One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 45


__ADS_3

“Kau bohong?” Pertama kali masuk apartemen Dakota dan melihat sang wanita ternyata sedang santai menikmati makan, Brennus kesal sekali. Baru sekarang ia merasa dipermainkan.


Dakota menyengir dan mengangguk polos, seolah tak merasa bersalah. “Maaf.”


Andai benar-benar sakit, pasti Brennus langsung memeluk dan membawa untuk diperiksa. Tapi, hanya kali ini ia tidak ada keinginan untuk mendekap Dakota.


Kepala Brennus bergeleng pelan seirama kaki melangkah menuju sofa dan duduk di sana. “Kau sudah sangat keterlaluan, Dakota.” Nada bicaranya bukan lagi seperti biasanya. Kini terdengar jelas kalau tegas dan marah.


“Aku hanya ingin tahu kau memprioritaskan aku di atas segalanya atau tidak,” jelas Dakota. Makannya tidak lagi terasa mudah ditelan karena merasa aura apartemen itu mulai berbeda.


Mendengar alasan itu, Brennus melirik dengan tatapan tajam tak bersahabat. “Apa selama ini pembuktianku masih kurang? Kau belum percaya juga dengan perasaanku?”


Menghela napas kasar, Brennus sampai angkat tangan harus bagaimana lagi menunjukkan kesungguhan hatinya. “Entah masa lalu seperti apa yang membuatmu sampai seperti ini, takut melangkah dan tak mudah percaya. Tapi, setidaknya jangan berbohong perihal kesehatan, paham?!”

__ADS_1


Dakota yang hendak berjalan mendekati Brennus pun mematung di tempat saat mendengar suara sang pria meninggi. Dari wajah, jelas itu adalah kilatan kemarahan. Baru sekarang dia tahu kalau Daddy dari anak dalam kandungannya bisa marah.


“Kenapa kau seemosi itu?” tanya Dakota. Hamil membuatnya jadi perasa dan lebih mudah tersinggung. Sialan memang hormon perubah sifatnya itu.


“Karena aku khawatir, paham?! Aku rela meninggalkan kerjasama bernilai puluhan juta euro demi kau. Tapi, ternyata semua itu hanya kebohongan.” Brennus berdiri saat Dakota duduk di sampingnya. “Entah setelah ini aku akan percaya lagi dengan ucapanmu atau tidak. Rasanya sulit karena kepercayaan yang ku berikan ternyata kau gunakan untuk bahan bercandaan.”


Dakota menatap punggung sang pria yang berjalan menjauh menuju pintu, lalu keluar begitu saja. Dia mau mencegah supaya tetap tinggal dan ingin memberi tahu tentang keputusannya yang mau menikah. Tapi, Brennus terkesan sangat marah hingga menatap dirinya pun enggan.


Terhitung tiga hari Brennus mendiamkan Dakota. Datang ke apartemen sebelah hanya untuk memberi dan menemani makan tanpa mengajak bicara.


Bukan Brennus mau jual mahal. Tapi, supaya Dakota paham kalau menguji seseorang tidak harus menggunakan cara berbohong tentang kesehatan. Setidaknya ia hanya mogok bicara, perhatian tetap jalan seperti biasa. Chat dari sang wanita juga cukup dibaca dan tak pernah diberikan respon.


Dakota sampai bingung harus bagaimana membuat Brennus agar berhenti mendiamkan seperti sekarang. Terhitung sudah satu minggu mereka tidak komunikasi dua arah. Padahal maaf berkali-kali juga setiap hari diucapkan.

__ADS_1


Tidak tahan jika terus begini, Dakota memutuskan untuk menghampiri Brennus di kantor. Pertama kali masuk ruang kerja sang pria, orang yang dicari sedang berkutat dengan tumpukan berkas. Hanya meliriknya sekilas, dan mengabaikan lagi.


“Bre ... jangan seperti ini terus, ya?” mohon Dakota. Ia meletakkan tas di sofa, dan berjalan mendekat pada meja kerja.


“Tergantung,” jawab Brennus singkat. Tidak melihat mata lawan bicara pula.


“Apa? Katakan padaku, harus melakukan apa supaya kau memaafkan aku.” Dakota meraih tangan Brennus hingga pria itu berhenti membolak balikkan kertas.


Brennus mengedikkan bahu. Dia tidak akan mengatakan keinginannya. Juga enggan memberi hukuman layaknya cerita cinta pernovelan pada umumnya atau film-film romantis yang semua beres setelah bercinta.


“Kenapa diam saja? Aku tidak bisa membaca isi pikiranmu.” Dakota rasanya mulai frustasi dan pusing sendiri. Oke, mungkin itu memang hukuman atau konsekuensi dari perbuatannya. Tapi, jangan selama ini juga.


Brennus menyingkirkan tangan sang wanita dan berdiri, bergerak menjauh menuju pintu penghubung toilet. Jujur, sebenarnya dia bisa mudah luluh. Menjadi pria dingin bukanlah sifatnya. Tapi, dia hanya mau tahu sampai mana Dakota akan membujuk selain kata maaf tentunya.

__ADS_1


__ADS_2