
"sial!" umpat seorang pria yang tak lain adalah Alex.
"bisa - bisanya dia tau kalau ada bom di dalam tas itu" lanjutnya lagi dengan wajah merah menahan emosi.
" dia terlalu cerdik untuk di tipu bos!" ujar salah seorang anak buahnya bernama Roky.
" aku tidak bisa meremehkannya!" Alex menjambak rambutnya prustasi
"bagaimana selanjutnya bos? Pasti tuan Axce tidak akan tinggal diam setelah kejadian ini" kata Roky lagi karna sudah dipastikan Axce akan membalas mereka.
"itu yang sedang kupikirkan, aku mengenal siapa itu Axce. Dia tidak akan membiarkan kita hidup tenang setelah ini" Alex sangat gusar mengingat orang yang akan di dadapinya adalah Axce ketua mafia paling di takuti.
"bagaimana jika minta pertolongan pada tuan Simon saja tuan? Bukankah ini tawarannya untuk kita melenyapkan tuan Axce" Roky memberi saran.
Alex tampak berfikir menimang-nimang saran yang di ajukan roky padanya. Setelahnya sudut bibirnya sedikit terangkat naik.
" kau benar! Dia yang menawarkan kita untuk membunuh Axce. Ahhhhh.... seandainya aku tidak tergiur dengan apa yang dia janjikan padaku, pastinya sekarang kita tidak dalam keadaan seperti ini" Alex sangat ketakutan karna tau hidupnya di ujung tanduk.
"Kita akan ke tempat Tuan Simon sekarang. Kuharap dia mau melindungi kita" ujar Alex sembari berdiri dari duduknya.
"baik tuan!" jawab Roky sambil mengikuti langkah tuannya.
^.^^.^^.^
"hmmmm.... rupanya dia lagi yang mau bermain - main denganku! Sudah kuduga mana mungkin kelompok mafia kecil seperti Alex berani melawanku" ucap Axce tersenyum menyeringai.
"benar tuan! Tuan Simon yang telah menawarkan pada Alex untuk membunuh anda. Mata - mata kita mendengar semua yang dibicarakan oleh Alex dan asistennya. Dan kini mereka berdua tengah menuju markas Tuan Simon untuk meminta perlindungannya" Max tampak menjelaskan informasi yang ia dapat dari mata - matanya.
"hahhaha... mereka pikir Simon akan melindunginya. Bodoh sekali mereka percaya pada Simon". Axce tertawa mendengar betapa bodohnya pikiran Alex yang ingin meminta perlindungan dari Simon.
"Aku yakin setelah mereka menyampaikan maksudnya, Simon pasti akan mengusir mereka dari markasnya. Atau bahkan langsung membunuh mereka disana" lanjut Axce terkekeh.
" lalu bagaimana jika mereka tidak mendapat perlindungan tuan Simon, apakah kita akan tetap menyerang markas mereka tuan?" kini anton bertanya karna penasaran akan langkah selanjutnya dari tuannya itu.
"aku akan tetap menhancurkan mereka. Karna sudah berani mengusikku" Axce berkata datar.
"kapan kita akan menyerang markas Alex tuan?" tanya Anton
"setelah dia kembali dari tempat Simon" jawab Axce.
"menagap tidak sekarang saja tuan, saat Alex sedang tidak berada di markasnya. Bukan kah akan lebih mudah menghancurkan markas mereka?" tanya Max.
__ADS_1
" jika kita menyerang sekarang, sudah dipastikan bahwa dia akan kabur sebelum sampai ke markasnya. Aku ingin mengakhiri hidupnya secepat mungkin" Axce menyeringai.
"baik tuan. Kami akan menyiapkan anak buah kita yang akan ikut dalam penyerangan nanti" ujar Max.
"hmmm" ia hanya menjawab dengan deheman.
Kemudian mereka berdua berlalu meninggalkan Axce sendiri.
Sesampainya Alex dan Roky di markas Simon, mereka langsung menuju ruangan dimana Simon berada. Mereka berdua tidak di cegah oleh anak buah Simon yang berjaga karena mereka tau jika Alex dan Roky adalah tamu bosnya. Sebab Alex dan Roky sudah beberala kali pergi ke markas Simon.
Tiba di depan ruangan khusus Simon. Mereka di hadang oleh dua anak buah Simon yang berjaga di depan pintu.
" apakah tuanmu ada?" tanya Alex pada kedua penjaga tersebut.
"bos ada di dalam. Ada perlu apa tuan mencari bos kami?" tanya penjaga satu pada Alex dengan nada datar.
"kami sedang ada keperluan penting dengan tuanmu. Katakan saja Alex ingin bertemu" ujar alex.
"baik, tunggu dulu tuan. Saya akan bertanya apakah bos mau bertemu dengan anda atau tidak" jawab penjaga kedua.
Kemudia salah satu penjaga tersebut mengetuk pintu ruangan Simon.
Tok tok tok
"ada apa? " tanya Simon tanpa mengalihkan pandangannya dari beberapa kertas yang dibacanya.
"bos ada yang ingin bertemu dengan anda. Namanyavtuan Alex, katanya ada keperluan penting" ucap anak buahny itu menyampaikan maksud Alex.
Simon yang semula masih terfokus pada kertas - kertasnya Mengernyitkan dahinya sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah anak buahnya yang sedang tertunduk hormat padanya.
"suruh dia masuk!" ujar Simon datar.
Anak buahnya hanya menjawab dengan anggukan kecil menundukkan hormat kepalanya. Dan berlalu keluar ruangan Simon.
Tak berapa lama setalah anak buanya keluar, pintu ruangan tersebut kembali terbuka. Menampilkan fua orang pria masuk kedalam dengan wajah sedikit gugup.
"ada apa kau kemari?" tanya Simon to the point.
Alex masih terdiam bingung harus bicara dari mana.
"jika tidak penting, tinggalkan trmpat ini" dia berkata dengan nada dingin sambil menatap Alex yang gugup
__ADS_1
"kedatangan saya kesini untuk meminta perlindungan pada tuan" ucap alex dengan wajah penuh harap.
Simon yang mendengar permintaan alex pun mengernyitkan dahinya.
"perlindungan untuk apa?" tanyanya menatap nanar wajah Alex.
"saya gagal membunuh tuan Axce. Dan mungkin sekarang Tuan Axce akan menyerang markas saya tuan" ucapnya menunduk.
Simon yang mendengar itu mengertakkan giginya marah.
"bodoh! Kau sangat bodoh Alex. Apa yang kau lakukan sangat bodoh. Bagaimana caramu hendak membunuhnya?" tanya Simon menahan emosi.
Kemudia Alex menjelaskan cara ia menjebak Axce dan bagaimna Axce mengetahui rencananya tersebut.
"apa kau pikir Axce sebodoh itu, sampai mudah tertipu oleh rencana tak berebobot milikmu itu. Tentu saja dia akan tau! Aku menyuruhmu memikirkan rencana menjebaknya matang-matang, bukan malah tergesa-gesa ingin segera menyingkirkan dia!" bentak Simon pada Alex.
Alex yang mendengar ucapan Simon termanggu, seketika matanya terbelalak menyadari apa maksud ucapan Simon. Yang artinya dia tidak akan mau melindunginya dari Axce.
"ma...maksud tuan?" tanya Alex bergetar.
Simon yang mendengar itu pun tersenyum miring.
"kau pikir aku mau menolongmu? Jangan harap! Itu adalah kebodohanmu. Maka selesaikan urusanmu sendiri" ucap Simon semakin membuat Alex tak berkutik.
"sekarang kau pergi dari sini, atau kau mau aku langsung menembakmu ditempat? Itu pilihan untukmu. Setidaknya jika kau pergi dari sini kau masih bisa merasakan udara sebentar sebelum kematianmu" dengan senyum menyeringai, simon kemudian melirik salah satu anak buahnya untuk mengusir Alex dari ruangannya.
Tanpa banyak kata anak buah Simon langsung menyeret Alex dan roky keluar ruangan tersebut.
"tuan! Tuan tolong saya tuan" alex masih saja memohon pada simon dalam berontaknya pada anak buah simon yang menyeret paksa ia dan roky, tapi lelaki itu seakan tuli malah menyeringai ke arah alex.
Hingga kedua orang itu tak terlihat lagi dari balik pintu bercat biru itu.
)))))))
Di dalam mobil, tepat di kursi penumpang sebelah kemudi. Alex tampak duduk dengan gelisah, hati nya benar benar merasa takut saat ini. Perasaannya sangat kacau entah apa yang dipikirkannya, tampak dari raut wajahnya menunjukan ketakutan teramat sangat.
Kadang kala dia bergerak ke kiri dan ke kanan, menoleh kedepan dan keluar jendela sampingnya. Sungguh ia benar benar gundah.
"akhhhh aku akan gila bila seperti ini" alex berucap dengan nada bergetar.
Roky yang melihat tuannya begitu frustasi hanya bisa menghela nafas pelan. Sungguh ia juga merasa takut sama dengan apa yang di rasakan alex, hanya saja roky lebih bisa mengontrol dirinya.
__ADS_1
"sebaiknya kita kembali dulu ke markas tuan, kita akan memikirkan cara terbaik untuk bisa melindungi diri kita" usul roky pada alex.
"aku tak tau harus berbuat apa, terserah padamu saja roky. Semoga masih ada hari esok untuk kita" kata alex pasrah.