One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 36


__ADS_3

Sudah satu bulan ini Dakota tidak merasakan keberadaan Brennus. Pria itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Biasanya pagi-pagi sekali sudah datang, atau setidaknya mengirimkan pesan, bertanya bagaimana kabarnya, apakah anak di dalam perut menyusahkan atau tidak. Kini ... sosok itu entah pergi ke mana.


Dakota merasakan ada hampa saat tak lagi ada sapa dari pria yang selama ini sering mengganggunya. Setiap menengok ke pintu, tidak pernah ada yang membuka dari luar juga.


Paginya begitu berat dilewati tiap kali tak ada bantuan Brennus. Bisa mual-mual terus sampai rasanya lelah sendiri.


“Kita cari daddymu ke unit sebelah, mungkin dia sedang sibuk sekali,” ucap Dakota. Tangannya mengusap perut yang buncit sedikit, sangat samar dan nyaris tidak terlihat.


Dia tahu jika Brennus membeli apartemen di sebelahnya karena tentu saja pria itu yang bilang. Katanya supaya lebih dekat. Manis sekali. Sayangnya belum menemukan alasan mencintainya saja.


Padahal hanya ke sebelah, namun Dakota menyemprotkan parfum supaya wangi. Aroma Brennus, dia sangat suka pemberian pria itu.


Mengetuk pintu beberapa kali, tidak mendapatkan jawaban apa pun. Akhirnya ia tekan susunan kata yang pernah diberi tahu padanya.


Terbuka, Dakota masuk. Namun, sangat sepi seolah tak berpenghuni. “Brennus?” panggilnya seraya melangkah menuju kamar. Hanya apartemen kecil, jadi ada dua pintu saja. Satu kamar, dan sebelah lagi kamar mandi.


Kosong. “Di mana dia? Apakah kerja?” pikir Dakota.


Ingin bertanya atau mengirimkan pesan. Tapi, Dakota memilih untuk mendatangi langsung saja. Selama ini selalu Brennus yang menghampirinya, bahkan disaat sibuk kerja juga.

__ADS_1


Kembali ke unitnya sebatas mengambil tas dan kunci mobil. Dakota mengendarai sendiri menuju perusahaan. Dia ke kantor tempat biasanya bekerja. Sepengetahuannya, Brennus dipaksa membantu kerjaan Aloysius karena membuat dirinya resign.


Dakota mendapatkan sapaan dari mantan rekan kerja, saat kaki melangkah menuju lift. Ia balas anggukan dan senyuman ramah.


Tangannya melambai pada teman yang kini menggantikan posisinya. Bella. “Hi, kenapa wajahmu kusut sekali?” tanyanya seraya menunjuk mata panda dan bibir yang sepertinya tidak sempat dipoles lipstik.


“Kenapa? Kau tak bilang kalau kerja di sini berat sekali,” keluh Bella. “Waktu tidurku berkurang.”


“Tapi gajinya banyak, kan?”


“Ya ... iya.”


“Iya juga.” Bella mengangguk membenarkan. Ia menatap temannya. Tumben sekali datang ke perusahaan setelah sekian lama menumpahkan seluruh pekerjaan padanya. “Kau, kenapa ke sini? Video salah kirim itu tersebar?”


Dakota dan Bella tidak ada acara bermusuhan hanya karena kejadian di club malam saat itu. Dakota bukan tipe pendendam. Dia selalu intropeksi diri. Lagi pula ia sendiri yang mau dan minta minum banyak. Bella juga sudah minta maaf. Jadi, tidak ada hal yang harus dipermasalahkan.


“Mau menemui Brennus, anaknya rewel mencari daddynya,” tutur Dakota seraya mengusap perut.


Bella mengerutkan kening. “Kau sungguh hamil?”

__ADS_1


Mengangguk membenarkan, tidak ada yang perlu ditutupi karena nanti pun semakin lama akan membesar juga. “Tiga bulan.”


Bella tersenyum jahil, sembari mencolek lengan temannya. “Katanya anti keluarga Dominique, tapi hamil keturunannya juga,” godanya.


“Ini juga karena kau yang mengerjai aku.” Dakota mencebikkan bibir.


Ada kekehan dari Bella. “Ya ... maaf, salah sendiri terlalu membenci orang. Ku umpankan saja sekalian.” Tangannya membentuk isyarat peace.


“Jadi, di mana Brennus?”


“Em ... pergi.”


“Ke?”


Bella mengedikkan bahu. “Entah, kantornya sendiri, mungkin.”


“Oke, aku ke sana saja.” Dakota melambaikan tangan, berpamitan.


Namun, Bella segera mencekal agar tak pergi. Seolah sengaja menahan temannya supaya tidak mencari keberadaan Brennus. “Kita sudah lama tidak mengobrol, tunggu saja di sini. Nanti juga datang.”

__ADS_1


__ADS_2