
Dakota merasa setiap hari adalah mimpi buruk karena lagi-lagi Brennus berkeliaran di depannya. Padahal sudah jelas ia katakan kalau tidak perlu bertanggung jawab. Tidak ada tuntutan apa pun. Dan lebih baik jika ada jarak membelenggu seperti biasa. Hidup normal tanpa menghantui ketenangan sedikit pun.
Kini setiap hari Dakota harus melihat wajah Brennus karena pria itu menguasai ruang kerja bosnya. Entah kenapa Aloysius tiba-tiba meminta bantuan keluarga. Padahal pekerjaannya juga setiap hari masih bisa diselesaikan walau jarak jauh.
“Sumpah ... menyebalkan sekali lebah satu itu,” gerutu Dakota saat berada di dalam lift sendirian.
Biasanya berangkat ke kantor adalah hal paling disukai dan pasti semangat mengais rezeki. Namun, kini tidak lagi. Dakota benci karena harus bertatapan dengan Brennus.
Seharusnya cukup diribetkan satu orang dari keluarga Dominique. Sekarang bertambah lagi.
Lift menunjukkan angka sembilan, satu lagi sampai tujuan. Dakota menyempatkan menarik napas sedalam mungkin supaya kesabaran bertambah. Tepat pintu terbuka, ia hembuskan beriringan dengan kaki melangkah.
“Demi gaji besar, Dakota ... kau harus tahan.” Dia menguatkan diri sendiri supaya tak menyerah begitu saja.
__ADS_1
Tiba di depan ruang bosnya, kepala wanita itu menengok ke kanan dan kiri. Mencari sesuatu. Seperti ada yang berbeda. Terasa aneh. Tapi apa?
“Ah ... di mana meja kerjaku?” Setelah menyadari tidak ada barang-barangnya, Dakota pun lekas mencari.
“Jangan-jangan ada yang mencuri? Memangnya laku dijual berapa meja dan kursi begitu?” gumam Dakota seraya menyusuri tiap ruangan yang ada di lantai itu.
Brennus baru sampai di kantor kembarannya. Langsung melihat wajah kebingngan wanita incaran. Kaki tentu saja tertarik untuk mendekati. “Mencari apa?”
“Meja dan kursi kerjaku,” jawab Dakota tanpa menatap orang yang bertanya, karena tahu itu suara Brennus.
Dakota perlu berdecak berkali-kali. Sialnya berurusan dengan keluarga itu. Selalu dipaksa. Bosnya tukang mengancam, yang kini bersamanya suka memaksa.
Sedikit terseok-seok karena roknya terlalu span dan heels sedikit kelonggaran. Jadi, Dakota harus menyeret kaki supaya sepatunya tidak mendadak lepas.
__ADS_1
Brennus membuka pintu ruang kerja kembarannya. Masuk ke dalam. Lalu menunjuk sesuatu. “Ini dia yang kau cari.”
Bibir melongo, mata membulat, Dakota dibuat kehabisan kata-kata dengan tingkah pria yang sepertinya tidak waras itu. “Kenapa dimasukkan ke dalam sini?”
“Supaya saat aku bekerja bisa mudah melihatmu,” jawab Brennus sangat santai.
Pundak terasa ada yang menyentuh, Dakota sedikit didorong menuju kursi, dan didudukkan ke sana. “Mulai sekarang, kita satu ruangan. Tidak ada bantahan karena kini aku juga bosmu.” Ia tepuk puncak kepala sang wanita sebanyak tiga kali.
“Aku tidak nyaman satu ruangan bersama orang lain,” tolak Dakota. “Membuat pekerjaan menjadi kurang fokus,” imbuhnya. Siap untuk memindahkan kursi dan meja. Menarik benda itu sendirian juga kuat. Dia terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Pulang pergi ke desa tempat bosnya berada pun kuat. Apa lagi hanya memindahkan itu.
“Berani kau memindahkannya, ku nikahi kau sekarang juga!” ancam Brennus. Wajahnya tidak datar ada senyum miring, tapi justru menyebalkan di mata Dakota.
Berdecak, akhirnya Dakota kembali duduk dan menarik kursi sedikit ke depan, menyembunyikan kepala di balik monitor agar tidak terlihat oleh manusia yang sejak tadi mengamatinya.
__ADS_1
“Kursiku jadi tak terasa nyaman lagi,” gerutu Dakota. Wajah cemberutnya semakin disinari oleh cahaya layar monitor yang baru saja menyala.
“Tidak nyaman? Sini, duduk di pangkuanku, pasti enak,” tawar Brennus. Kedua alis disentakkan ke atas seraya menepuk paha.