One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 29


__ADS_3

Dakota menolak saat dipaksa ke rumah sakit. Dia belum siap mendengar berita mencengangkan, seandainya tebakan Brennus benar. Hamil keturunan keluarga Dominique? Sama saja mengikat seluruh hidupnya.


Tak ada ikatan saja sudah cukup membuatnya pusing, apa lagi ditambah kenyataan jika dia mengandung anak Brennus. Fix, hidupnya semakin suram dan Dakota berharap mual-mualnya hanyalah sakit biasa.


“Dokter juga libur saat weekend, jangan mengada-ada.” Dakota memprotes seraya mendorong tubuh Brennus agar menjauh saat hendak menyelonong masuk ke dalam mobilnya. Ia segera masuk dan menutup pintu.


Sebelum terlambat dan dikunci dari dalam, Brennus berlari menuju pintu satunya. Ia lekas masuk dan duduk di samping sang wanita. Tidak peduli Dakota melotot galak. “Aku ada kenalan, tenang saja. Setidaknya, tuntaskan dulu rasa penasaranku. Urusan kau benar hamil atau tidak, pikir belakang. Tapi, firasatku tidak pernah salah.”


“Malas.” Mana mau Dakota mengikuti permintaan. Dia tetap melajukan kendaraan menuju peternakan.


Langkah pertama untuk hidup nyaman seperti sedia kala adalah jauh dari keluarga pemaksa, pengancam, dan sekarang bertambah lagi sifat buruknya, pongah. Lihat saja saat Brennus begitu percaya diri bahwa tebakannya benar. Rasanya ingin ditendang keluar dari mobilnya. Tapi, membuang waktu. Jadi, sudahlah, biarkan saja lebah itu berdenging terus. Walau pusing juga mendengar.


Brennus melihat beberapa kali Dakota menahan perut. Dia minta untuk berhenti dan bertukar, tapi tetap tidak mau.

__ADS_1


“Biar aku yang menyupir untukmu,” bujuk Brennus.


“Tidak, terima kasih, aku masih kuat,” tolak Dakota. Tanggung, sudah dua jam perjalanan. Ia juga khawatir kalau mobil tak sampai ke peternakan, justru dibawa ke rumah sakit.


“Aku tak memaksamu untuk periksa lagi. Janji, hanya mau mengantar sampai ke tempat Alo saja. Lihat kondisimu sekarang, jangan paksakan. Bagaimana kalau kau tidak fokus dan berakhir celaka?”


Menyerah, Dakota memang tidak kuat, beberapa kali matanya ingin terpejam. Akhirnya menepikan kendaraan dan mereka bertukar posisi.


“Kalau mau muntah, bilang saja, nanti aku berhenti,” tutur Brennus. Tangannya menyempatkan untuk mengusap puncak kepala dan kendaraan pun melaju.


Berhenti di peternakan, langit mulai redup, tak secerah tadi. Brennus melirik ke arah wanita yang nampak tenang dalam tidur.


“Gayanya mau menolak saat diantar, ternyata buka mata pun tidak.” Hanya bergumam, selepasnya Brennus turun, lalu menggendong Dakota tanpa membangunkan.

__ADS_1


Tangannya membawa beban, maka kaki pun digunakan untuk mengetuk pintu. Satu menit menunggu, si pemilik rumah terlihat menyapa dengan kerutan kening yang sangat dalam.


“Kenapa kau ke sini?” tanya Aloysius, pandangan berganti tertuju pada sekretarisnya yang ada di gendongan kembarannya. “Dan ... kau apakan dia sampai lemas begitu?”


“Banyak tanya, berikan aku masuk dulu. Wanita ini berat sekali.”


Brennus ke dalam saat Aloysius sedikit menyingkir.


“Ada tamu?” Lindsay sedang menggendong putrinya, langsung menunjuk kamar dekat ruang tamu supaya sang ipar merebahkan Dakota di sana.


“Istirahat yang nyenyak, pasti kau lelah marah-marah terus denganku.” Berhubung wanitanya tidur, kesempatan untuk mengecup kening, pipi, dan bibir sekalian. Gila saja tidak menggunakan kesempatan emas begitu.


Barulah Brennus keluar dan sudah ditatap bingung oleh kembarannya. Pasti sedang bertanya-tanya tentang tujuan secara dadakan sampai jauh-jauh ke peternakan.

__ADS_1


“Sebelum kau mengajukan pertanyaan, biarkan aku yang bertanya terlebih dahulu dengan istrimu.” Brennus menginterupsi. Tatapanannya tertuju pada ipar. “Lin, kau punya testpack?”


__ADS_2