One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 21


__ADS_3

“Mau pilih cara yang mana, ya ... itu terserah denganmu.” Dariush menanggapi sembari berdiri dan berjalan untuk mengambil snack lagi. Sudah seperti rumah sendiri saja, padahal milik saudara kembarnya. “Setiap orang memiliki jalan cintanya masing-masing. Mana bisa kau meniru gaya kami mengambil hati pujaan hati,” imbuhnya. Tangan sudah membawa keripik kentang.


Brennus berdecak, merebut bungkus yang masih menggelembung dari genggaman sang paman. Ia lempar itu hingga terkena dada Dariush. “Woah ... memang sialan kalian berdua. Ku pikir dengan bicara dan bercerita di sini, akan menemukan jalan keluar. Ternyata justru buntu, bahkan disesatkan,” decaknya kesal.


Dariush memungut snack di lantai. Ia tertawa melihat keponakan frustasi.


“Kondisi yang dihadapi ‘kan berbeda juga tiap orang. Kalau Dariush, dia suka, hanya saja wanitanya menganggap musuh karena pamanmu itu suka sekali jahil dan mengganggu.” Delavar mulai kembali bercerita. Nampaknya kutukan bagi mereka sebagai orang yang mengejar, bukan dikejar. “Lalu, kalau aku, mommymu merasa tidak pantas dicintai karena hidup dan keluarganya terlalu buruk.” Menepuk pundak Brennus, lalu semakin naik ke kepala, berakhir mengacak-acak rambut. “Sekarang permasalahan spesifikmu apa? Sesuaikan, jangan main ikuti cara kami.”


“Aku punya kekasih,” beri tahu Brennus. Dia terdengar frustasi ketika mengatakan itu.


“Iya, Laura namanya, kan?” ucap Delavar.


Mengangguk membenarkan. “Ini bagaimana caraku bercerita, ya?” Brennus mengacak-acak rambut sampai kusut.


“Terserah kau mau mulai dari mana.” Dariush menyahut, lalu memasukkan keripik kentang ke mulut.

__ADS_1


Menarik dasi yang terasa mencekik akibat kepusingannya. Brennus berdiri dari sana. “Aku ganti pakaian dulu, tidak enak masih menggunakan setelan kerja.”


“Ya ... ya ... asal jangan lupa kembali lagi ke sini.” Dariush mengibaskan tangan mengusir.


Pria dengan segala kepusingannya itu meninggalkan ruang santai, naik ke atas. Tak lama, turun lagi sudah berpakaian kaos dan celana pendek saja. Kembali menghempaskan tubuh diantara bapak-bapak.


“Oke, ku lanjut,” ucap Brennus.


“Hm ... dari tadi juga kami menunggu dan mendengarkan keluh kesahmu. Sudah seperti layanan aduan saja,” seloroh Delavar. Dia menekan tombol mute di remot. Sejak tadi televisi menyala tapi tak ditonton.


Dua toyoran mendarat di kepala Brennus secara bersamaan. Delavar dan Dariush pelakunya.


“Wah ... kau kacau sekali, Bre.” Dariush sembari bergeleng kepala.


“Itu namanya bukan keturunanku. Sejak kapan ku ajari tidak setia dengan satu wanita?” Delavar juga sama reaksinya.

__ADS_1


Brennus sampai berdecak. “Dengarkan dulu ceritanya.” Ia minta dua bapak-bapak itu diam. “Aku sudah menolak, awalnya. Ku antarkan dia pulang karena dalam kondisi mabuk, kasian jika dibiarkan sendirian.”


“Bilang saja mau cari kesempatan,” potong Dariush.


Reflek Brennus mengambil segenggam keripuk kentang, lalu masukkan ke dalam mulut sang paman. “Niatku baik.”


“Mana ada niat baik berakhir dengan bersetubuh. Alasan saja.” Ternyata Delavar pun tak membela putranya.


Lirikan mata Brennus begitu kesal. “Kalian ini niat mau membantu aku mencari jalan keluar atau tidak? Kenapa jadi menghakimi sendiri?”


“Ya ... namanya hidup, harus ada hujatan sedikit dari kesalahan yang kau perbuat,” sahut Dariush santai.


“Ah sudahlah, malas sekali aku melanjutkan cerita kalau begini ceritanya.” Brennus meraih botol wine dan ia langsung teguk saja dari sana.


“Begitu saja merajuk, pantas menghadapi masalah tidak cepat selesai,” ejek Delavar.

__ADS_1


“Dakota merayuku terus. Sampai pada akhirnya aku tidak kuat menahan gairah, dan ku lakukan juga malam itu. Ternyata dia masih virgin, lalu sekarang aku merasa bersalah karena sudah tergoda dengannya. Mau tanggung jawab, tapi ditolak mentah-mentah. Dia tidak mau dilabeli perebut kekasih orang, karena aku keceplosan jika memiliki wanita.” Brennus ceritakan saja tanpa jeda supaya tidak dipotong tengah jalan. “Puas? Memang aku tidak setia, ku akui kalau sudah berselingkuh dari Laura. Tapi, sekarang mau bagaimana? Perasaan bersalah lebih dominan pada Dakota.”


__ADS_2