
Sudah satu jam lamanya Dakota duduk menemani Bella bekerja. Temannya banyak tanya sekali tentang pekerjaan. Padahal sudah pernah ia jelaskan sebelumnya. Alasan lupa, jadilah kembali mengulangi lagi.
Beberapa kali Dakota melirik ke arah jam. Kini sudah pukul setengah dua belas, sebentar lagi makan siang.
“Brennus kapan kembali ke sini?” tanya Dakota. Ia telah merasakan resah karena belum melihat wajah pria itu selama satu bulan. Ingin memastikan secara langsung kabar Brennus, sekaligus menuntaskan rasa rindu sang anak di dalam kandungan yang terus menyiksanya kalau tidak bertemu.
“Tunggu saja lebih lama, dia sedang ada urusan. Mungkin sibuk di perusahaannya sendiri.” Bella seakan tahu sesuatu, hingga berusaha supaya Dakota tidak pergi dari sana.
“Ck! Mana bisa, aku sudah lapar dan anakku maunya makan buatan daddynya. Kalau beli atau aku masak sendiri, pasti dimuntahkan lagi.” Dakota beranjak berdiri karena sudah tidak sabar. “Sudahlah, aku ke sana saja. Toh sekalian mau mengajaknya ke dokter kandungan untuk memeriksakan bayi ini.” Tangannya melakukan gerakan mengusap perut.
“Bye, Bella. Selamat menikmati apa yang ku rasakan saat bekerja di sini, ya.” Dakota mengecup pipi kanan dan kiri temannya saat berpamitan. Ia berjalan begitu saja tanpa peduli kalau suara di belakang memanggilnya dan berusaha menahan lebih lama lagi.
Bella menghembuskan napas dengan punggung didorong ke belakang sampai tersandar pada kursi. “Semoga mereka tidak bertemu. Bisa kacau, lagi pula Dakota keras kepala sekali. Aku memintanya tetap di sini karena Brennus sedang menyelesaikan urusan dengan mantan.”
__ADS_1
Tapi, mau bagaimana lagi, Dakota telah menghilang ditelan lift. Wanita itu mengendarai mobil menuju perusahaan Brennus. Tentu saja tahu di mana lokasinya karena dahulu pun sering datang ke sana untuk urusan pekerjaan.
Dakota hanya tinggal bilang ada urusan dengan Brennus Finlay Dominique, langsung diizinkan masuk. Tentu saja karena resepsionis dan security di sana mengenal dia sebagai sekretaris salah satu anak perusahaan keluarga Dominique.
Dakota menuju lantai delapan. Ruangan pimpinan tidak di paling atas. Entah apa alasannya, tak peduli juga. Yang penting Dakota mau bertemu Brennus.
Sampai di tujuan, Dakota menghampiri meja sekretaris. “Boy?” panggilnya.
“Aku memang mau bertemu dengan Brennus, tapi belum buat janji.” Dakota berdiri di depan meja, tidak ada kursi untuk ia duduk.
“Dia sedang keluar.” Haruskah Boy mengatakan dengan siapa? Apakah Dakota ingin tahu tentang itu? Sepertinya tak perlu. “Tunggu saja di sofa.” Ia tunjuk ruangan yang dimaksud, memang khusus tamu untuk menanti.
“Di ruangan Brennus saja, boleh, kan?” Dakota menatap dengan penuh permohonan.
__ADS_1
“Jangan, nanti aku kena omel kalau membiarkan orang lain masuk ke dalam sana saat bosku tidak ada,” larang Boy.
“Sudah, tenang saja. Aku yang akan menanggung kalau kau kena marah.” Dakota menepuk pundak Boy. Kemudian ia masuk ke dalam ruangan Brennus.
Kosong, tidak ada siapa-siapa. Pandangan Dakota tertuju pada meja yang berantakan oleh banyak berkas. Matanya sangat gatal melihat itu, jiwa rapinya menggebu ingin menata.
Dakota menghampiri meja kerja Brennus. Menyusun dokumen supaya tertata dan mudah jika mau mencari. Namun, pandangan mata mendadak beku pada satu titik. Bingkai foto di atas meja.
Meraih benda kecil itu, seraya perlahan duduk di kursi kerja. Ia usap baik-baik. “Dia menjadikan fotoku dan USG anak di kandungan ini sebagai penyemangat kerja?”
Demi apa pun, Dakota terharu sekali. Sampai matanya berkaca-kaca karena itu sangat menyentuh hati.
Saat masih sibuk mengusap bingkai tersebut, Dakota mendengar ada pintu terbuka dari luar. Otomatis pandangan bergerak ke arah sana. Mata langsung panas saat itu juga karena ada seorang wanita yang kini sedang menggandeng lengan Brennus.
__ADS_1