
Laura Hanifa, memandang toko kue kecil nya yang sekarang sangat sepi. Dua orang
karyawan nya juga terpaksa dirumahkan. Beberapa bulan terkahir ini memang
tokonya sangat sepi. Belum lagi Laura harus membayar sewa toko nya.
“Selamat siang kak, masih buka tokonya.” Pelanggan pertama datang sejak pagi Laura
membuka tokonya seorang diri.
“Iya mas, silahkan.” Laura mempersilahkan cowok yang datang pertama kali ke tokonya.
Cowok itu tampak aneh memandang Laura, tatapan nya tajam dan penuh selidik,
namun di balik wajah tampanya, hal itu itu memperlihatkan kalau dia tampang
penjahat.
“Terimakasih Mas,” Laura memberikan kue pesanan dengan ramah. Cowok itu langsung saja pergi
begitu saja.
Dan sampai malam hanya cowok itulah yang datang ke toko nya, entah apa yang
terjadi, Laura sungguh tidak mengerti.
Keesokan harinya Laura tidak membuka tokonya lagi, dia malas-malasan di rumahnya. Dia
mencoba membuka koran pagi itu untuk mencari lowongan kerja. Dan pandangan nya
tertuju pada berita bisnis yang meliput tentang pengusaha muda yang sukses.
Laura hanya menggelengkan kepalanya, sungguh hebat pemuda yang tidak jauh beda
umurnya itu bisa sukses, sedangkan Laura bisnisnya baru 1 tahun berjalan itu
kini sudah tutup.
Laura menghempaskan nafasnya dalam-dalam, mencoba berpikir apa yang salah dalam
usahanya. Laura menatap lukisan yang ada di rumah kontrakan nya, lukisan sebuah
keluarga yang tengah makan bersama terlihat bahagia. Laura menitikan air mata,
sampai detik ini dia tidak tahu siapa keluarganya. Dia hanya ingat 20 tahun
yang lalu saat itu usinya mungkin masih 5 tahun, keluarganya mengalami sebuah
kecelakaan, mobil berbalik-balik, hanya itu yang di ingat Laura, setelah itu
dia berada di rumah sakit. Dan kemudian di bawa ke panti asuhan. Entahlah saat
itu apa yang terjadi, Laura masih terlalu kecil untuk mengerti situasi itu,
apakah ayah dan ibunya meninggal, atau masih hidup. Laura tidak punya pilihan
saat itu, hingga akhirnya sekarang dia berusaha untuk mandiri.
Laura bangkit dari tempat duduknya dan pergi untuk jalan-jalan menghilangkan rasa
sedih nya.
Laura pergi ke tempat nongkrong biasanya dia datangi, sebuah Kafe taman dengan nuansa
tradional, suasananya sangat nyaman dan tenang. Tanpa sengaja Laura bertemu
dengan cowok yang kemarin membeli kue di tokonya. Laura memperhatikan cowok
tersebut, dan sepertinya wajah itu sering dia temui. Saat Laura menatapnya,
pandangan cowok itu langsung mengarah ke arah Laura.
Laura terkejut dan segera mengalihkan pandanganya, akan tetapi cowok itu malah
menghampiri Laura, dalam hati Laura berkata “ Ya ampun kenapa tu cowok datang
kemari sih, jangan-jangan dia tahu kalau dia sedang memperhatikannya tadi.”
“Hai sedang sendirian.”
“Iya,”
“Boleh saya duduk disini?”
“Silahkan.”
Cowoktampan itu duduk di kursi yang ada di depan Laura.
“Kenalkan saya Erlangga, panggil saja Erlan.” Erlangga mengulurkan tangannya.
“Laura.”
“Sepertinya
saya pernah lihat kamu, dimana ya?”
“Mas
kemarin yang membeli kue di toko saya.”
“Oh,
__ADS_1
iya betul, kenapa sekarang disini, tidak jaga toko.”
“Tidak
mas, tokonya saya tutup,”
“Oh,
kue di tempat kamu enak lho, saya ada rencana mau kesana lagi padahal,”
Laura
hanya tersenyum. Mungkin hanya kata-kata untuk menghiburnya saja.
“Kalau
saya pesan secara pribadi bisa, di kirim ke kantor besok.”
Laura
menatap cowok ini, apa dia kasihan padanya ya. Tetapi ini kesempatan Laura
kembali, dia segera menerima tawaran Erlangga.
“Iya mas bisa.”
“Oke, ini kartu nama saya, besok kamu datang ke alamat kantor itu dan bisa hubungi
saya ya.”
“Baik mas, terimakasih.”
Erlangga dan Laura melanjutkan obrolan sedikit, Laura agak canggung karena ini baru
pertama kalinya dia ngobrol dengan cowok. Tetapi Erlangga bisa membuat Laura
cepat akrab, hari itu rasanya Laura mempunyai teman baru.
***
Laura sibuk membuat kue ter enak malam itu, dalam hatinya inilah kesempatan untuknya,
jika semua orang kantor Erlangga menyukai kue nya, maka tokonya akan segera
buka kembali.
Dengan semangat Laura membuat nya, hingga larut malam.
Keesokan harinya Laura segera mengantar pesanan kue Erlangga menuju kantor Erlangga.
Laura tidak menyangka kalau Erlangga bekerja di kantor yang menjadi trending
“Permisik kak, saya mau menitipkan ini, pesanan pak Erlangga.” Laura menitipkan kue yang
di pesan Erlangga ke resepsionist.
“Baik kak, nanti akan saya sampaikan.”
“Terimakasih.”
Laura segera pergi dari kantor tersebut, di luar kantor Laura meraih ponselnya dan
menelpon Erlangga.
“Hallo mas, kue nya sudah saya kirim ke kantor ya, iya, terimakasih mas.”
Laura tampak sangat gembira, seenggaknya dia masih bisa ada harapan untuk menyambung
hidupnya ke depan nya.
Saat Laura akan pergi dari kantor Erlangga, Laura melihat ada laki-laki yang lebih
tampan dari Erlangga, ya ampun itu kan yang di koran kemarin pengusaha sukses itu.
Laura tidak hentinya bengong, ternyata aslinya lebih ganteng. Laura berharap
ada pesanan kue terus ke kantor ini, agar bisa melihat cowok seganteng Fhanza.
“Laura.” Ada suara yang mengejutkannya.
“Eh, mas Erlan,”
“Kamu masih disini,”
“I ya mas, ini baru mau pulang,”
“Ohh, kamu liat apa kok sampai bengong gitu.”
“Emm itu tadi mas, itu tadi Bos nya mas Erlan,”
“Siapa? Dimas Fhanza.”
“Iya.”
“Iya gitulah, dia Bos disini, dan aku orang kepercayaan nya Dimas.”
“Wah, hebat dong.”
“Biasa aja kok, ya sudah aku masuk dulu ke dalam ya, tadi sudah aku transfer ya uang
kue nya, makasih.”
__ADS_1
“Iya sama-sama mas.”
Laura segera pulang setelah melihat Erlangga masuk kedalam kantornya.
****
“Bro, ini kue yang lo pesen.” Erlan memberikan kue yang dia pesan dari Laura untuk Dimas,
sahabat sekaligus partner kerjanya.
“Wah, sudah dapat aja lo, katanya toko kue ini sudah tutup.” Dimas mengunyah kue bolu
gulung yang memang rasanya lembut dan enak.
“Iya kebetulan gue kenal sama ownernya, dan itu spesial di buatin khusus buat lo.”
“Buat gue.” Dimas batuk.
“Ya maksudnya kalau gue yang pesan, dia buatin khusus, soalnya dia gak buka lagi
tokonya.”
Dimas hanya manggut-manggut saja. Tidak lama kemudian datang sekretarisnya yang
memberi tahu kalau Mamanya datang ke kantor.
“Siang pak Dimas, ada Bu Anggi datang Pak,”
“Aduh Mama, ngapain lagi sih Mama datang kesini, ya sudah suruh masuk aja.” Dimas
terlihat tidak suka akan kedatangan Mamanya.
“Biasa, Mamah lo bakal bawa foto cewek-cewek buat di jodohin sama lo,”
“Apain sih gak jelas banget,”
“Siapa yang gak jelas,” Mama Dimas tiba-tiba datang.
“Mama, datang-datang nyahut aja.”
“Pasti kalian ngomongin Mama ya,”
“Mama, kok baperan banget.”
“Dimas, kamu tahu gak sih Dim,tadi Mamah ketemu ama tante Nita, dan kamu tahu gak,
anaknya tante Nita yang kuliah di luar negeri tu mau pulang ke indonesia,
cantik anak nya.”
Erlangga tersenyum melihat perubahan wajah Dimas.
“Iya terus hubungan sama Dimas apa Ma,”
“Kamu ini ya gak peka banget, kamu ini muda, kaya, tampan, mapan, tapi kok gak punya
pacar, mau cari apa lagi.” Kata Mamanya cemberut.
Dimas tidak menjawab pertanyaan Mamanya, sementara Bu Anggi melihat Dimas lalu
melihat Erlangga penuh curiga.
“Mama kenapa lihatin kita begitu?”
“Kalian berdua kok sama-sama terus sih, kalian tidak,,,,”
“Mamah gak usah mikir aneh-aneh deh, Dimas tuh punya pacar Ma, ini barusan pacar Dimas
kirimin Dimas kue,”
“Apa, kamu punya pacar?serius gak sedang bercandain Mama.” Bu Anggi melihat ke arah
Erlangga, sementara Dimas sudah memberi kode untuk Erlangga bilang iya.
“Ouhh begitu rupanya, okey, Mama mau ketemu sama pacar kamu besok,”
“Iya gak bisa donk Ma, pacar aku itu sibuk.”
“Sibuk apa?”
“Bisnis juga, nih bisnis kue.”
“Oh ya, ini bisnis pacar kamu.”
“Iya, coba deh Mama rasain.”
“Oke, Mama gak mau tahu, secepatnya Mama akan tunggu pacar kamu itu, kalau tidak,
kamu harus mau kenalan sama anaknya tante Nita.”
“Siap Ma, gimana kue nya Ma, enak.”
“Iya lumayan.” Bu Anggi melahap kue lembut itu, sementara Erlangga melotot pada
Dimas, bisa-bisanya dia menambah masalah baru.
Dimas
tidak tahu lagi bagaimana menghindari Mamanya, kali ini memang dia lolos dan
aman, entah besok. Alasan apa lagi yang akan di buatnya.
__ADS_1