
Brennus membawa Dakota ke sebuah taman untuk membicarakan masalah kesepakatan. Dia ingin mengajak sang wanita berdiskusi dalam kondisi tenang dan santai. Melihat hamparan hijau di depan mata, mampu membuat pikiran menjadi lebih jernih. Ditambah ada danau buatan kecil juga.
Kedua tangan Brennus menggenggam wanita di sampingnya, sedikit menyerongkan tubuh supaya bisa mudah saling tatap. “Terimalah ajakanku menikah, kau bisa membuat perjanjian denganku, isi sesuai kemauanmu. Bahkan semua merugikan aku juga tidak masalah.”
Dakota menggeleng pelan. “Pernikahan itu bukan bisnis yang bisa kau ikat dengan penawaran.” Ia letakkan telapak ke dada Brennus dan merasakan debaran pria itu beritme cepat. “Aku hanya ingin kau tahu apa artinya aku di hatimu. Alasan apa yang membuatmu sangat ingin hidup bersamaku? Kecuali anak ini.”
Dakota menyandarkan punggung seiring napas dihembuskan perlahan. Menatap ke depan, ada sepasang pria dan wanita bersama seorang anak tengah bermain di taman itu. Dia tersenyum, keluarga seperti itu yang dia inginkan. Saling mengasihi, mencintai, tertawa bersama, melindungi. Hal-hal yang tidak pernah didapat dalam keluarganya. Dakota mau membangun itu seandainya menikah.
__ADS_1
Bibir memang tersenyum, tapi mata Dakota tidak bisa bohong merasakan sendu. Berkaca-kaca dan berusaha tidak menangis tiap teringat bagaimana orang tuanya lebih menyayangi adiknya. Kasih sayang yang tidak terbagi rata semenjak ada anak laki-laki terlahir di keluarganya. Ia tersingkirkan, terasingkan, terabaikan. Bahkan diberikan pada orang lain yang tak bisa memiliki keturunan supaya mengasuhnya. Semiris itu memang.
Tapi, semua tidak berlangsung lama. Orang tua angkat Dakota meninggal lebih dahulu, dan ia menjadi anak yang harus mencari jalan keluar sendiri dari segala permasalahan yang ada.
Brennus melihat kesedihan itu. Buru-buru mengusap bawah mata Dakota yang basah. “Aku minta maaf jika menyakiti hatimu. Jangan menangis.” Menarik tubuh sang wanita ke dalam dekapan. Mengusap punggung yang mulai naik turun.
Brennus mengangguk, membiarkan sang wanita lebih tenang terlebih dahulu. Bajunya pasti basah, ia bisa merasakan ada air yang meresap. Tidak masalah, ini kali pertama bahunya dijadikan luapan kesedihan. Senang rasanya bisa mendengar keinginan Dakota yang sangat sederhana.
__ADS_1
Dirasa sudah tenang dan Dakota telah menarik diri dari pelukannya, Brennus pun berangsur turun ke bawah. Berjongkok di depan sang wanita.
“Kenapa kau di situ? Duduklah,” ucap Dakota seraya menarik tangan Brennus.
Namun, ditolak. Pria itu tetap mempertahankan posisi. Ia genggam tangan yang terlihat kuat tapi ternyata rapuh juga. Brennus sedikit mendongak. “Dakota, mungkin kau masih ragu dengan perasaanku padamu. Tapi, akan tetap ku yakinkan dirimu, bahwa ajakanku menikah bukan untuk sementara. Selamanya.”
Ada jeda sebentar, Brennus mengusap perut Dakota. “Bukan karena anak ini atau salah satu wujud tanggung jawabku. Tapi, aku yakin jika bersamamu, kita bisa hidup dan membangun keluarga bahagia.”
__ADS_1
Brennus kembali menggenggam. “Aku tidak bisa menjanjikan seisi dunia untukmu. Tapi, aku bisa menjanjikan bahwa seluruh duniaku hanyalah kau dan keluarga kecil kita nantinya.” Menarik tangan Dakota, ia meninggalkan kecupan di punggung tangan. “Aku mencintaimu tanpa alasan, semua tumbuh begitu saja seiring berjalannya waktu.”