
“Mandi, terus siap-siap.”
Baru juga Dakota membuka mata setelah tak sengaja ketiduran akibat diajari menghentak di atas tubuh Brennus dan tetap saja merasakan perih di bawah sana karena kali ini adalah kedua kalinya melakukan hubungan badan. Pertama tentu saja aksi gila saat mabuk itu.
Bahkan nyawa Dakota saja belum sempurna, mata masih menyipit dan menengok ke seluruh penjuru. Tubuhnya belum berpindah tempat, masih terbaring di ruang istirahat kantor Brennus.
“Memangnya kau mau ajak aku ke mana?” tanya Dakota. Dua tangannya dinaikkan ke atas, meminta sang pria untuk bantu menarik karena ia sangat malas bergerak. “Gendong ke kamar mandi,” pintanya.
“Untung aku cinta. Jadi, manja begini tetap ku turuti.” Brennus menempatkan tangan kiri di bawah lipatan lutut, sementara satu lagi menahan punggung. “Pegangan di leherku!” titahnya sebelum menaikkan tubuh sang wanita.
“Begini?” Empat jari Dakota menyatu sementara jempol terpisah sendiri hingga membentu huruf C. Ia lingkarkan jemari itu ke leher Brennus.
“Itu namanya mencekik, bukan pegangan. Bisa-bisa aku mati duluan sebelum menikahimu.” Brennus menarik tangan wanitanya, lalu satu dilingkarkan ke leher.
“Oh ... jadi, mau dipegang model seperti ini? Bagaikan wanita penggoda?” Dakota mengalungkan dua lengannya yang saling terkait itu ke leher kokoh yang mulai menjadi kesukaannya.
“Lama-lama ku gigit juga kalau menggemaskan begini.” Brennus mendorong wajah hingga ke pipi berisi milik Dakota. Giginya menggigit kecil.
__ADS_1
“Aw ....” Meski ada pekikan, tapi si berperut buncit itu melanjutkan dengan kekehan. “Canda, Sayang. Aku hanya menggodamu dengan pura-pura bodoh,” akunya kemudian.
Keduanya pun masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri bersama. Lebih tepatnya bergantian saling memandikan. Sebatas itu, tak lebih karena kasian juga kalau Dakota diajak bersetubuh dalam kondisi ruangan keras.
Selepasnya mereka berganti pakaian. Lebih tepatnya Brennus yang sudah mendahului bersiap.
“Pakaianku kotor, terus pakai apa?” Sementara Dakota yang masih dalam balutan handuk itu justru duduk di tepi ranjang dan menatap sang pria yang asyik mengancing kemeja.
“Ini saja.” Brennus kembali membuka almari, lalu mengambilkan satu kemeja berwarna hitam dan kain baru yang nyaris menyerupai bentuk segitiga.
“Pasti kebesaran,” protes Dakota.
“Baiklah.” Dakota pun menerima. Ia mengibaskan tangan supaya Brennus berbalik. “Sana keluar, jangan mengintip.”
“Malu-malu? Padahal baru saja kita mandi berdua dan saling lihat.” Brennus meremas bagian dada Dakota karena gemas dengan kelakuan wanitanya.
“Ish ... jangan keras-keras, sakit.” Reflek mengomel sembari melayangkan salam dari telapak tangannya. “Bukan malu, tapi nanti kau terpancing dan mau lagi,” sanggah Dakota.
__ADS_1
“Mau lagi tinggal ku dorong ke ranjang, beres,” sahut Brennus santai diiringi dua alis disentakkan ke atas.
Mata Dakota melotot. “Tunggu di luar saja, apa susahnya?”
“Iya ... iya.” Akhirnya Brennus mengalah dan keluar.
Tak berselang lama, wanita dibalut kemeja hitam dengan dua lengan di gulung hingga menjadi ukuran tiga perempat itu pun keluar juga. Rambut masih terlihat basah tapi tidak meneteskan air. Ia belum sempat mengeringkan.
“Memangnya kau mau mengajakku pergi ke mana?” tanya Dakota saat tangan kekar terasa melingkar di pinggulnya.
“Menemui Daddy dan uncleku,” jawab Brennus, seraya kaki terayun keluar dan menyusuri lantai menuju lift.
“Berarti kita pulang dulu, kan?”
“Tidak, untuk apa pulang. Langsung saja.”
“Ha?” Mulut Dakota menganga. “Pakaianku seadanya begini, tidak sopan, rambut juga belum ku keringkan. Ditambah jejak-jejak merah di leher dan dadaku pun jelas sekali.” Dakota menunjuk hasil kenakalan bibir prianya. “Harus ku tutupi dulu dengan foundation.”
__ADS_1
Masuk ke dalam lift dan pintu otomatis tertutup, kepala si pria menggeleng. “Justru tanda merah dan penampilanmu yang seperti inilah yang ingin ku pamerkan dan tunjukkan pada Daddy dan uncleku.”