
Dakota kini paham posisi Brennus. Ia pikir pria itu yang masih ingin bersama dan belum bisa melupakan masa lalu, ternyata justru sebaliknya. Entah alasan yang diberikan padanya benar atau bohong, tapi ia mempercayai itu dan tidak lagi merasa marah. Lagi pula maksud Brennus menemui Laura karena mau memperjelas dan mengakhiri semuanya supaya tidak diganggu lagi. Ia pun kalau dihubungi terus sampai ke telepon kantor juga pasti merasa terganggu. Dan Brennus ternyata tipe orang yang maunya menyelesaikan secara langsung tanpa menghindar.
Gara-gara kejadian itu, Dakota jadi lupa kalau mau kontrol ke dokter kandungan juga. Akhirnya memutuskan untuk hari ini saja. Dia sekarang pengangguran, sering melamar kerja tapi ditolak terus. Tahu siapa yang membuatnya seperti itu, tentu Brennus yang meminta semua perusahaan supaya menolaknya. Pria itu senang sekali melihatnya hanya di apartemen dan tinggal menerima uang. Padahal, ia sudah gatal ingin bekerja, takut kehilangan skill yang didalami selama beberapa tahun terakhir.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar saat Dakota siap dengan pakaian rapi. Tentu ia buka karena mau keluar juga.
Rupanya Brennus sudah berdiri di sana dengan melemparkan sebuah senyuman tengil. “Mau ke mana? Cantik sekali.”
“Rumah sakit, cek kandungan,” jawab Dakota. Ia dorong dada Brennus supaya tidak masuk dan setelah memastikan pintu terkunci otomatis, kakinya melangkah.
Brennus mengekor dan menggenggam tangan sang wanita. “Aku temani, itu ‘kan anakku juga.” Lebih ke arah paksaan, bukan meminta persetujuan.
“Memangnya kau tidak kerja?”
“Kerja, tapi untukmu dan anak kita, harus didahulukan.” Brennus menoel hidung si cantik yang berhasil membuatnya tergila-gila.
__ADS_1
Dakota diam dan membiarkan Brennus. Mereka pun naik satu mobil, milik si pria tentu saja. Selama perjalanan, Dakota melirik dan bagaikan ada protesan yang ingin dikeluarkan.
“Aku ingin bekerja,” pinta Dakota.
“Ya ... ajukan lamaran saja, kalau diterima silahkan kerja, jika ditolak pun aku masih bisa mencukupi kebutuhan kalian.” Brennus menanggapi santai seolah membebaskan sang wanita.
Sayangnya, Dakota sudah tahu apa yang pria itu lakukan. Dia melipat tangan di atas perut. “Bagaimana bisa diterima kalau kau menjanjikan sebuah kesepakatan kerjasama pada perusahaan yang aku lamar, jika mereka menolakku.”
“Jangan menuduh, aku tidak securang itu,” elak Brennus.
“Oh, ya?” Dakota mengeluarkan jurus tidak percaya.
Dan ada senyum menghiasi wajah si cantik. “Hanya menebak, tapi dari reaksimu barusan, secara tidak langsung memang benar.”
Brennus mengangguk paham, ternyata dia terjebak dengan permainan pola kata Dakota. “Pantas saja Aloysius marah padaku saat kau resign, ternyata kau bisa mempermainkan orang, ya.”
__ADS_1
Dakota mengedikkan bahu, lalu ia turun mendahului. Brennus lekas menyusul dan merangkul.
“Nanti konsultasi dengan dokter dulu, apa kau boleh banyak pikiran atau tidak. Bekerja itu melelahkan, takutnya janin ini belum kuat.” Brennus mengusap perut Dakota.
“Lebih melelahkan lagi kalau tidak melakukan apa-apa,” sanggah Dakota.
Bagi orang-orang yang sudah terbiasa melakukan aktivitas kerja, menganggur adalah musuh terbesar. Mungkin jika sebentar saja bisa dikatakan enak. Tapi, kalau sudah terlalu lama, pasti merasa ada sesuatu yang hilang.
Mereka pun mengantri sebagaimana yang lainnya. Menunggu giliran hingga tibalah saat Dakota diperiksa. Seperti biasa, dilakukan USG.
Dokter mengatakan kondisi kesehatan janin baik, perkembangan bagus. Hingga saatnya mau membersihkan gel sisa di atas perut pasien, Brennus menyela.
“Biar aku saja.” Brennus menengadahkan tangan untuk meminta tisu.
Tangan kekar itu bergerak mengusap di atas perut, sembari berkomunikasi dengan sang anak. “Kita belum pernah ketemu, ya? Kau rindu dengan Daddy, tidak?” Tidak ada yang menjawab, Dakota hanya menaikkan alis melihat kelakuan Brennus. Jadilah pria itu melanjutkan berdialog sendiri. “Ha? Rindu, ya? Sabar, oke? Nanti ku jenguk kalau mommymu sudah mau menerima lamaranku. Sekarang dia sedang jual mahal. Tapi, tenang saja, aku akan berusaha sampai dia mau.”
__ADS_1
Dakota memutar bola mata, ternyata hanya mau menyindir dirinya karena tak kunjung memberi kepastian.
Perut pun sudah bersih dari gel. Brennus membuang tisu ke tempat sampah, dan kembali menghampiri sang wanita yang sudah berubah posisi menjadi duduk. “Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?”