
Rio terlihat sedang menunggu seseorang di sebuah Restorant mewah bersama Papanya.
Hari ini dia akan bekerja sama dengan sebuah perusahaan yang sedang hits.
“Rio, perusahaan Fhanza Group ini adalah perusahaan nomer satu, jadi kalau kita bisa
bekerja sama dengan perusahaan ini, perusahaan kita juga akan mendapatkan
keuntungan yang besar, pemilik perusahaan ini masih muda, seumuran kamu, dia
adalah anak teman Papa juga.”
“Hebat sekali dia pa.”
“Iya dia memang hebat, sepeninggal Papanya, semua orang menggadang-gadang perusahaan
Fhanza Group akan bangkrut, banyak yang akan membeli perusahaan tersebut,
tetapi nyatanya tidak, justru perusahaan ini semakin sukses.”
“Rio jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengan Pak Dimas.”
Rio dan Papa angkatnya itu terlihat gelisah, beberapa kali proposal kerjasamanya
dibacanya, mereka berharap Fhanza Group bisa bekerjasama dengan perusahaan nya.
Tidak lama kemudian yang di tunggu akhirnya datang. Sebagai seorang lelaki aja
Rio menganggumi karisma Dimas, dia sangat keren.
“Selamat sore pak.”
“Iya selamat sore, maaf sudah menunggu.” Ucap Dimas dengan wibawa.
“Oh tidak saya paham kesibukan pak Dimas, pasti hari ini banyak sekali jadwal
bertemu klien nya, justru saya yang berterima kasih sudah diberi kesempatan.”
“Oh itu tidak masalah pak,”
“O iya mari pak silahkan duduk, ini anak saya Rio, dia juga wakil direktur di
perusahaan saya.” Kata pak Sofyan. Dimas menjabat tangan Rio.
“Jadi begini pak Dimas, perusahaan saya ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan
pak Dimas, ini ada proposal yang telah saya buat pak.” Kata pak Sofyan
mengajukan proposal permohonan kerjasama dengan perusahaan Dimas,.
“Baik akan segera saya pelajari, dan jika nanti saya setuju saya akan dikabari kantor
saya ya pak,.”
“Dengan senang hati pak.” Kata pak Sofyan kemudian melanjutkan rencana-rencana
kerjasama berserta keuntungan yang akan didapat dari kedua perusahaan. Dimas
ternyata orang yang sangat menyenangkan, dibalik wajahnya yang terlihat tegas,
dia ternyata sangat ramah, membicarakan bisnis pun mereka sangat santai,
sembari minum kopi dan di temani cemilan. Rio banyak belajar pada Dimas,
mengingat sebentar lagi perusahaan Papanya akan di serahkan padanya, sebagai
direktur utama tentunya Dimas bisa dijadikan contoh.
Setelah Dimas dan sekretarisnya pulang, Pak sofyan tidak hentinya memuji Dimas.
“Kamu lihat sendiri kan Rio, pemilik perusahaan Fhanza seperti apa?”
“Iya Pa, orangnya kharismatik, dan juga cepat akrab dengan semua orang.” Ucap Dimas
sembari mengemudikan mobil nya.
__ADS_1
“Betul.”
“Apa papa yakin kalau proposal kita bakal di terima.”
“Kabarnya Fhanza Group tidak menolak tawaran kerjasama dari perusahaan apapun, baik itu
menengah atau yang sudah besar, itu kenapa Fhanza Goup mempunyai jaringan yang
luas.”
“Benar-benar hebat dia, tidak semua orang bisa melakukan itu semua,”
“Iya dia memang sangat bekerja keras, o ya, kata Mama kamu, kamu mau bawa pacar kamu
kerumah?”
“Hah, aduh Mama ini tidak bisa jaga rahasia ya.”
“Kamu ini sudah mapan lho, sudah waktunya kamu mencari gadis yang bisa diajak
serius.”
“Sebenarnya Rio ada pa, Cuma tidak tahu deh, dia suka sama Rio apa tidak?”
“Siapa dia?”
“Dia teman Rio dulu saat di panti asuhan pa, namanya Laura.”
“Ohh jadi kalian sudah mengenal lama, bisa lebih bagus itu, sekarang dia dimana, apa
masih di panti?”
“Tidak pa, Laura sekarang juga ada bisnis kecil-kecilan, dia punya toko kue, itu yang
biasa Rio belikan kue bolu kesukaan Mama.”
“Oh papa Paham sekarang, pasti itu modus kamu tuh.”
“Papa ini, kita sudah kenal dari kecil masa iya pakai modus segala pa, Rio hanya ingin
sekarang dia juga masih sendiri belum menemukan orang tua.”
“Kamu yang sabar, dengan kesuksesan kamu ini kamu pasti bisa membantu teman kamu
itu.”
“Tapi dia juga bukan tipe orang yang suka dikasihani Pa, Papa ingat gak waktu Rio mau
pinjam uang beberapa bulan yang lalu, itu sebenarnya Laura sedang mengalami
kebangkrutan, tiba-tiba saja penjualan menurun drastis dan dia juga menutup
tokonya, dia sama sekali tidak mau Rio bantu, akhirnya dia mencari pekerjaan
lain untuk mengumpulkan modal, dan sekarang buka kembali,”
“Hebat ya dia.”
“Iya.”
“Pantesan kamu suka sama dia.”
“Masalahnya Rio tidak tahu apakah dia juga suka sama Rio atau tidak pa.”
“Yakin saja, kamu ini ganteng, muda dan sukses, pasti dia tidak akan menolak kamu,
besok undang makan malam aja kerumah.”
“Serius pa.”
“Iya, duarius juga boleh.”
“Makasih ya pa.”
Rio bahagia karena orang tuanya sangat mendukungnya, secepat mungkin dia akan
__ADS_1
mengutarakan perasaan nya pada Laura.
***
Hari ini Laura bertemu dengan Erlangga di tempat biasa.
“Ada apa mas Erlan,”
“Laura kamu harus mau menolong saya.”
“Menolong apa lagi mas.”
“Tolong jangan putus hubungan sama Dimas sebelum kontrak selesai.”
“Kenapa memangnya, Mas Dimas tidak apa-apa kok.”
“Iya kamu memang merasa nya begitu, tapi dikantor dia uring-uringan terus,”
“Masa sih, seperti anak kecil aja.”
“Bukan cuma itu aja, aku pasti juga akan di pecat.”
“Kenapa?”
“Yah, kamu tidak tahu Dimas aja, dalam sekejab dia bisa membuang apa yang dia tidak
suka dan mendapatkan apa yang dia mau, kalau dia stress karena Mamanya menekan
untuk mencari pacar, pasti di kantor dia uring-uringan terus.”
“Aku tidak bisa bantu mas, dia juga sudah menuduh saya maling.”
“Ya seperti itu dia kalau tidak mendapatkan apa yang dia mau.”
“Jadi jahat?”
Erlangga mengangukan kepala, dia berencana membuat Laura sedekat mungkin dengan Mama
Dimas, setelah Laura mendapat kepercayaan penuh, Erlangga akan menyuruh Laura
mengambil apa yang selama ini Erlangga cari di tempat Dimas. Kepolosan Laura
yang akan membantu menjalankan misinya.
“Serem juga ya dia, tapi memang Mas Dimas belum ada menghubungi saya.”
“Iya dia pasti gengsi.”
“Ya sudah, jadi saya harus apa?”
“Ya kamu bersikap selayaknya pacar nya dong Ra,”
“Hah?”
“Iya kan emang itu pekerjaan nya, jadi kamu kekantor beri perhatian atau apa gitu.”
“Ih, enggak lah mas, tar dibilang saya lebay, dia kan gak butuh itu, dia hanya ingin
Mamanya tidak menyerang pertanyan terus kapan dia punya pacar.”
“Ya kalau gitu kamu bisa beri perhatian sama Mamanya.”
“Boleh sih kalau itu.”
“Yups, saya percaya kok kamu itu bisa melakukan dengan baik.”
Laura diam tidak menyahut, dia benar-benar terjebak dalam situasi yang sulit. Kasihan
juga kalau Erlangga harus dipecat. Dimas itu emang aneh, terkadang baik, tapi
ternyata ada juga sifat jeleknya.
“Ya udah deh mas, nanti coba Laura ajak bicara mas Dimas nya bagaimana?”
Erlangga mengangukan kepalanya.
__ADS_1