One Night With Mr. Mafia

One Night With Mr. Mafia
Permintaan Ella


__ADS_3

Gera membuka pintu kamar putrinya, ia ingin memastikan keadaan putri nya sudah tidur atau sedang mengerjakan sesuatu di dalam kamar nya.


Ketika pintu kamar itu telah terbuka, Gera terkejut saat mendapati putrinya sudah berdiri di depan pintu.


"Astaga!" Pekik Gera mengelus dadanya.


"Ada apa?" Tanya Ella dingin.


"Huhh kau ini mengejutkan mommy saja" ujar Gera sambil berkacak pinggang.


Ella mengernyitkan dahinya ketika melihat mommy nya tak menjawab pertanyaan dari nya.


"Aku akan tidur. Jika tidak ada yang ingin mommy katakan, mommy bisa pergi sekarang!" Bocah itu berucap tanpa bersalah sedikitpun.


Gera membelalakan matanya mendengar ocehan Ella, membuatnya mendengus kesal karna tau sifat putrinya itu yang tidak suka di ganggu.


"Hei kau ini, tidak sopan sekali. aku ini mommy mu!" sungut Gera kesal, ia memasang wajah garang untuk menakuti putrinya itu.


Lain halnya dengan Ella, dia memasang wajah datar dan menaikan sebelah alisnya seolah berkata 'katakan! Aku tidak punya banyak waktu!'


Mengerti arti tatapan putrinya, ia menurunkan tangannya dari pinggang kemudian menatap putrinya lembut seperti biasa.


"Boleh mommy masuk dulu?" tanya Gera pada putrinya.


Ella tidak menjawab, tapi menyingkir dari depan pintu. Pertanda bahwa dia mengizinkan mommy nya untuk masuk.


Ella tau jika mommy nya sampai meminta bicara di dalam kamar nya, berarti ada hal penting yang ingin di sampaikan oleh mommy nya itu.


Gera memindai isi kamar putrinya, rapi seperti biasa. Tidak terlalu banyak barang di dalam nya, hanya ada sebuah lemari kaca, meja belajar dan sebuah ranjang. Berbeda dengan kamar Ellson dan Ellton yang di penuhi oleh berbagai macam benda, dari peralatan melukis, meja eksperimen, komputer, dan berbagai macam alat lain yang bahkan Gera tidak tau namanya.

__ADS_1


Ibu tiga anak itu mendudukan dirinya di ranjang milik putri nya, sedangkan Ella turut duduk di samping mommynya.


Ella menatap wajah mommy nya, wajah cantik mommy nya itu terlihat lelah dan banyak pikiran. Tidak seperti biasa, selelah apapun mommy nya dia tidak pernah menunjukakan raut wajah seperti itu.


"Mommy, ada apa?" Ella membuka suaranya, gadis itu bicara lembut tidak seperti biasanya. Karna tau mommy nya sedang dalam masalah.


Gera mentap nanar putrinya, ia bingung memulai ceritanya dari mana. Ya, berbeda dengan kedua adik nya yang menyemangati mommy nya secara terang - terangan, Ella selalu ada di belakang itu semua. Dia lebih suka menyemangati mommy nya jika mereka hanya berdua, mendengarkan keluh kesah mommy nya dan masalah - masalah yang sedang di hadapi oleh mommy nya, Ella selalu menjadi pendengar yang baik di setiap cerita mommy nya.


Awalnya Gera ragu untuk menceritakan masalahnya pada putri nya itu, karna takut akan membuat anak itu menanggung beban masalahnya juga, tapi Ella selalu meyakinkan nya untuk bercerita saja masalah nya pada Ella. Sehingga sedikit demi sedikit membuat Gera terbuka pada putrinya itu, di mulai dari ia yang bercerita di marahi atasannya karana terlambat datang ke kantor dan kesalahan yang ia buat, ia cerita kan pada putrinya. Di luar dugaannya putrinya tidak tertekan atau terbebani dengan ceritanya, malah putrinya itu memberinya nasihat dan saran atau kadang memberi jalan keluar dari masalah yang di hadapinya.


Gera kadang bingung, mengapa ia memiliki putri yang memiliki pemikiran jauh lebih dewasa dari anak seusia nya. Berbeda dengan kedua adik nya, meskipun keduanya memiliki kecerdasan di atas rata-rata tapi tingkahnya tetap saja seperti bocah pada umumnya. Bermain dan meminta hadiah dan bermanja-manja pada mommynya.


Ella hanya pernah sekali meminta sesuatu pada mommy nya, dan itu masih jauh di bawah apa yang di minta oleh kedua adiknya, sebuah ipad yang di mintanya dua tahun lalu dan masih di gunakannya sampai saat ini.


"Mommy, katakan ada apa?" Desak Ella ketika melihat mommy nya malah melamun.


Gera tersentak kaget mendengar pekikkan putrinya, membuat nya tersadar dari lamunannya.


"Ahh tidak, mommy hanya lelah saja" kilah Gera mengalihkan pandangannya keseluruh ruangan.


Ella menatap tajam pada mommy nya karna ia tau jika mommy nya itu berbohong pada nya.


"Mommy, kau berbohong!" Sungut Ella.


Sudah ku duga pasti dia tau' Batin Gera.


"hehehe..." cengir Gera menampakkan deretan gigi putihnya sambil menggaruk tengkuk nya.


"Katakan!" Seru Ella menatap mommy nya.

__ADS_1


"hmm jadi..." Gera menceritakan apa yang terjadi di kantor nya tadi, tentang permintaan Tuan Hendrik yang meminta untuk pergi ke negara Z.


Ella mendengarkan cerita mommynya begitu serius, sesekali bocah itu tampak menganggukan kepalanya.


"Jadi mommy harus bagaimana? mommy masih belum siap kembali ke sana" Ucap Gera dengan wajah memelas.


Ella tersenyum melihat mommy nya, Gera bercerita seolah - olah putrinya adalah orang dewesa yang akan mengerti masalahnya.


^ya walaupun si Ella ngerti sih^


"Mommy takut jika kami menemukan daddy?" Tanya Ella yang membuat Gera speccless.


Ya hanya Ella yang tau segala sesuatu tentang mommy nya, meskipun Gera tidak memberi tahukan nya, Ella akan mencari tahu semuanya sendiri sampai Gera sendiri lah yang menceritakan nya, ia takut jika anak itu mencari tau sendiri, semua tentang nya akan di ketahui oleh anak itu sampai hutang pembalut di supermarket seberang jalan pun akan di ketahui anak itu. 'memalukan' batin Gera


"Dengarkan aku mom!" Gadis kecil itu menangkup wajah mommy nya, membuat bibir mommy nya manyun.


"Jika mommy terus menghindar dan terus lari dari masalah mu, sampai kapan pun kau tak akan pernah bisa sembuh dari trauma mu. Jika memang sudah waktunya kembali, maka kembalilah! Kami akan terus mendukung apapun keputusan mommy" Ella mengecup kedua pipi dan mengusap wajah Gera, membuat wanita itu memejamkan mata nya menikmati setiap sentuhan halus tangan putri nya.


"Aku mungkin bisa hidup tanpa daddy, tapi bagaimana dengan kedua adik ku? mereka akan terus menanyakan keberadaanya. Ya walau pun belum tentu kita akan bertemu daddy atau tidak di sana" Ella merotasi mata nya agar tidak bertatapan dengan mata ibu nya.


"Sayang.. bu.. bukan maksud mommy memisahkan kalian dengan daddy kalian, tapi mommy tidak tau siapa daddy kalian" Gera memelankan suaranya di akhir kata, tetapi masih bisa di dengar oleh bocah itu.


"Aku tidak butuh dady, juga tidak memaksa mommy untuk tau siapa daddy, aku hanya ingin bahagia dengan kehidupan yang kau pilih, aku meminta mommy memikirkan keputusan yang akan kau pilih!"


Gera memutar mata nya malas, putrinya seperti penasehat saja.


"Sudahlah kau terlalu bersikap seperti ibu yang menceramahi anak nya, di sini yang menjadi mommy siapa heh?" Gera berusaha mengalih kan pembicaraan.


"Kau tidak cocok jadi serius mom!"

__ADS_1


~typo bertebaran di mana-mana mohon bijak dalam memilih bacaan.


Salam cinta ai😘


__ADS_2