One Night With Mr. Mafia

One Night With Mr. Mafia
Menyerang Markas Musuh


__ADS_3

Manyerang markas musuh #5


Alex dan Roky kini telah sampai di markas mereka, terlihat beberapa anak buah yang berjaga di depan markas tersebut menunduk hormat kala alex melewati mereka.


Alex langsung menuju ruangannya di ikuti oleh roky di belakangnya, sepenjang perjalanan ia hanya membisu tak bicara sepatah katapun sampai ia mendudukan dirinya di kursi yang ada di ruangan tersebut.


Terlihat di ruangan itu ada beberapa anak buahnya berdiri berhadapan dengan tempat duduk alex, roky tanpak menjelaskan apa yang akan mereka lakukan untuk melindungi markas. Alex hanya mendengarkan tanpa berkata. Ia sedang kalut dengan pikirannya saat ini.


Di tengah pembahasan serius roky dan para anak buah alex, terdengar alex berseru yang membuat mereka semua yang ada di sana sontak menoleh pada alex yang masih duduk itu.


"siap kan helikopterku, Roky. Kita akan pergi malam ini!" ujar alex sarkas tanpa melihat ke arah roky yang tampak cengo itu.


Roky yang mendengar ucapan alex itu tentu terkejut atas permintaan tuannya itu. Tapi ia hanya bisa menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan tersebut.


" baik tuan!" ujar roky mantap.


Kemudian roky langsung mengintruksikan salah satu anggotanya melakukan tugas dari tuannya.


Saat menunggu helikopternya siap, alex dan roky kembali pada perbincangan mereka tentang cara agar mereka bisa terbebas dari amukan Axce, tiba-tiba pintu ruangan alex di dobrak oleh seseorang dari luar. Sontak hal tersebut membuat keduanya terlonjak kaget langsung mengarahkan pendangan mereka ke arah pintu yang tampak sudah terlepas dari enselnya itu.


Seorang pria tampak muncul dari balik pintu itu dengan memegang sebuah pistol di tangannya di ikuti dua orang pria lain di belakangnya. Membuat alex hampir lupa cara bernafas melihat Axce sudah berdiri tegap di depannya dengan tersenyum sinis ke arahnya.


"selamat malam tuan Alex" Axce menyapa alex yang tampak masih linglung dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu.


Flasback on


Sebuah mobil melaju di jalan dengan ke cepatan sedang, mobil yang di tumpangi Alex dan Roky itu tampak memasuki area hutan. Tak jauh dari jalan yang mereka lalui seorang mata-mata Axce mengamati mobil itu. Iya kemudian mengiformasikan pada Anton apa yang ia lihat.


"ada apa?" tanya Anton ketika telepon itu tersambung.


"tuan alex sudah kembali ke markasnya" jawab mata-mata itu dengan cepat.


"bagus" kemudian Anton langsung mematikan sambungan telepon itu.


Ia berjalan mendekati Axce yang tampak sedang menghisap sebatang rokok di tangannya.


"Dia sudah kembali ke markasnya tuan" Anton langsung bicara to the point ketika ia sampai di hadapan Axce.


Axce menyeringai mendengar ucapan Anton, tanpa ia bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"langsung kesana" titahnya tanpa ba bi bu


"saat ini pasti dia belum mempersiapkan apa-apa. Jika kita menyerang secara mendadak pasti dia tidak akan mengiranya" Axce langsung melenggang keluar markas di ikuti Max dan Anton dibelakangnya.


Flasback of.


"apa kau suka kejutanku Alex?" Axce bertanya dengan sesekali membolak balik pistol di tangannya.


Alex yang masih tampak syok itu berusaha mengendalikan dirinya dari keterkejutan.


"selamat datang dimarkas saya tuan Axce" bukannya menjawab pertanyaan Axce, Alex malah berusaha bersikap santai dengan menyambut kedatangan Axce.


Axce yang mendengar itu menyunggingkan senyum tipis. Orang yang ada di hadapannya ini berusaha menutupi ketakutannya.


"cih... aku tidak tersanjung dengan sambutanmu itu" Axce hanya berdecih dan langsung duduk di kursi yang ada di ruangan itu tanpa di persilahkan.


Alex yang semula berdiri kala menyambut Axce pun ikut kembali duduk di kursinya lagi. Mencoba besikap sesantai mungkin agar tidak terlihat gugup.


"ada hal apakah yang membuat tuan Axce yang terhormat ini sudi singgah ke markas ku yang kecil ni" sembari mengeluarkan bungkus rokok dan menaruhnya di atas meja.


" kau yakin tidak tau alasannya Alex?" Axce kembali bertanya sambil mengambil sebatang rokok dari atas meja yang di sodorkan Alex itu.


Axce berdiri dari duduknya dan tiba-tiba langsung menodong kan pistol ke kepala alex. Sontak alex terkejut atas apa yang dilakukan orang di depannya itu padanya.


"jangan pura-pura alex! Kau pikir aku sebodoh itu itu sampai mudah tertipu oleh rencanamu" sentak Axce semakin menekan ujung pistolnya kekepala alex.


"ampun tuan, maafkan saya! Saya hanya menerima perintah dari tuan Simon saja tuan" ujar alex yang kini sudah bersimpuh di kaki Axce.


"cih menjijikan! Kau pikir aku akan memaafkan seseorang yang sudah berani bermain-main denganku? Tidak akan!" geram Axce tampa aba-aba menarik pelatuk pistolnya, tentu saja itu membuat lubang di kepala alex.


Roky yang melihat itu menelan salivanya susah payah habis sudah umurnya setelah ini.


"bereskah semua!" ujar Axce berlalu pergi dari sana.


Begitulah Axce, dia tak akan bertele-tele jika sedang menghadapi musuhnya. Dia akan langsung membunuh orang yang berani mengusiknya. Terlihat kejam memang, tapi itulah ciri khasnya tidak suka berbasa-basi.


Markas milik alex dibakar habis oleh anak buah Axce, begitu juga dengan mayat orang-orang alex dan mayat alex sendiri tentunya. Mau yang sudah mati ataupun yang masih hidup semua di bakar di markas itu.


"tuan akan ke markas terlebih dulu atau anda mau langsung pulang tuan?" tanya Anton yang sedang menyetir mobil, sementara max hanya duduk di kursi samping kemudi.

__ADS_1


"langsung pulang!" ujar Axce dingin sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat duduk.


"baik tuan!"


Sesampainya di mansion Axce langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam mansion tanpa berbicara lagi pada Anton dan Max.


" aku jadi kasihan pada wanita yang akan menikah dengan tuanmu itu Max" dengus Anton kesal karena melihat Axce yang berlalu begitu saja meninggalkan ia dan Max di dalam mobil.


"ck apa iya dia akan menikah?" tanya Max pada Anton.


"mana aku tau, tapi dilihat dari sifatnya yang seperti itu tidak akan ada wanita yang sanggup hidup dengannya" ujar anton.


"apa jangan-jangan tuan Axce seorang gay" ucap Max tiba-tiba.


Ucapan Max membuat ia dan Anton saling bertatapan agak lama, setelah itu tawa mereka pecah satelah sama-sama bergulat dengan pikiran mereka masing-masing.


Hahahaha.....


Tawa keduanya semakin kencang sampai membuat mobil yang belum mereka turuni itu bergoyang karna kelakuan mereka.


Tanpa diduga Anton langsung memukul kepala Max yang masih tertawa terbahak-bahak, Max yang kepalanya dipukul sontak menghentikan tawanya dan menatap Anton tajam setelah berhasil mengontrol dirinya.


"Kenap...." belum selesai max bicara sudah di potong oleh Anton terlebih dahulu.


"dasar bodoh!" geram Anton yang sekarang menjitak kepala max.


"kau kenapa malah memukul kepalaku. Apa sekarang kau gila!" Pekik Max sambil memukul tangan Anton yang masih menjitak kepalamu.


"kau memang bodoh! Benar-benar bodoh. Apa otakmu tidak pernah kau pakai. Jika Axce seorang gay, dia tidak akan tidur dengan seorang wanita. Jerry nya pun bahkan tidak akan bangun saat itu!" sungut Anton yang gemas dengan Max.


Mendengar ucapan Anton, max malah tertawa terbahak-bahak dan itu berhasil membuat Anton heran ' gila kah?' batin Anton yang hanya geleng-geleng kepala.


"sudah ketawanya, turun! Nanti di kira kita ngapa-ngapain lagi di dalam mobil berduaan" ucap Anton lalu membuka pintu mobil dan masuk menuju mansion Axce.


Mereka berdua keluar dengan max berada di belakang Anton dengan penampilan yang sudah berantakan karena tertawa, kelakuan mereka berdua itu di saksikan oleh sepasang mata satpam yang melihat dari mobil itu bergoyang kencang sampai Anton dan max yang keluar dari mobil dengan penampilan acak-acakan. Satpam mansion Axce yang bernama Toni itupun tersenyum misterius.


"tidak disangka ganteng-ganteng tapi gay" kekeh pak toni sambil berlalu dari tempat itu.


~wah wah pak toni salah paham😆😆

__ADS_1


__ADS_2