One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 44


__ADS_3

Beberapa bulan ini Dakota terus memikirkan tawaran Brennus. Tadinya ia tak ingin menganggap serius. Tapi, pria itu terus mencoba meyakinkan dirinya bahwa kehidupan pernikahan yang diimpikannya bisa diwujudkan. Bahkan sampai memberikan penawaran lain juga. Brennus meminta ia membuat surat perjanjian yang berisi bahwa dirinya akan mendapatkan seluruh harta kekayaan Daddy dari anaknya jika tidak bisa menepati janji.


Setelah dipikir-pikir, Dakota merasa bahwa Brennus rela memberikan segalanya. Bahkan termasuk apa pun yang ia minta juga akan dipenuhi.


Rasanya sangat egois jika sampai sekarang masih mengabaikan lamaran Brennus. Perut juga sudah semakin benar. Masuk trimester tiga. Dakota berhasil melewati enam bulan masa kehamilan dengan banyak drama. Maksudnya drama makan dan mual-mualnya sampai harus ketergantungan pada si penanam benih karena hanya luluh dengan Brennus saja kondisi itu.


Sepertinya Dakota sudah memutuskan mau menerima Brennus. Sejauh ini pria itu baik, jujur juga. Tidak ada alasan untuk menolak lagi.


Dakota meraih ponsel untuk menghubungi Brennus. Dia mau coba menguji seberapa penting dan berarti dirinya untuk pria itu.


Telapak tangan mengusap perut yang buncit. “Maafkan Mommy, ya? Aku harus pura-pura kesakitan. Ini demi meyakinkan diriku kalau daddymu benar-benar menaruh kita dalam prioritas urutan pertama dibanding apa pun.”

__ADS_1


Dakota merasakan ada tendangan dari dalam yang cukup kuat. Ia anggap itu persetujuan. Dan aksinya pun dimulai juga.


Sambungan telepon mulai terdengar di telinga. Cukup lama diangkat. Dakota tahu apa yang sedang dilakukan Brennus saat ini. Sebab, satu jam sebelumnya pria itu mengirimkan kabar kalau mau meeting bersama calon klien. Pasti sekarang tengah diskusi.


Bunyi nada sambung yang ke lima, Dakota baru mendengar suara orang menyapa.


“Sayang, kenapa?” tanya Brennus.


“Perutku.” Dakota memulai aksi sandiwaranya. Suara dibuat seakan-seakan kesakitan. Rintihan palsu turut membuat ia bisa mendengarkan nada panik dari orang yang ditelepon.


“Kenapa? Sakit? Kontraksi? Tapi baru mau tujuh bulan. Ah ... haruskah anakku lahir prematur? Tunggu sebentar, aku segera ke sana.” Brennus tidak memberikan jeda dari reaksinya. Pikiran mulai tidak bisa fokus dengan pekerjaan.

__ADS_1


“Jangan dimatikan teleponnya, biarkan terus seperti ini supaya aku bisa memantau,” pinta Brennus.


Dakota tidak menjawab dengan suara, cukup mengangguk saja. Ia menahan senyum karena berhasil membuat Brennus percaya jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Dakota bisa mendengar kalau Brennus izin pada seseorang. Sepertinya itu calon klien yang dimaksud. Berarti meeting belum selesai, dan pria itu memilih menemui dirinya. Oh ... merasa istimewa sekali.


Sembari menunggu kedatangan sang pria, Dakota meletakkan ponsel di atas meja makan. Mengambil makanan untuk dijadikan camilan. Sekarang makannya tidak pemilih lagi, tak harus dari buatan Brennus.


Beberapa menit berlalu, Dakota mendengar ada suara orang menekan tombol angka di pintu. Dia sudah memberikan Brennus pinnya supaya bisa keluar masuk tanpa mengganggu dirinya, maksudnya tidak perlu menunggu dibukakan.


“Sayang, ayo kita ke rumah sa—” Brennus berhenti di ambang pintu saat melihat orang yang dikhawatirkan ternyata sedang bersantai, sementara sepanjang perjalanan pikirannya sangat kacau.

__ADS_1


__ADS_2