
Alasan Dakota menolak ajakan Brennus menikah bukan karena ia jual mahal. Dia sangat menghargai niatan baik pria itu yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Hanya saja ia tidak ingin sekadar menikah karena tragedi semalam. Tak ada cinta juga. Siapa yang bisa menjamin hidup bahagia? Ditambah Brennus baru saja putus dengan kekasih. Apa anggapan terhadap dirinya?
Orang ketiga? Oh ... tentu saja label itu sudah pasti akan tersemat.
Membesarkan anak sendiri terdengar tak terlalu mengerikan juga. Meski ini adalah pengalaman pertama mengandung dan rasanya lumayan berat karena tiap pagi harus mengalami pusing, mual, malas, dan segala macam yang belum pernah dirasakan selama sehat. Namun, nyatanya Dakota menunjukkan bahwa baik-baik saja dengan kondisi itu.
Dakota mungkin tidak berpengalaman dengan anak kecil. Tapi, tiada niat sedikit pun untuk menggugurkan janin yang masih belum terbentuk secara sempurna kaki, kepala, maupun tangan. Baru juga delapan minggu.
Beberapa kali Brennus berusaha untuk menemui. Awalnya Dakota tidak pernah membukakan pintu. Tapi, setiap hari pria itu selalu datang tanpa gentar sedikit pun. Membuatnya merasa bersalah karena memisahkan ayah biologis dengan anak sendiri, dan pada akhirnya dibukakan pintu juga.
“Setelah tiga minggu, sekarang kau mau menerima aku di apartemenmu,” ucap Brennus seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam tempat tinggal Dakota.
__ADS_1
Apartemen yang terlihat nyaman untuk ditinggali satu orang. Brennus cukup menilai dalam hati saja, tak perlu mengucapkan secara langsung. Takutnya Dakota merasa ia mengejek karena terlalu kecil. Wanita hamil itu sedang sensitif sekali dengannya. Jadi, sebisa mungkin harus hati-hati.
“Mau minum apa?” tawar Dakota. Ia telah berada di dapur dan siap membuka kulkas.
Ingin dia jawab ‘mau yang bergelantung di balik kaosmu’ tapi terdengar sangat kurang ajar sekali. Pasti Dakota tidak bisa menerima candaan itu. Jadilah Brennus minta minuman seadanya. “Yang ada di kulkasmu saja.”
Mengambilkan kaleng kecil bertuliskan coca cola. Kaki Dakota terayun mendekat ke sofa. Hanya ada satu di sana, mau tak mau ia juga ikut duduk karena kalau di lantai pasti perutnya kembung.
“Ini.” Sembari menyodorkan ke Brennus. Ia menyandarkan punggung diiringi napas yang dihembuskan kasar, terdengar lelah sekali.
“Apa anak kita menyusahkanmu?” tanya Brennus khawatir. Telapaknya mengusap perut yang masih rata, belum terlihat jika di dalam sana ada kehidupan.
__ADS_1
Kepala Dakota mengangguk jujur. “Boleh tidak jika mual-mualnya pindah kepadamu saja?”
Ada rasa bersalah menyerang Brennus saat itu juga. Dia sudah memiliki firasat tak enak selama tidak bisa menemui Dakota. Rupanya benar jika mulai merasakan lelah menjalani kehamilan di trimester pertama yang kata banyak orang memang lumayan menyiksa.
“Kalau bisa, boleh, sini berikan padaku. Biar aku yang disiksa oleh anak ini.” Tangannya tanpa permisi menarik Dakota hingga wanita itu kini bersandar pada dadanya.
Tidak memiliki tenaga untuk memberontak, Dakota sangat pasrah. Dari pagi sampai sekarang sudah terhitung tiga puluh kali bolak balik kamar mandi hanya untuk mengeluarkan isi perut, sampai rasanya hanya cairan pait yang keluar.
Wanita itu memejamkan mata, menikmati usapan dari Brennus yang membuatnya nyaman. Dia baru tahu jika sentuhan telapak lebar tersebut mampu meredakan perut yang bagai diaduk-aduk. Dakota seperti menemukan penawar dari siksaan selama ini.
“Enak?”
__ADS_1
Kepala Dakota mengangguk sebagai jawaban. “Biarkan aku tidur sebentar di posisi seperti ini,” pintanya.
“Dengan senang hati, mau sampai besok pagi pun aku tidak masalah,” ucap Brennus. Tentu dia sangat tulus, bukan sekadar modus. “Keluargaku sudah tahu semua tentang kehamilanmu. Mereka ingin kita segera memikirkan untuk pernikahan.”