menyandarkan punggung. “Kau itu bilang mau membantu kerjaan di kantorku, ternyata hanya merusuh saja. Kacau ... kacau.”
“Kau cukup tolak saja jika dia mengajukan surat resign. Gampang, kan?”
Kini kepalan tangan Aloysius mendarat di kening Brennus. “Bisa-bisa aku dilaporkan ke lembaga berwenang. Menghalangi warga negara yang ingin hidup lebih bahagia. Lagi pula salahmu juga. Kau harus tanggung jawab dengan mengurus penuh perusahaan.”
Brennus tak jadi menimpali karena pintu kamar di mana Dakota tidur pun terbuka. Wanita yang baru saja dibicarakan telah melangkah keluar dari sana.
“Bos,” panggil Dakota. “Aku ma—”
__ADS_1
“Iya, aku sudah tahu. Kalau kau mau resign, silahkan. Asal carikan lagi yang baru dan kau ajari sampai dia bisa.” Belum juga Dakota menyelesaikan satu kalimat, Aloysius sudah memotong.
Jika Brennus melotot tidak terima, kesempatan berduaan dengan Dakota jadi tak ada. Berbeda dengan si wanita yang tersenyum puas.
“Tenang, aku sudah ada kandidat. Dia temanku, mantan sekretaris juga. Jadi—” Lagi-lagi dipotong.
“Atur saja atur.” Aloysius tersenyum miring pada Brennus yang kini berwajah kecut.
“Kenapa kau justru memberikan izin?” protes Brennus.
“Suka-suka aku, karyawanku.” Aloysius bergerak menuju dapur. “Ayo sini, makan dulu,” ajaknya kemudian.
Obrolan berhenti di sana. Terjeda oleh makan malam.
Mereka pun berhenti mengunyah secara bersamaan karena ada pintu terketuk.
“Mungkin Andrew,” ucap Lindsay.
“Aku saja yang bukakan.” Brennus lekas menuju pintu. Tidak sabar mau mengambil titipannya.
“Ini, testpack sepuluh.” Andrew menyerahkan kantung plastik.
Brennus menerima dan membayar dengan uang lebih. Ia kembali ke meja makan, meletakkan benda-benda itu ke hadapan Dakota. “Setelah ini kau cek, apakah benar hamil atau tidak.”
Dakota mengerutkan kening. “Kalau tidak mau?”
__ADS_1
“Ya ... ku paksa.” Brennus menggendong wanita itu. Tidak peduli sudah selesai makan atau belum.
Membawa Dakota ke dalam kamar mandi. Lalu tak lupa mengunci bersama dirinya. “Sekarang, kau harus mengikuti perintahku. Jika tidak, maka kita akan berada di dalam sini terus, berdua.” Ada seringai di wajahnya. Mendekatkan kepala tepat di telinga sang wanita, tak lupa tangan merengkuh pinggul, sedikit menghimpitkan tubuh agar tak berjarak. “Dan ... entah apa yang akan ku lakukan selanjutnya.”