One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 39


__ADS_3

Brennus hendak menyusul Dakota. Mau menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Dia tidak mau ada kesalahpahaman. Apa lagi seketika merasa tak tenang jika membiarkan wanita yang tengah mengandung anaknya itu pergi begitu saja dalam kondisi marah. Entah dugaannya benar atau salah, tapi raut Dakota memang nampak sedih bercampur kecewa.


“Mau ke mana?” Laura mencekal pergelangan Brennus, menahan pria itu agar tidak beranjak pergi.


“Bukan urusanmu!” Brennus menepis kasar tangan mantannya. Andai ia tidak bertemu dan ditempeli oleh Laura, pasti tak akan terjadi salah paham dengan Dakota. Mommy dari anaknya sampai datang mencarinya, berarti ada hal yang sangat penting. Lalu, sekarang justru runyam hanya karena mantan yang belum rela diputuskan.


“Pasti kau mau menyusul wanita kampungan itu, kan?” tebak Laura dengan nada khas orang meremehkan. “Untuk apa dikejar? Biarlah dia pergi, bagus. Lagi pula kau sudah ada aku.”


Mata Brennus menatap tajam, memancarkan peringatan. “Yang kau sebut kampungan itu Mommy dari anakku. Jaga bicaramu jika kau masih ingin bisa hidup dengan tenang,” ancamnya. Dia tidak suka Dakota direndahkan.


“Apa maksudmu? Dia hamil? Kau menghamilinya?” Suara Laura meninggi tak terima.

__ADS_1


“Ya, aku menghamilinya. Jadi, jauh-jauh kau dari kehidupanku dan Dakota! Jangan pernah mengganggu atau muncul dihadapan kami!” Setelah berseru dengan penuh penekanan, Brennus lekas berlari. Ia berpesan pada sekretarisnya juga kalau suatu saat nanti Laura datang lagi, jangan pernah diizinkan masuk.


“Shitt! Dia sudah masuk ke lift,” umpat Brennus. Terlalu lama jika menanti lift naik lagi. Maka, ia memilih untuk turun menggunakan tangga darurat.


Bukan memijak dari satu persatu anak tangga, tapi Brennus melangkah langsung kelipatan empat. Kakinya yang panjang memudahkan untuk mencapai cepat.


Pria itu berlomba dengan lift. Jangan sampai kehilangan jejak Dakota karena bisa saja wanita itu menghindarinya atau tak mau bertemu lagi setelah ini. Jadi, pacuan kaki kian beritme cepat.


Sampai di lantai satu, Brennus keluar dari pintu emergency. Napas terengah-engah. Tapi, untungnya masih melihat punggung Dakota yang berjalan menyusuri lobby, hendak menuju arah pintu.


Dakota menaikkan sebelah alis melihat Brennus mandi keringat dan napas juga terengah-engah lelah. “Apa lagi yang harus ku percaya dari ucapanmu? Mulut dan perkataan pria memang seharusnya tidak pernah ku percaya.”

__ADS_1


“Tapi, kali ini kau harus mempercayai aku,” mohon Brennus. Ia genggam kedua tangan sang wanita. “Dia mantanku.”


“Aku sudah tahu.” Dakota menanggapi sinis dan melengoskan wajah. “Mau dia siapa, aku tidak peduli!” Ia kibaskan tangan agar dilepaskan.


Masih menumpuk banyak kilatan rasa kesal di dada. Dakota kembali melanjutkan jalan agar menjauh dari Brennus.


“Kenapa kau terlihat marah begitu? Cemburu?” tebak Brennus sembari mensejajarkan langkah kaki.


“Ha? Aku? Cemburu? Denganmu?” Dakota terkekeh penuh kebohongan. “Mana mungkin, dan untuk apa juga!”


“Begitu, ya? Padahal aku sudah senang seandainya kau cemburu padaku yang dekat-dekat dengan wanita lain.” Brennus menoel dagu Dakota. Ia menghadapi dengan menggoda supaya mau memaafkannya.

__ADS_1


“Dih! Narsis sekali.” Dakota mencebikkan bibir dan mencubit kecil perut Brennus.


Si pria justru terkekeh, lalu tanpa izin langsung merangkul. “Terus, kenapa kau sampai mencariku ke sini?” Memaksa Dakota agar berhenti bergerak. Brennus menelengkan wajah tepat di depan pandangan wanita itu. “Satu bulan tidak bertemu denganku, kangen, ya?”


__ADS_2