One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 51


__ADS_3

“Kau mau melahirkan sekarang?” tanya Brennus. Jujur, dia juga sedikit panik. Tangannya yang dicengkeram oleh sang istri pun terasa perih.


Dakota mengangguk tanpa suara. Untung saja dia sengaja hanya membalut tubuh dengan gaun besar, tanpa pakaian apa pun di dalamnya. Mengantisipasi karena ia sudah merasa tak enak sejak kemarin. Tapi, mengingat antri mau menikah selama itu, jadilah lanjutkan saja.


“Waduh ... tidak mau menunggu ambulan? Atau kita antar ke rumah sakit saja sekarang, ayo!” Delavar menawarkan hal lain. Sebab, melihat anggota keluarga yang baru bergabung itu tampak berantakan dengan peluh bercucuran, rasanya tak tega.


“A—ku ti—da—k k—u—a—t ...!” Sudah terbata, ditambah mengejan pula. Sudahlah, Dakota berjuang saja sendiri. Lagi pula ia sering ikut yoga dan belajar juga bagaimana cara melahirkan normal dalam kondisi mendesak. Toh sudah dipanggilkan dokter.


...........


Untunglah bantuan segera datang. Jadi, Dakota berhasil melahirkan dengan selamat. Sekarang ia telah dibawa ke rumah sakit untuk dijahit karena tadi sempat perlu dirobek supaya kepala bayi bisa keluar. Lalu, saat ini Dakota telah dipindahkan ke ruang rawat.


Setelah diperbolehkan istirahat, Dakota terlelap. Energinya seakan habis banyak hanya untuk melahirkan. Barulah dipagi hari berikutnya, matanya terbuka. Pandangannya langsung mendapatkan sorot mata kecewa bercampur wajah cemberut dari sang suami.


“Kenapa? Kau tidak bahagia menjadi suamiku?” tanya Dakota seraya mengusap punggung tangan Brennus.


Pria itu tak menjawab dengan suara, hanya gelengan kepala. Brennus justru menarik jemari sang wanita. “Cincinnya lupa belum dipasang.” Ia pun mengeluarkan kotak perhiasan dan mengambil cincin pernikahannya, memasukkan ke jari manis sang istri.


Meski dalam situasi sedih, Brennus tidak lupa mengecup kening wanitanya setelah Dakota juga melingkarkan cincin di jarinya.

__ADS_1


“Lalu?” Dakota menaikkan sebelah alis bingung. “Tidak senang anak kita sudah lahir?” Tetap dijawab gelengan.


Membuat Dakota bingung dan pusing sendiri memikirkan alasan sang pria sedih. “Lantas, anak kita ke mana?”


Hanya ada box bayi di dalam ruang rawatnya, tapi tak ada terlihat si mungil tertidur di sana.


“Ku usir,” jawab Brennus.


“What?” pekik Dakota. “Apa maksudmu?”


“Ya ... setelah diberi nama, ku suruh Daddy dan Mommy bawa pergi agar aku tak mengomelinya terus,” jelas Brennus dengan sangat jujur.


“Karena dia lahir dihari yang tidak tepat,” gerutu Brennus. “Kenapa juga harus sekarang, tepat setelah kita menikah? Besok-besok ‘kan masih bisa. Membuatku harus langsung menahan diri tidak menjamahmu. Menyedihkan sekali nasib pengantin baru yang tak ada malam penuh gairah.”


“Astaga ....” Dakota menggelengkan kepala dan tak habis pikir dengan suaminya. Kemudian mencubit lengan sang pria. “Bisa-bisanya dengan anak sendiri setega itu,” omelnya terus menerus. “Sekarang cari bayiku!” titahnya tanpa mau dibantah.


“Iya.” Brennus tidak bisa menolak. Ia hendak berdiri, tapi pintu telah dibuka dari luar dan menyembulkan bayi yang sedang dicari.


“Kei menangis, sepertinya dia tidak mau dibawa keluar terlalu lama,” ucap Mommy Amartha.

__ADS_1


Bayi itu laki-laki, diberi nama Keivel Azzo Dominique.


“Bawa sini saja, Mom. Biar ku peluk,” pinta Dakota.


Tapi, sayangnya tetap saja menangis walau ada didalam dekapan Dakota. Justru kian kencang. Ia pun melirik sang suami. “Sayang, tolong. Siapa tahu dia maunya denganmu.”


Brennus menghembuskan napas kesal. Rasanya mau menolak, tapi permintaan istri yang baru melahirkan anaknya terkesan sebuah perintah yang harus dan wajib dituruti. Akhirnya, dengan berat hati pun ia menggendong putranya yang masih merah.


“Langsung diam, sepertinya dia memang lebih suka dengan daddynya,” ujar Dakota.


Sementara Brennus mencebikkan bibir. “Mana ada suka denganku. Yang ada dia itu sengaja ingin mengejekku.” Ketika melihat wajah putranya, bibir si mungil tersenyum walau mata terpejam. “Kau ... pasti sengaja ‘kan mau mengolok-olok daddymu karena berhasil menang memperebutkan mommymu?”


Ucapan itu membuat Dakota menimpuk lengan suaminya. “Anak sendiri dituduh begitu. Mana ada bayi yang bisa memilih mau lahir kapan. Bibirmu lama-lama ku cubit juga.” Dan jemarinya sungguh melakukan apa yang dikatakan.


Bayi dalam gendongan Brennus pun lagi-lagi tersenyum, tapi mata tertutup.


Orang-orang di dalam ruang rawat itu menertawakan nasib Brennus yang malang karena tak bisa melakukan malam pertama setelah menikah. Apa lagi harus menahan diri selama satu bulan lebih. Padahal, pria itu sudah memikirkan ingin melakukan berbagai pose. Semua harus dikubur sampai batas waktu yang telah ditentukan.


Meski sedikit kecewa, tapi dalam hati Brennus tetaplah bahagia. Dia tidak membenci sang anak. Mana mungkin darah daging sendiri tak ia cintai dan kasihi. Apa lagi memang menginginkan bayi itu. Jadi, hanya sehari setelah Dakota melahirkan saja ia merasa tak senang. Setelahnya sudah tersenyum dan tidur satu ranjang bertiga.

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2