
Brennus juga inginnya cepat-cepat membawa Dakota ke pelaminan. Meresmikan pernikahan mereka sesegera mungkin, sebelum berubah pikiran seperti apa yang ditakutkan oleh sang Mommy. Tapi, apa boleh buat, nyatanya tidak sesuai harapan.
Rupanya banyak sekali pasangan yang ingin menikah hingga di Badan Kependudukan pun tak ada tanggal kosong hanya untuk pernikahan Brennus dan Dakota pada waktu yang mereka pilih. Mau ke katedral juga sama saja. Seakan menikah cepat sedang tak berpihak pada Brennus.
Pada akhirnya, dua manusia yang memutuskan untuk bersatu dalam ikatan suci itu memilih tanggal yang kosong di Badan Kependudukan. Sayangnya, itu mendekati hari perkiraan lahir anak mereka.
Sekarang keduanya sedang menunggu petugas yang akan menikahkan Brennus dan Dakota. Menanti dalam ruangan di gedung Badan Kependudukan.
Bayangkan, ini hari penting dan sakral bagi mereka. Tapi, wanita yang kini dibalut oleh gaun putih kebesaran itu selalu berdesis dan menancapkan kuku di lengan Brennus.
“Tolong, tahan dulu, ya? Setidaknya jangan lahiran sekarang, besok atau satu minggu lagi saja,” ucap Brennus seraya mengusap perut yang nampak ingin meletus.
__ADS_1
Rasanya mau menabok calon suaminya pun tak ada tenaga. Dakota lebih kesakitan di perut, punggung, pinggang, sekujur tubuh remuk semua. “Mana bisa!” Jadilah ia hanya menggerutu pelan.
“Bisa, pasti bisa.” Memaksakan sekali Brennus itu. Dia sampai membungkuk dan berbisik di perut buncit. “Nak, kau memihak pada Daddy, kan? Kalau iya, tolong ikuti perintahku, ya?”
Keluarga yang datang dan mendengar pun menoyor kepala Brennus. Lebih tepatnya itu dari Dariush. “Mana paham, bodoh!”
Brennus melirik sang paman dan berdecak. Tapi, tetap melanjutkan berbicara dengan sang anak. “Jangan buru-buru keluar dulu, ya? ‘Kan tidak lucu kalau aku dan mommymu baru menikah, tapi tak bisa menikmati malam dengan penuh gairah. Jadi, tahan-tahan dulu di dalam. Tenang saja, nanti ku jenguk.”
Brennus sebatas meringis tanpa rasa berdosa. Ia menggandeng Dakota untuk berdiri saat orang yang dinanti pun datang juga.
Dua calon mempelai itu saling berhadapan. Brennus memasang wajah senyum bahagia, sementara Dakota mana bisa menarik sudut bibir. Berdiri tegak pun sulit rasanya. Jadi, si wanita sedikit membungkuk karena menahan kontraksi yang kian dasyat.
__ADS_1
“Bisa tidak kita cepat selesaikan pernikahannya? Aku ... sudah tak tahan lagi,” pinta Dakota. Ringisan kecil terus terdengar.
“Panggil ambulan beserta dokternya!” Lihat itu, lantai basah oleh ketubannya.” Mommy Amartha pun berseru meminta sang suami supaya segera menghubungi rumah sakit.
“Kita tunda saja, Tuan dan Nyonya. Sepertinya kondisi mempelai wanita tidak memungkinkan untuk melanjutkan—” Petugas itu belum selesai, sudah dipotong saja.
“Lanjutkan! Tapi cepat, supaya aku bisa segera pergi dan melahirkan dalam kondisi menjadi seorang istri.” Dakota sendiri yang meminta.
Akhirnya, petugas itu pun mengucapkan janji yang harus disepakati atau diterima oleh mempelai. Tidak memungkinkan untuk Dakota mengutarakan janji panjang, maka cukup mengucapkan, “I do.” Dan Brennus juga Dakota pun dinyatakan menjadi sepasang suami istri.
Tak ada ciuman atau tukar cincin layaknya pernikahan pada umumnya. Justru mereka semua bingung harus bagaimana membantu Dakota yang tiba-tiba setengah berjongkok dan mengejan.
__ADS_1