One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 38


__ADS_3

“Dakota, kenapa kau datang ke sini tidak bilang dulu padaku?” tanya Brennus. Dia langsung melepaskan tangan Laura yang terus menempel sejak tadi.


Ada raut terkejut di wajah Brennus. Pasti tidak menyangka kalau seorang Dakota Cynthia Higgins mau datang ke kantornya. Sangat langka, apa lagi sudah tak ada urusan pekerjaan juga.


Sementara Laura, berdecak. “Mengganggu saja, aku baru mau mendekati Brennus supaya balikan,” gerutunya dengan suara lirih. Ia tatap sebal dan tajam wanita yang duduk di kursi kerja mantan kekasih kesayangannya. “Lagi pula dia siapa? Sampai berani dan bisa masuk ke sini?”


Tidak ada yang meladeni Laura. Brennus bahkan meninggalkan mantannya begitu saja. Memilih untuk menghampiri Dakota. “Apa kau mencariku?”


Dakota masih belum mengedipkan mata. Pandangannya terasa panas saat menyaksikan dua manusia itu. Oke, tahu jika wanita yang kini berada dalam satu ruangan bersamanya adalah mantan Brennus. Tapi, kenapa harus terlihat mesra? Apa mungkin balikan? Atau masih ada rasa?

__ADS_1


Dakota menghembuskan napas dan menyandarkan punggung. Padahal baru juga merasakan haru karena fotonya dan USG anaknya sampai dibingkai. Kalau diletakkan ke atas meja, berarti sangat penting. Namun, kini terasa tidak berarti apa-apa ketika melihat dua manusia masih nampak dekat.


“Kalau ke sini, tentu saja mencarimu. Mana mungkin ku cari kembaranmu,” jawab Dakota dengan nada ketus. Dia akui ada perasaan dongkol di dalam hati. Rasanya ingin marah, tapi mereka tidak ada hubungan apa-apa dan jelas tak berhak mengatur.


Brennus berhenti di samping Dakota, ia usap puncak kepala berambut lurus berwarna cokelat itu. “Tadi bilang dulu kalau mau ke sini. Pasti aku jemput.”


Rasanya masih ingin marah. Dakota tak paham dengan perasaannya yang cemburu. Dia yakin kalau ketidaksukaan itu karena tidak terima dengan apa yang baru saja dilihat. Menepis tangan Brennus agar berhenti mengusap, amarahnya tidak menguap begitu saja hanya karena mendapatkan sentuhan di kepala.


Tidak pernah merasa dicintai orang tuanya, sekarang Dakota juga merasa Brennus tak sungguh cinta dengannya. “Bodoh sekali aku yang percaya jika keinginanmu menikahiku karena ada cinta.”

__ADS_1


Sudahlah, keinginan untuk bertemu Brennus mendadak hilang. Dakota menghirup udara dalam karena rasanya ingin menangis. Sebisa mungkin tak boleh meneteskan air mata. Apa lagi di depan wanita lain yang baru bermesraan dengan Daddy anaknya.


Dakota berdiri, meletakkan bingkai foto yang sejak tadi masih ia pegang. Hamil membuatnya sangat sensitif. Dia benci itu karena merasa mudah tersakiti. Padahal Brennus tidak salah. Pria itu hanya tidak bisa meyakinkan dirinya saja.


Kaki Dakota berjalan, mendorong dada Brennus agar tak menghalanginya. Berhenti sebentar di hadapan wanita yang ia tahu namanya Laura. Tidak ada kalimat apa pun yang diucapkan. Hanya sebatas tatapan sinis.


“Apa kau lihat-lihat? Belum pernah ku colok matanya?” ancam Laura dengan telunjuk dan jari tengah di tangan kanannya sudah terangkat ke atas.


Hanya ada senyum miring yang Dakota tunjukkan. Dia melanjutkan langkah kaki dan keluar dari ruangan.

__ADS_1


“Dia hanya mencintaimu, bukan Mommy,” gumam Dakota seraya mengusap perut. Saat di depan lift, ia seka aliran air yang tiba-tiba merembes keluar dari pertahanan.


__ADS_2