
Axce POV
"ini gila!" aku berfantasi liar mengingat malam panasku bersama seorang wanita yang tak ku kenal.
Wanita yang berhasil membuatku terbang ke awang-awang menikmati surga dunia untuk yang pertama kalinya. Jika tau senikmat ini, aku pasti dudah melakukannya sedari dulu. Mengingat betapa liarnya sobat-sobat lucn*tnya bermain bersama para ******.
Siapa wanita itu? Aku benar-benar tidak mengingatnya, hanya suara dan aroma nya saja yang mesih melekat dalam ingatanku.
"Apa yang sedang kau pikirkan son?" Suara seseorang dari belakangku, menyadarkan lamunanku tentang malam panasku bersama seorang wanita yang tidak ku kenal itu.
"Nothing dad!" Jawabku setelah tahu bahwa yang memanggilku adalah daddyku tuan besar Elvart Curterus Marverigo.
"Tidurlah son, esok kita akan ke markas untuk mengurus tikus-tikus yang berani mengusikmu" ucap daddy memperingatkanku.
"Daddy tak perlu turun tangan, aku yang akan mengurusnya" ujarku seraya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon.
Axce POV end.
Di sebuah bandara, seorang wanita dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya, berjalan dengan wajah datar tanpa ekspresi sambil menyeret koper besar.
Dia adalah Gerania Caramella Siandra, wanita cantik itu masuk kedalam pesawat yang akan membawanya ke negara X.
Setelah malam di mahkotanya direnggut, oleh seorang lelaki yang tak di kenalnya, dia menyiapkan segala kebutuhannya untuk pergi dari negara tersebut. Meninggalkan segala kenangan yang masih terpatri di ingatannya.
Miris... satu kata yang mampu mendefinisikan keadaannya saat ini,. Setelah kematian kedua orang tuanya dia menjalani kehidupan yang rumit dan sekarang dia kehilangan hal yang paling berharga dalam dirinya yang telah diambil oleh seorang pria yang tak dikenalnya. Hanya wajahnya saja yang sangat jelas di ingantannya, setelah bangun di pagi hari dan mendapati dirinya bangun bersama laki-laki yang memeluknya dari belakang di atas tempat tidur yang sama.
"Akan ku anggap itu tak pernah terjadi!" gumamnya kemudian memejamkan matanya menikmati perjalanan panjangnya di dalam pesawat.
~/////
Setelah menempuh perjalanan sekitar delapan jam, akhirnya Gera sampai di negara X.
Dia langsung mencari taksi untuk mengantarnya mencari sebuah apartemen sederhana untuk ditinggalinya selama berada di negara tersebut.
"Aku akan memulai semuanya dari awal di sini" Ucapnya lirih.
/////
Sedangkan di belahan bumi lain, seorang pria tengah duduk di sebuah kursi yang dihadapkan dengan dua orang yang sangat meyedihkan.
Tatapannya yang begitu tajam dan menusuk membuat orang-orang tidak berani menatapnya langsung.
"Apa motif kalian melakukan itu padaku?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Axce Gional Marverigo seorang ketua mafia kejam yang sangat di takuti di dunia gelap selain itu dia juga seorang Presdir di ELZa GROUP, perusahaan besar di negara X.
Hening, tak ada yang menjawab pertanyaannya. Dua orang yang ada di depannya pria paruh baya bernama Rymer Costrak dan putrinya Adelia Costrak tampak ketakutan dengan tubuh bergetar dan penuh luka.
" aku tanya sekali lagi tuan Costrak, apa motifmu melakukan hal keji itu padaku?" Tanya Axce dingin.
Yang ditanya semakin ketakutan letika meilhat Axce bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dua orang tersebut sambil membawa sebuah belati tajm di tangannya.
"Rupanya tawananku ini bisu, karena tidak mengeluarkan suaranya untuk sekedar menjawab pertanyannyaku"
"Apa yang harus aku lakukan dulu untuk membuat dua tikus kecil ini bicara? Atau aku haris merobek mulut mereka dulu agar mau bicara?" Ucap Axce punuh peringatan dengan seringai di bibirnya.
__ADS_1
"Ma... maaf..kan kamu tuan" Adelia memberanikan diri membuka mulutnya karena takut dengan ancaman Axce.
"Hohoho! rupanya ku bisa bicara juga tikus kecil. Hampir saja aku memotong lidahmu agar kau benar-benar tidak bisa bicara!" sembari bangkit dri jongkoknya.
Kemudian ia kembali duduk ke kursi yang sebelunya didudukinya.
"Mengapa kau memberi obat sialan itu nona Adelia?" Tanyanya pada Adelia.
"A...aku mencintaimu tuan. Aku ingin kau hanya menja..di milikku" Adelia menjawab dengan terbata.
Axce yang mendengar jawaban tersebut, tersenyum menyeringai
"Benarkah nona? Rupanya kau begitu terobsesi padaku. Apa pendapatmu tuan Costrak?" kini dia beralih menatap Tuan Rymer yang semakin menunduk ketakutan. Salah besar dia telah mencari masalah dengan lelaki tersebut.
"nampaknya kalian sudah sangat lelah berada di dunia ini. Baiklah, anak buah ku akan meringankan beban kalian" jawabnya sembari berdiri dari duduknya.
Adelia yang mendengar pernyataan tersebut, sontak mendongakkan kepalanya.
"tu...tuan jangan lakukan itu. Tuan, aku akan melakukan apapun yang kau mau tuan. Tapi tolong lepaskan ayahku. Kumohon tuan?" pinta adelia dengan memelas.
"apapun?" tanya Axce dengan menaikkan sebelah alisnya.
"i..iya tuan, apapun. Saya juga bersedia menyerahkan tubuh saya pada anda. Asalkan kami di bebaskan" dengan wajah penuh pengharapan.
Axce yang mendengar pernyataan tersebut merasa tergelitik, sungguh berani wanita itu memberi penawaran tidak berkelas itu padanya.
"kau pikir aku mau menikmati tubuhmu yang jelek itu?" kemudian Axce menatap Anton "apa kau mau Anton?" lanjutnya bertanya pada Anton.
Anton yang ditanya seperti itu menatap dengan jijik ke arah Adelia, 'murah sekali' Pikirnya.
"Tidak... tidak tuan. Lebih baik aku menyewa wanita panggilan. Daripada kau berikan secara gratis, tapi modelan seperti itu" ucap Max cepat sebelum Axce bertanya padanya. Sungguh dia merasa ilfiel dengan wanita di depannya itu
"kau dengar nona Adelia? Tidak ada yang menginginkan tubuhmu itu. Kau simpan saja untuk dirimu sendiri!" Ucapnya seraya berjalan ke arah pintu keluar.
Sebelum benar - benar keluar dia melirik anak buahnya yang ada di dalam.
Seakan mengerti akan tatapan tuannya, anak buah Axce langsung berjalan menuju dua orang yang sudah kepayahan tersebut.
Dorr
Dorr
Dua peluru berhasil melubangi dua kepala orang yang sudah terluka parah akibat siksaan selama menjadi tawanan disana.
"Berikan dagingnya pada Guby!" ucap Anton, kemudian dia dan Max menyusul Axce yang telah keluar duluan.
Guby adalah seekor anjing besar yang di pelihara oleh Axce di markasnya tersebut.
^_^
"Hiiih, sungguh menjijikkan!" ucap Max pada dua orang di depannya, Axce dan Anton.
"hahaha.... matamu yang melotot menatapku seperti tadi sangat menggemaskan" ucap Anton tertawa terbahak - bahak.
__ADS_1
"Shitt, kurang ajar kau Anton. Tega - teganya kau menawarkan wanita macam itu padaku. Lebih baik aku benyak mengeluarkan uang untuk meyewa jal*ng daripada menikmati tubuh penuh luka wanita jelek itu!" Max menatap geram pada Anton yang masih tertawa di hadapannya.
"Diam...!!!" ucap Axce tegas yang dari tadi mendengar ucapan unfaedah dua teman lucnatnya itu.
"hahaha... mengapa tidak kau saja yang mencobanya Axce. Bukankah rasanya enak? Kau kan sudah pernah merasakan surga dunia untuk yang pertama kalinya" ucap Max yang kini malah meledek Axce.
Axce menatap tajam pada Max yang nampak masih terkekeh itu.
"hmmm, Axce! Apa kau percaya pada ucapan wanita itu? Kuarasa ada ketakutan dalam matanya saat dia bilang bahwa dia menginginkanmu" ucap Anton mengalihkan topik, karna merasa janggal atas pernyataan Adelia.
"Heh bodoh, tentu saja ada ketakutan dalam matanya. Hidupnya saja di ujung tanduk!" selosor Max sambil menepuk bagian belakang kepala Anton.
"bukan itu mak--" ucapan Anton terpotong oleh Axce.
"Aku tau!" jawab Axce.
"maksudmu?" tanya Max kebingungan.
"bukan itu alasan sebenarnya dia memberikan obat sialan itu padaku!" Ucap Axce tegas.
"Hmm, itu maksudku bodoh!" timpal Anton seraya menoyor jidat Max.
"Huffff.... jadi ada orang lain dibalik semua itu kah?" tanya Max sembari menangkis tangan Anton yang menoyor jidatnya.
Axce hanya mengangguk kecil untuk menjawab pertanyaan Max tersebut.
"apa rencana mu selanjutnya Axce? Apakah perlu ku selediki siapa yang merencanakan semua ini?" tanya Max pada Axce yang belum menjelaskan semuanya.
"Biarkan saja, aku ingin melihat sejauh mana dia ingin bermain - main dengan ku!" Jawab Axce santai dengan menarik sedikit sudut bibirnya.
__
__
__
"Jadi mereka telah mati?" Tanya seorang pria yang tengah duduk di kursi sembari meminum wine di tangannya pada pria yang tengah berdiri di depannya semberi menundukan kepala.
"Benar tuan! Mata - mata kita yang telah memberikan info tersebut." Jawab Pria yang satunya sembari mengangguk kecil
"Mereka memang bodoh! Hanya tugas kecil seperti itu saja mereka sampai kehilangan nyawa" umpat pria tersebut sambil melempar asal gelas wine di tangannya.
"Cuih... kali ini kau selamt Axce! Tapi kupastikan kau akan mati ditangan ku!" sembari meludah sembarang.
"Lexy! Kau perintahkan mata - mata kita untuk bisa meberikan denah markas Axce kepadaku! Agar aku akan lebih mudah menghancurkan markasnya!!!" ucap pria itu berapai - api.
Sedangkan pria yang di panggil Lexy tersebut langsung mengangguk mengiyakan permintaan pria yang tengah duduk dengan penuh emosi di depannya itu.
"Kalau begitu, saya permisi tuan. Saya akan mengabarkan pada mata - mata saya untuk melakukan tugasnya!" ucap Lexy sembari menunduk hormat kemudian berlalu dari tempat tersebut.
"Hmmmm" pria tersebut hanya menjawab dengan deheman.
"Kali ini kau lolos Axce, tapi kupastikan kau tak akan bisa lepas lagi dariku!" geram pria tersebut.
__ADS_1
Hai ini karya pertama Ai, maaf klo bnyak typo. Soalnya Ai masih amatiran banget. bantu dukung ya suapa ai makin semangat nulisnya :)