Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 6


__ADS_3

“Lho ngapain, disini!” Dimas mendekati Laura yang tampak gugup.


“Em,, tadi berantakan jadinya aku rapihin.”


“Gak usah alasan deh lo, lo pasti mau maling kan.”


“Enggak, apa yang mau aku curi, ini tadi beneran berantakan.”


“Meja  gue tu gak pernah berantakan, pasti lo mau maling kan, udah ngaku aja lo.”


“Mas  kok tega banget sih nuduh aku kaya gitu Mas.”


“Udah  deh gak usah sok polos lo, gue paling benci sama cewek munafik kaya lo, udah lo


pergi dari sini.” Dimas bicara kasar, Laura meletakan berkas yang ada di tangan


nya lalu pergi.


“Eh, tunggu! Kalau sampai ada yang hilang barang sekecil apapun dari kantor ini, lo


yang tanggung jawab.” Dimas bicara dengan kasar, Laura langsung pergi


meninggalkan ruangan Dimas dengan mata berkaca.


“Aku  gak nyangka orang itu makin lama makin nyebelin, mendingan aku balikin aja uang


nya dan aku gak mau lagi jadi pacar pura-pura dia.” Laura mengusap air matanya


lalu pergi dari kantor Dimas.


Sementara  Dimas memperhatikan ruangan nya yang acak-acak. Dia lalu memanggil sekretarisnya.


“Nisa keruangan saya cepat.”


Dimas  masih belum percaya kalau Laura yang melakukan nya, akan tetapi siapa lagi yang


melakukan ini, karena sebelumnya tidak ada yang pernah melakukan ini. Tidak


lama kemudian datang Nisa keruangan Dimas.


“Iya pak.”


“Nisa siapa aja yang masuk ruangan saya,”


“Tidak ada Pak hanya mbak Laura.”


“Apakah  dia lama disini?”


“Tidak  pak, Mbak Laura baru saja datang saat Bapak datang, mungkin sekitar 10 menit


lalu pak Dimas datang.”


Dimas  diam sejenak, dalam waktu sesingkat itu tidak mungkin juga bisa seberangtakan


ini.


“Sebelum  nya siapa yang kamu lihat di ruangan saya.”


“Pak  Erlan, dia keluar dari ruangan Bapak setelah Bapak pergi meeting,”


“Iya  sudah kalau begitu, tolong minta OB untuk bereskan meja saya, dan berkas-berkas


ini kamu rapikan ulang, saya akan keluar sebentar, hari ini tidak ada lagi


jadwal saya bertemu klien kan.”


“Siap  pak.”


Dimas  mencoba menghubungi Erlangga tetapi tidak bisa di hubungi, dalam hati Dimas


masih berpikir, dan penasaran jika Erlangga yang melakukan itu, dia mencari


apa. Jika Laura juga dia mencari apa?.


Dimas  melihat Laura duduk termenung di sebuah kedai kopi, Dimas menghentikan mobilnya


disana dan menuju tempat Laura duduk sembari menikmati kopi, bagi Laura cara


inilah untuk mengembalikan moodnya. Laura melihat Dimas datang menghampirinya

__ADS_1


dan duduk di kursi kosong depan nya, Dimas menatap Laura yang kala itu bermake


up sederhadana, dengan rambut panjang nya terikat, tidak hilang kecantikan dan


keanggunan nya. Laura mengalihkan pandangan nya ke jalan raya, dia seperti


seseorang yang sedang marah pada pacar nya.


“Laura, saya mau minta maaf atas sikap saya tadi.” Dimas memulai pembicaraan, sementara


Laura hanya menganguk tanpa melihat Dimas, Laura adalah gadis yang lemah


lembut, semarah-marahnya dia paling dia hanya menangis.


“Kamu  marah sama saya?” Kata Dimas, Laura hanya menggeleng, ini cowok bener-bener


nyebelin, pas baik sopan banget, pas nyebeli lo gue ngomongnya.


“Kalau  lo gak marah kenapa lo gak ngomong sama gue.” Kata Dimas kembali ke sifat


aslinya, benarkan yang di bilang Laura.


“Aku lagi males ngomong mas, mas ini maunya apa sih?” Laura menatap Dimas, mata


beningnya terlihat kalau dia menahan tangisnya.


“Iya  gue tahu gue salah, harusnya gue gak nuduh lo sembarangan kaya gitu.”


“Aku  pantas kok di tuduh maling, lagian saya ini siapa, orang asing, tapi tenang


aja, saya tidak akan lari, kalau memang ada yang hilang silahkan geledah rumah


saya.” Laura bicara tetap tenang, lalu menunduk. Dimas menjadi merasa bersalah.


“Saya  tidak bisa membantu kamu lagi, saya minta maaf, besok saya akan kembalikan uang


kamu.” Ucap Laura dan itu membuat Dimas terkejut, baru juga satu bulan Laura


bekerja sama dengan dia, dan Mamanya juga sudah suka pada Laura.


“Laura, gue tahu gue salah, Cuma please, tolong bantu gue, lo tahu sendiri kan Mama itu


Laura  masih mikir-mikir lagi, nanti kalau ada apa-apa pasti dia bakal di curigai


lagi.


“Ya  Mas tinggal bilang aja kita putus, selesai kan.”


“Gak  segampang itu Laura, alasanya apa gue putusin lo, Mama bakal tanyain itu


semuanya.”


“Ya  bilang aja apa adanya, aku di tuduh maling,”


Dimas  mengusap rambutnya.


“Ok  gue salah, gue minta maaf soal itu.”


“Dimaafin, tapi ini gak ada hubungan nya sama keputusan aku buat berhentin bekerja sama kamu.”


Laura masih aja cemberut.


Dimas masih berdiam, lama-lama dia juga lelah kalau membujuk terus, siapa dia tar dia


jadi ngelunjak.


“Ya udah kalau kamu memang mau berhenti, sepertinya kamu lupa kalau kamu tidak bisa


memutuskan hubungan kerja itu, kecuali saya yang memecat kamu.” Kata Dimas.


Laura  terdiam dan menatap Dimas.


“Kenapa kamu lihatin saya seperti itu, kan memang di surat kerjanya seperti itu, kamu


tidak bisa mengundurkan diri dalam waktu yang sudah di tentukan.”


“Memang apa sih Mas bedanya putus sekarang sama satu tahun lagi, toh Mama kamu tahunya


kita pacaran udah lama, wajar kalau sekarang putus.”

__ADS_1


“Ada bedanya.”


“Apa?”


“Tahun depan pacar gue datang dari luar negri, dan saat dia datang kerja lo sama gue


selesai.”


Laura terdiam, jadi cowok nyebelin ini punya pacar. Dimas sendiri berharap kalau


Sindi masih mencintainya, dan saat dia kembali dia masih bisa balikan lagi.


Laura masih belum menjawab dia rasanya masih kesal dengan Dimas, dia gak suka di


tuduh mencuri. Laura menerima telepon dari seseorang.


“Hallo, iya betul saya sendiri, oh mas Rio, gimana Mas?” Laura melihat Dimas


mengamatinya, Laura langsung berdiri dan menjauh dari Dimas.


“Mas Rio belum dapat kabar apa-apa mas?”


“Belum  Laura, di alamat tersebut tidak ada yang mengenal orang tua kamu yang ada di


foto itu.”


“Emm iya udah deh mas, mungkin kita perlu masuk lagi kedalam, nanti kapan-kapan saya


kesana lagi ya Mas.”


“Iya Laura, saya akan terus membantu kamu mencari informasi nya ya, kamu tenang aja.”


“Iya  Mas, makasih, hubungi saya kembali kalau ada kabar terbaru ya.”


“Iya  Laura.”


Laura  menutup telepon nya dan kembali ke tempat duduknya, disana masih ada Dimas yang


menatapnya.


“Harus  ya terima telepon jauh dari gue.”


“Iya,  kenapa, anda bukan pacar saya,.” Laura bicara dengan santainya lalu meminum


kopinya. Dan pergi.


“Mau  kemana?”


“Mau  pulang.”


“Aku antar.”


“Gak usah, saya naik taksi aja.”


Laura  pergi meninggalkan Dimas dan naik taksi, aneh banget tu orang, pacar bukan tapi


sikapnya kadang kaya pacar tapi juga nyebelin kaya bos, gak taulah. Laura


bingung, dia merasa seperti terjebak dalam situasi yang sulit. Belum lagi dia


harus mencari keluarganya. Rio adalah sahabatnya selama di panti, sudah seperti


kakak bagi Laura, Rio lah yang mau membantu Laura untuk mencari orang tua


Laura, karena Rio sendiri sudah mendapat keluarga angkat yang baik dan juga


kaya raya.


Saat  itu Laura berumur 10 tahun dan Rio 12 tahun, saat itu Rio di angkat oleh


keluarga kaya karena dia pintar di sekolah, kabarnya yang punya yayasan


sekolahan lah yang mengangkatnya jadi anak, dan mereka berpisah. Setelah Rio


sukses, barulah Rio menemui Laura kembali. Hubungan Rio dan Laura begitu dekat.


Jika tidak ada Rio di dunia ini, Laura tidak tahu lagi alasan hidup untuk


siapa.

__ADS_1


__ADS_2