One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 34


__ADS_3

Tiap kali bertemu Brennus, kenapa yang ditanyakan dan bahas selalu pernikahan? Bukannya Dakota tidak mau atau egois ingin membesarkan anak sendiri. Tentu ia berharap bisa memberikan keluarga yang utuh dan bahagia pada anak di dalam kandungan sekarang. Namun, dia tidak yakin jika Brennus benar-benar sudah selesai dengan masa lalu.


Begini, setelah mencari sedikit informasi. Dakota tahu kalau pria itu terakhir kali menjalin kisah asmara selama bertahun-tahun. Dapat dari Bella, yang kini telah menggantikannya bekerja di perusahaan Aloysius.


Oke, bayangkan saja pria dan wanita menjalin hubungan lama, pasti memiliki banyak kenangan, bukan? Dakota merasa mengganjal juga aneh jika menerima tawaran menikah. Meski Brennus mengatakan sudah selesai semua urusan dengan masa lalu, tapi hatinya seakan masih ada yang menahan.


Dakota akui bahwa berada dalam dekapan Brennus jadi terasa nyaman. Mualnya mulai surut tidak menyiksa seperti biasanya. Bahkan ia sampai tertidur di pelukan. Bangun-bangun sudah ada di kamar saja. Padahal terakhir kali ia ingat masih di sofa.


“Mau makan?” tanya Brennus saat merasakan pergerakan sang wanita.


“Ya.” Dakota mengangguk seraya menyingkirkan lengan yang sejak tadi merengkuh dan membuatnya merasa aman.


“Katakan, kau dan anak kita mau apa? Aku belikan atau pesankan,” tawar Brennus. Kini keduanya telah sama-sama duduk.


Kepala menggeleng. Dakota tidak ingin beli. “Kau saja yang masak.”


“Ha?” Wajah Brennus sampai terkejut. “Aku tidak bisa, pernah saja tidak. Kalau tak enak, bagaimana?”


Dakota mengedikkan bahu, menurunkan kaki, lalu keluar dari kamar. Ia duduk di meja makan dan melihat ke arah dapur.

__ADS_1


Dakota pikir, Brennus tidak akan menuruti permintaannya. Ternyata pria itu sekarang telah berdiri di depan kompor dengan lengan sudah digulung sebatas sikut.


“Oke, aku akan memasak untukmu. Tapi, kalau tidak enak, kita beli saja, ya?” pinta Brennus. Ia meletakkan ponsel yang disandarkan pada dinding. Tentu saja ingin melihat tutorial di youtube.


Hanya dijawab anggukan. Dakota pun mulai melipatkan kedua tangan di atas meja dan mendaratkan dagu. Mata terus menyaksikan bagaimana Brennus kebingungan dan kuwalahan. Ia sampai terkikik sendiri. Bagaikan melihat hiburan lucu di depan. Seorang pemimpin perusahaan yang tak pernah berkutat di dapur, mau-maunya melakukan keinginannya.


Dakota tidak akan menampik kalau Brennus memang pria pekerja keras yang tak mudah menyerah. Selalu berusaha meski berkali-kali sudah dipukul mundur. Dia senang, hanya saja tidak mau jika lawannya adalah masa lalu, terlalu berat. Lagi pula perasaan pria itu padanya juga masih abu-abu.


Sampai tertidur di meja makan karena lama sekali. Dakota terhenyak ketika ada tangan menyentuh pundaknya.


“Sudah jadi.” Brennus meletakkan sepiring spaghetti yang visualnya tidak estetik.


Menguap sebentar, sejak hamil memang Dakota lebih banyak ngantuk. “Kenapa hanya satu? Kau tidak makan?”


“Oh ....” Dakota menerima garpu yang diberikan oleh Brennus. Ia mulai melilit mienya dan menyantap itu. Ekspresinya biasa saja, namun nampak menikmati.


“Enak?”


“Lumayan.”

__ADS_1


Brennus pun penasaran, akhirnya ia mencoba juga karena saat masak tadi tidak dicicipi. Tak yakin lidahnya bisa menerima hasil karya sendiri. “Hoek ... asin begini. Sudahlah, kita beli saja.” Tangannya hendak menarik piring.


Ditepis oleh Dakota. “Kelamaan, aku sudah lapar.”


“Kasian anak kita kalau terlalu banyak konsumsi garam.”


“Ini asin keju, kau kebanyakan.”


“Kata tutorialnya masukkan secukupnya. Ya ... instruksinya tidak jelas, ku beri saja sekotak besar yang ada di kulkas.”


“Pantas saja, menghabiskan bahan masakku.”


Dakota tetap melanjutkan. Walau lidahnya memang merasakan jika tidak enak. Namun, perutnya masih bisa menerima. Lagi pula Brennus sudah mencoba membuatkan, sayang jika dibuang begitu saja.


Si pria terus terfokus pada bibir yang mengunyah. Andai mereka tinggal berdua, menikah, pasti akan lebih mudah melakukan dan memberikan segala perhatian setiap saat.


“Kenapa sampai sekarang kau belum berubah pikiran? Apa aku kurang membuktikan jika niat menikah dan tanggung jawab bukan sekadar bualan?” tanya Brennus.


Untung Dakota sudah menghabiskan makanan dan kenyang. Meletakkan garpu, ia sedikit dongakkan kepala. “Alasanmu masih sama, begitu juga dengan jawabanku.”

__ADS_1


Selesai, Dakota berdiri dan mau mengambil minum. Biarlah Brennus berpikir sendiri.


“Jika ku katakan aku menikahimu karena cinta, apakah kau masih menolakku?” Mata Brennus terisi oleh punggung yang berada di depan kulkas. Dakota tengah membeku di sana setelah ia lontarkan kalimat tersebut.


__ADS_2