
Biasanya Dakota yang selalu dibujuk oleh Brennus. Sekarang ia kuwalahan sendiri saat sang pria masih enggan berbicara. Demi apa pun, ternyata bingung juga menghadapi orang marah.
“Aku mengaku salah, Bre. Tidak lagi mengulangi hal serupa. Aku tak akan berbohong tentang kesehatan,” kata Dakota. Ia terus mengekori Brennus. Bahkan pria itu ke kamar mandi pun ditunggu di depan pintu demi mendapatkan kata maaf.
“Baguslah kalau kau sadar kesalahan.” Namun, nada bicara Brennus terkesan hambar. Dia masih mengabaikan sampai sekarang, lebih tepatnya menghindari tatapan Dakota karena sejujurnya tidak kuat berada dalam mode merajuk. Sebab, ia adalah pria yang akan mencintai Dakota dengan ugal-ugalan, namun harus sok jual mahal hanya karena ingin memberi pelajaran sekaligus melihat seberapa jauh perasaan wanita itu padanya.
Bukankah katanya orang akan merasa kehilangan setelah dijauhi? Begitulah Brennus saat ini menguji Dakota. Sudah setiap hari ia menunjukkan keseriusan, kini gilirannya. Meski sebenarnya tanpa melakukan hal itu pun tetap akan menaruh rasa sepenuhnya pada wanita yang kini tengah mengandung anaknya.
Wajah Dakota begitu sendu, menghela napas sekuat mungkin menghadapi sikap Brennus yang dingin. “Kau sudah tidak sayang lagi denganku? Atau anak ini?” tanyanya. Lelah sejak tadi jalan mondar mandir demi mencari perhatian tapi tetap diabaikan, ia memilih untuk mendaratkan pantat secara perlahan di sofa.
__ADS_1
“Jika perasaanku hanya kau permainkan, untuk apa ku berikan seluruh rasaku padamu?” Brennus menatap sebentar, sekitar tiga detik, kemudian kembali memalingkan pada layar komputer. “Aku juga manusia, memiliki batas kesabaran dan butuh kepastian.”
“Sebenarnya aku sudah memiliki jawaban untukmu. Tapi, kau sedang merajuk begini. Jadi, jika ku katakan padamu, entah bisa diterima atau tidak.” Dakota mengedikkan bahu. Berharap setelah mengatakan itu Brennus kembali hangat.
Sayangnya, pria itu tetap memilih mendiamkan. Brennus terlalu sering jual murah sampai rasanya tidak dihargai. Sekarang mencoba menaruh harga mahal, kalau perlu limited edition. Pura-pura sibuk saja dengan pekerjaan yang sebenarnya sudah selesai dan tak ada yang harus diurusi.
Dakota kembali berdiri, berjalan menghampiri Brennus. Ia berhenti tepat di samping kursi kerja si manusia sibuk itu.
Jika diminta berhenti fokus pada komputer, pasti Brennus tak akan menurut. Jadi, Dakota langsung saja meraih pegangan kursi, dan memutar ke arahnya hingga kini mereka ada dalam posisi berhadapan.
__ADS_1
Dakota menahan kursi itu agar tidak dibalikkan ke posisi semula. “Dengarkan aku sebentar, Sayang.”
Dada Brennus mulai bergemuruh mendengar panggilan yang teralun lembut. Sayang adalah kata yang sangat ia suka, apa lagi dari bibir seorang Dakota.
Meski perut buncit, Dakota masih bisa sedikit membungkukkan badan. Dia ingin wajah kian dekat di hadapan sang pria. Kalau perlu tak ada jarak satu jengkal pun. “Rasanya ada yang hampa saat suaramu jarang ku dengar dan dekapmu tak lagi ku rasa,” ungkapnya jujur dan langsung dari hati.
Hembusan napas mereka saling menyapu kulit wajah satu sama lain. Hangat dan wangi. Brennus mulai merasakan sekujur tubuh meremang. Tapi, bibir tetap terbungkam.
“Jangan marah lagi, ya? Aku mencintaimu, calon Daddy anakku.” Setelah mengatakan isi hatinya, untuk pertama kali dan secara sadar, Dakota kian mendekatkan bibir dan mencium Brennus. Berusaha mengetukkan lidah meminta permisi supaya bisa mengeksplore isi di rongga yang kini sedang ia nikmati. Anggaplah itu sebagai permintaan maafnya secara sungguh-sungguh.
__ADS_1