One Night Tragedy

One Night Tragedy
Part 27


__ADS_3

Akhir-akhir ini Dakota merasa lelah dengan segala aktivitas. Keseharian yang memang monoton sejak awal, jadi terasa membosankan sekaligus menyebalkan karena ada Brennus dalam kurun waktu satu minggu. Dia tidak ada waktu untuk menikmati hari libur sedikit pun.


Hidup Dakota bagaikan terikat, terkekang, terpenjara dengan satu orang bernama Brennus. Sabtu dan minggu seharusnya adalah saat bersantai tanpa memikirkan apa pun, termasuk pekerjaan. Semestinya dia bisa jalan-jalan menikmati uang hasil kerja keras selama ini. Setidaknya tiduran di apartemen juga tidak masalah.


Namun, apa yang Dakota dapatkan selama ini? Mulai dari senin sampai jum’at bekerja. Sabtu dan minggu pun selalu ditelepon dadakan oleh Brennus untuk berangkat ke kantor. Awalnya terima saja karena mungkin memang urgent.


Kian lama, Dakota justru menjadi muak. Dia ingin memiliki ruang bernapas sedikit saja. Walau dua hari di waktu weekend. Tidak seperti sekarang yang harus memacu mobil menuju kantor.


Sembari berkendara, tangan kanan Dakota memijat pelipis. Dia ini sedang pusing, badan juga terasa tidak enak. Tapi, ditahan sejak beberapa hari yang lalu. Ingin sekali pergi ke dokter, hanya saja tidak ada waktu. Dua puluh empat jamnya seakan direnggut habis oleh seorang Brennus Finlay Dominique. Mau izin pada pria itu pun malas, banyak tanya, nanti pasti ikut pula ke rumah sakit, tambah ribet.


“Ck! Perutku ... seperti diaduk-aduk lagi.” Dakota mengusap perutnya saat sampai di depan perusahaan. “Sudahlah, cepat selesaikan urusan.”

__ADS_1


Dia turun sembari tetap memutarkan telapak tangan di bagian yang terasa tidak nyaman tadi. Suasana sangat sepi karena seharusnya memang ini hari libur. Hanya ada dua mobil yang terparkir. Satu lagi pasti milik Brennus. Tadinya pria itu menawarkan mau menjemput, tapi sudah pasti ditolak.


Hari ini Dakota tidak memoles wajah menggunakan riasan. Bahkan mandi pun tidak. Akhir-akhir ini air terasa mengerikan baginya. Entahlah, mungkin alasan saja karena dia malas membasahi tubuh.


Sampai di ruang kerja, ada Brennus di sana. Pria itu tengah menyandarkan pantat di meja, dan pandangan terarah pada pintu yang baru saja dibuka.


“Terlambat dua puluh menit. Aku mengatakan pukul sepuluh harus sudah sampai, kan?” omel Brennus seraya menunjuk jam tangan di pergelangan tangan.


Brennus menghampiri, berdiri di belakang sang wanita. Setiap hari selalu begitu, dekat-dekat. Kata pamannya supaya Dakota terbiasa dengan keberadaannya. Tapi belum kunjung berhasil sampai sekarang, jangan-jangan ia disesatkan pula.


“Ini.” Brennus membuka sebuah dokumen.

__ADS_1


Decakan kesal langsung keluar dari bibir Dakota. “Ini kerjaannya orang finance, bukan sekretaris. Mana paham masalah keuangan,” protesnya. Sumpah tidak penting sekali.


“Makanya belajar supaya kau bisa. Sini, ku ajari.” Ada saja akal modus Brennus untuk berduaan.


Dakota tidak memberikan tanggapan. Dia sedang merasakan mual semakin melanda hebat. Rasanya tidak tahan untuk tak dikeluarkan.


“Minggir!” Kedua tangan Dakota menyingkirkan lengan yang mengurungnya.


Berdiri, namun tangan tiba-tiba dicekal oleh Brennus. “Mau ke mana?”


“To—” Ada jeda karena Dakota menutup mulut saat ingin muntah saat itu juga.

__ADS_1


“Kau sakit?” Brennus melihat wajah sang wanita nampak pucat sekali. Ia segera menempelkan telapak di kening untuk mengecek suhu badan.


__ADS_2