
Obrolan tiga pria itu terjeda karena waktunya makan malam. Dariush sampai izin pada istri untuk pulang terlambat karena seru juga berbincang dengan keponakan yang sedang banyak pikiran.
Brennus berusaha tidak memperlihatkan raut menyedihkan di depan mommynya, supaya tak mencuri perhatian wanita itu. Dia tidak ingin menambah beban sosok yang kini sedang dalam masa penyembuhan.
“Bagaimana pekerjaanmu, Bre?” tanya Amartha. Mau ditutupi bagaimanapun, namanya seorang ibu, dia masih bisa melihat ada guratan pusing di mimik sang putra.
“Oh ... lancar,” jawab Brennus diakhiri senyum meyakinkan.
“Yakin?” Amartha tidak langsung menerima begitu saja.
“Ya. Baru menang tender di proyek Lotus. Nominalnya lumayan,” beri tahu Brennus.
“Percintaanmu lancar juga?”
Tangannya berhenti menyendok. Merasa bahwa sejak tadi sedang diinterogasi. Mungkin wajahnya kurang meyakinkan. “Mommy tenang saja, putramu yang satu ini bukan biang masalah.”
Delavar dan Dariush menahan tawa karena mereka sudah tahu ceritanya.
__ADS_1
Brennus melirik dua manusia. Satu di sampingnya, satu lagi di paling ujung. Memang dasar bapak-bapak tidak bisa diajak kompromi.
“Kalian kenapa? Tersedak?” Perhatian Amartha kini teralihkan pada suami dan iparnya. “Minum dulu.”
“Kesedak lebah,” sahut Brennus asal. Kesal sekali jika bercerita dengan dua manusia itu. Menyesal, tapi ketagihan untuk mengungkap segala keluh kesah, seakan sedikit hilang saja beban hidupnya.
Selepas makan malam, mommynya juga telah tidur, Brennus menghabiskan waktu dengan duduk di taman belakang. Menikmati secangkir kopi dan sebatang nikotin. Sendirian, menikmati indahnya bintang di langit yang tak mungkin digapai seperti Dakota.
Ah ... lagi-lagi wanita itu yang dipikirkan. Mau bagaimana, Brennus sulit melupakan pesona si ketus yang selalu memintanya menjauh.
“Banyak berpikir kau itu. Masalahmu mudah sekali untuk diselesaikan.” Dariush tiba-tiba bergabung dan merebut rokok keponakannya. Bukan untuk ia sesap, tapi jatuhkan ke bawah dan diinjak.
“Kau saja yang membuat pusing. Dakota ‘kan tidak menuntut apa pun denganmu, padahal dia yang dirugikan. Lantas, kenapa kau masih saja berpikir sampai kusut begitu wajahnya?” Dariush menunjuk muka keponakan yang berantakan, rambut acak-acakan menandakan terus diusap kasar beberapa kali.
“Nah, kau lanjutkan saja hidup bersama Laura. Beres,” tambah Delavar yang ikut menyusul juga setelah menemani istri sampai terlelap.
“Kalian ini tidak tahu apa yang ku rasakan,” keluh Brennus. Menyangga kepala yang terasa berat.
__ADS_1
“Memangnya apa yang kau rasakan?” tanya Delavar dan Dariush bersamaan.
Brennus menggerakkan jari supaya dua pria itu mendekatkan kepala padanya. “Ini bukan sekadar rasa bersalah. Tapi, aku juga ... ketagihan,” bisiknya.
Dua toyoran mendarat di kening Brennus.
“Sial! Ku pikir alasan apa sampai kau pusing begitu. Ternyata sudah keenakan dengan yang virgin,” sahut Dariush.
Brennus meringis dan dua alis disentakkan ke atas. “Ya ... begitulah. Maka dari itu, aku ingin bersama Dakota saja. Daripada dengan Laura tapi pikiranku untuk wanita lain? Bukankah kasian dia?”
Delavar dan Dariush mengangguk. “Ya, ya. Setuju.”
Layar ponsel berukuran enam koma tujuh inch yang ada di atas meja pun menyala, menampilkan nama Laura di sana. Brennus hanya melirik tanpa berniat untuk mengangkat.
“Kenapa didiamkan saja?” Dariush yang gemas dan merasa dering terlalu berisik pun menunjuk ponsel keponakannya.
“Malas, pasti dia tidak mau ku putuskan. Kemarin sudah ku coba untuk mengakhiri semuanya. Dan sampai sekarang balasannya belum ku baca.”
__ADS_1
“Angkatlah, kau harus menyelesaikan urusanmu dengan Laura dulu. Baru mendekati Dakota. Kalau menghindari kekasihmu terus, sama saja urusan tak kunjung usai.” Tanpa persetujuan, Delavar sudah menyentuh logo bulat berwarna hijau.