
Benar ‘kan sesuai dugaan Brennus. Memutuskan Laura itu memang sedikit sulit. Mau ditemui seribu kali pun pasti tak akan berhasil. Memang sudah benar menggunakan caranya sejak awal, putus melalui pesan dan tinggalkan saja tanpa ada kabar. Siapa tahu bosan sendiri dan menyerah.
Daripada seperti sekarang, membuang waktu dengan hasil akhir yang sudah Brennus tahu. Lebih baik digunakan untuk memikirkan cara mencuri perhatian Dakota daripada mengurusi Laura yang kerasa kepala. Sudah dibilang ia muak pun tetap tidak paham kalau saat ini ada di titik tak ada jalan maju ke depan bagi hubungan mereka.
Lagi pula, kalau sejak awal memang menginginkan Laura menjadi pendamping selamanya, pasti Brennus nikahi sejak lama. Nyatanya sampai menjalin bertahun-tahun pun tetap stuck di situ terus. Tak ada dorongan hati untuk menjadikan Laura istri. Berbeda dengan Dakota yang ia pun langsung berniat untuk serius. Jarang ada wanita di sekelilingnya yang masih utuh tak tersentuh. Maka, dia sangat beruntung menjadi yang pertama untuk Dakota.
“Maaf, Laura. Aku tetap tidak bisa. Kisah kita berakhir cukup sampai di sini.” Brennus memutar tubuh dan berjalan menuju pintu untuk keluar dari private room. Bahkan makanan yang dipesan pun sampai tak tersentuh sedikit saja. Tak ada kata terima kasih telah membersamai selama beberapa tahun kebelakang. Waktu Laura untuknya telah dibayar dengan uang yang selalu wanita itu habiskan, berapapun yang diberi, pasti tak ada sisa.
__ADS_1
“Apa ada wanita lain? Kau selingkuh?” tuduh Laura. Suara isakannya telah menghilang. Secepat itu, mungkin dia hanya pura-pura sedih. Mana ada orang menangis sungguhan tapi bisa bersuara biasa saja setelahnya.
Langkah Brennus terhenti, kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Memang benar ada wanita lain. Tapi, bukan salah Dakota. Ini murni salahnya yang tidak bisa mengendalikan perasaan dan keinginan untuk memiliki sosok itu, yang bagai bintang di angkasa dan sulit untuk digapai.
“Tidak ada, dan aku tak meminta persetujuanmu untuk putus. Secara sepihak, ku akhiri. Entah kau mau atau tidak, tidak peduli. Yang jelas, kita tak ada hubungan apa pun lagi, mulai sekarang!” Memang harus ditegasi. Brennus meninggalkan Laura seorang diri.
...........
__ADS_1
Langkah pertama menjadi pria single sudah tercapai. Saatnya sekarang mendekati Dakota lagi. Brennus akan menggabungkan dua metode dari Daddy dan pamannya. Siapa tahu berhasil.
Untuk bisa lebih dekat dengan Dakota, maka Brennus harus sering bertemu. Berhubung kembarannya ada jauh di pedesaan sana, manfaatkan saja dengan ke perusahaan terus.
Kedatangan pria itu yang telah berdiri di depan meja Dakota pun membuat si wanita mencebikkan bibir.
“Untuk apa dia ke sini lagi? Sudah bagus tidak menggangguku seperti seminggu ini. Hidupku sangat tenang,” gumam Dakota dengan kepala menengok ke kanan agar tidak terlihat kalau sedang berkomat-kamit.
__ADS_1
“Mulai hari ini aku akan membantu Aloysius di sini,” beri tahu Brennus. Padahal dia belum bilang apa-apa pada kembarannya. Pasti boleh, mana mungkin bantuan ditolak. Apa lagi saat ini tidak ada pemimpin yang stay di perusahaan itu.
“What?” pekik Dakota. Mata sampai membulat sempurna. “Apa tidak ada orang lain yang membantu?” protesnya secara spontan. Maksudnya, kenapa harus Brennus, sementara ia tahu masih banyak anggota keluarga Dominique.