
Sebelum mengunjungi daddynya, Brennus telah mengirimkan pesan pada sang paman juga supaya datang ke mansion orang tuanya. Jadi, dia bisa sekali datang langsung dapat pamer dengan dua manusia yang sering mengejeknya karena tak kunjung berhasil membujuk seorang wanita untuk diajak menikah.
Dan sekarang Brennus bisa secara bangga sekaligus pongah melingkarkan tangan di pinggul Dakota, sembari berjalan masuk ke dalam mansion.
“Wuidih ... bapak-bapak pengangguran sudah berkumpul saja,” seloroh Brennus. Sekarang berani mengeluarkan ejekan, biasanya ia yang diroasting habis-habisan.
Delavar dan Dariush menaikkan sebelah alis melihat Brennus bersama seorang wanita cantik yang mereka kenal namanya.
“Dakota, lebih baik kau segera melarikan diri dari si tengik Brennus, sebelum hidupmu berubah suram.” Siapa lagi yang mengompori begitu kalau bukan Dariush.
Dakota meringis canggung. Masalahnya adalah belum ada persiapan apa pun untuk bertemu keluarga Brennus. Dia sering bertatap muka dengan keluarga Dominique, tapi saat masih berstatus sebagai sekretaris. Kalau sekarang? Sudah datang pakaiannya amburadul, rambut belum disisir, leher dan dada banyak merahnya. Aduh ... cangungnya itu karena malu.
“Sayangnya, dia tidak bisa pergi jauh dariku karena sudah bersedia menikah denganku.” Brennus menyentakkan dagu sombong. Kemudian mengajak sang wanita untuk duduk di sofa yang masih kosong.
“Kau sudah benar-benar yakin mau mempertaruhkan seumur hidupmu dengan anakku?” tanya Delavar.
__ADS_1
“Kesannya masa depanku suram sekali, sampai dipertanyakan.” Brennus mencebikkan bibir. Untung sudah biasa digoreng habis oleh dua pria itu.
“Bukan suram lagi, yang ada gempor ... lihat saja itu leher Dakota.” Dariush begitu frontal menunjuk area yang dimaksud. “Coba pikir dua kali saja, ganas begitu si Brennus. Nanti kau dimakan terus, takutnya dia kebabalasan jadi kanibal,” selorohnya kemudian.
Dakota reflek menarik kerah kemeja lebih ke atas agar menutupi lehernya. “Brennus tak mengizinkan aku untuk menutupi ini,” adunya. Tangan mencubit kecil paha sang pria, lalu berbisik di telinga. “Tuh ... kan, apa ku bilang, pasti menjadi bahan tontonan.”
Sementara Brennus tetap saja santai. Justru terang-terangan mengusap paha mulus wanitanya yang tak tertutup apa pun. “Aku ‘kan memang sengaja mau menunjukkan pada kalian jika sudah berhasil meluluhkan hati wanita yang sulit sekali ku dapatkan ini.” Jemarinya masuk ke sela-sela jari Dakota dan menggenggam erat, tak lupa sedikit ditarik untuk dikecup.
Delavar dan Dariush sepakat tidak akan menunjukkan ekspresi apa pun. Jadi, keduanya hanya mengerutkan kening.
Brennus meraih bantal sofa, melemparkan itu tepat mengenai wajah pamannya. “Profokator!”
Delavar dan Dariush terkekeh melihat ekspresi spontan Brennus. Lucu menurut mereka.
“Ayo, Dakota, ku ajak kau bertemu mommyku di kamar.” Daripada dikerjain terus oleh dua pria tengil, lebih baik Brennus ajak wanitanya menemui sang Mommy.
__ADS_1
“Dilihat dulu masih tidur atau sudah bangun. Jangan ganggu istirahatnya,” peringat Delavar.
“Iya ....”
Sesampainya di depan kamar utama, Brennus tidak mengetuk dahulu, tapi sedikit membuka pintu dan mengintip. Rupayanya orang yang ada di dalam tengah bersandar dan melihat acara di televisi.
“Mom?” panggil Brennus.
Pandangan Amartha pun teralihkan ke arah pintu. “Bre ... sudah datang bawa calon menantu untukku rupayanya.” Ia melambaikan tangan dan menepuk sisi ranjang yang kosong. “Sini, Dakota.”
“Iya, Nyonya.” Dakota melepaskan genggaman tangan sang pria dan duduk di samping Amartha.
“Jangan panggil Nyonya. ‘Kan bukan sekretaris anakku lagi. Sekarang sudah naik pangkat, kan? Jadi istri Brennus, betul?” Amartha ini selalu ramah pada wanita yang dipilih oleh anak-anaknya. Lihat saja, telapaknya sekarang sedang mengusap perut buncit Dakota.
“Calon, kami belum meresmikan pernikahan,” sanggah Dakota.
__ADS_1
“Oh ... ya secepatnya harus dilaksakan, Bre.” Lirikan mata Amartha tertuju pada Brennus yang duduk di ranjang paling ujung bawah. “Takutnya nanti Dakota keburu sadar dan berubah pikiran.”