
“Lho ngapain, disini!” Dimas mendekati Laura yang tampak gugup.
“Em,, tadi berantakan jadinya aku rapihin.”
“Gak usah alasan deh lo, lo pasti mau maling kan.”
“Enggak, apa yang mau aku curi, ini tadi beneran berantakan.”
“Meja gue tu gak pernah berantakan, pasti lo mau maling kan, udah ngaku aja lo.”
“Mas kok tega banget sih nuduh aku kaya gitu Mas.”
“Udah deh gak usah sok polos lo, gue paling benci sama cewek munafik kaya lo, udah lo
pergi dari sini.” Dimas bicara kasar, Laura meletakan berkas yang ada di tangan
nya lalu pergi.
“Eh, tunggu! Kalau sampai ada yang hilang barang sekecil apapun dari kantor ini, lo
yang tanggung jawab.” Dimas bicara dengan kasar, Laura langsung pergi
meninggalkan ruangan Dimas dengan mata berkaca.
“Aku gak nyangka orang itu makin lama makin nyebelin, mendingan aku balikin aja uang
nya dan aku gak mau lagi jadi pacar pura-pura dia.” Laura mengusap air matanya
lalu pergi dari kantor Dimas.
Sementara Dimas memperhatikan ruangan nya yang acak-acak. Dia lalu memanggil sekretarisnya.
“Nisa keruangan saya cepat.”
Dimas masih belum percaya kalau Laura yang melakukan nya, akan tetapi siapa lagi yang
melakukan ini, karena sebelumnya tidak ada yang pernah melakukan ini. Tidak
lama kemudian datang Nisa keruangan Dimas.
“Iya pak.”
“Nisa siapa aja yang masuk ruangan saya,”
“Tidak ada Pak hanya mbak Laura.”
“Apakah dia lama disini?”
“Tidak pak, Mbak Laura baru saja datang saat Bapak datang, mungkin sekitar 10 menit
lalu pak Dimas datang.”
Dimas diam sejenak, dalam waktu sesingkat itu tidak mungkin juga bisa seberangtakan
ini.
“Sebelum nya siapa yang kamu lihat di ruangan saya.”
“Pak Erlan, dia keluar dari ruangan Bapak setelah Bapak pergi meeting,”
“Iya sudah kalau begitu, tolong minta OB untuk bereskan meja saya, dan berkas-berkas
ini kamu rapikan ulang, saya akan keluar sebentar, hari ini tidak ada lagi
jadwal saya bertemu klien kan.”
“Siap pak.”
Dimas mencoba menghubungi Erlangga tetapi tidak bisa di hubungi, dalam hati Dimas
masih berpikir, dan penasaran jika Erlangga yang melakukan itu, dia mencari
apa. Jika Laura juga dia mencari apa?.
Dimas melihat Laura duduk termenung di sebuah kedai kopi, Dimas menghentikan mobilnya
disana dan menuju tempat Laura duduk sembari menikmati kopi, bagi Laura cara
inilah untuk mengembalikan moodnya. Laura melihat Dimas datang menghampirinya
__ADS_1
dan duduk di kursi kosong depan nya, Dimas menatap Laura yang kala itu bermake
up sederhadana, dengan rambut panjang nya terikat, tidak hilang kecantikan dan
keanggunan nya. Laura mengalihkan pandangan nya ke jalan raya, dia seperti
seseorang yang sedang marah pada pacar nya.
“Laura, saya mau minta maaf atas sikap saya tadi.” Dimas memulai pembicaraan, sementara
Laura hanya menganguk tanpa melihat Dimas, Laura adalah gadis yang lemah
lembut, semarah-marahnya dia paling dia hanya menangis.
“Kamu marah sama saya?” Kata Dimas, Laura hanya menggeleng, ini cowok bener-bener
nyebelin, pas baik sopan banget, pas nyebeli lo gue ngomongnya.
“Kalau lo gak marah kenapa lo gak ngomong sama gue.” Kata Dimas kembali ke sifat
aslinya, benarkan yang di bilang Laura.
“Aku lagi males ngomong mas, mas ini maunya apa sih?” Laura menatap Dimas, mata
beningnya terlihat kalau dia menahan tangisnya.
“Iya gue tahu gue salah, harusnya gue gak nuduh lo sembarangan kaya gitu.”
“Aku pantas kok di tuduh maling, lagian saya ini siapa, orang asing, tapi tenang
aja, saya tidak akan lari, kalau memang ada yang hilang silahkan geledah rumah
saya.” Laura bicara tetap tenang, lalu menunduk. Dimas menjadi merasa bersalah.
“Saya tidak bisa membantu kamu lagi, saya minta maaf, besok saya akan kembalikan uang
kamu.” Ucap Laura dan itu membuat Dimas terkejut, baru juga satu bulan Laura
bekerja sama dengan dia, dan Mamanya juga sudah suka pada Laura.
“Laura, gue tahu gue salah, Cuma please, tolong bantu gue, lo tahu sendiri kan Mama itu
Laura masih mikir-mikir lagi, nanti kalau ada apa-apa pasti dia bakal di curigai
lagi.
“Ya Mas tinggal bilang aja kita putus, selesai kan.”
“Gak segampang itu Laura, alasanya apa gue putusin lo, Mama bakal tanyain itu
semuanya.”
“Ya bilang aja apa adanya, aku di tuduh maling,”
Dimas mengusap rambutnya.
“Ok gue salah, gue minta maaf soal itu.”
“Dimaafin, tapi ini gak ada hubungan nya sama keputusan aku buat berhentin bekerja sama kamu.”
Laura masih aja cemberut.
Dimas masih berdiam, lama-lama dia juga lelah kalau membujuk terus, siapa dia tar dia
jadi ngelunjak.
“Ya udah kalau kamu memang mau berhenti, sepertinya kamu lupa kalau kamu tidak bisa
memutuskan hubungan kerja itu, kecuali saya yang memecat kamu.” Kata Dimas.
Laura terdiam dan menatap Dimas.
“Kenapa kamu lihatin saya seperti itu, kan memang di surat kerjanya seperti itu, kamu
tidak bisa mengundurkan diri dalam waktu yang sudah di tentukan.”
“Memang apa sih Mas bedanya putus sekarang sama satu tahun lagi, toh Mama kamu tahunya
kita pacaran udah lama, wajar kalau sekarang putus.”
__ADS_1
“Ada bedanya.”
“Apa?”
“Tahun depan pacar gue datang dari luar negri, dan saat dia datang kerja lo sama gue
selesai.”
Laura terdiam, jadi cowok nyebelin ini punya pacar. Dimas sendiri berharap kalau
Sindi masih mencintainya, dan saat dia kembali dia masih bisa balikan lagi.
Laura masih belum menjawab dia rasanya masih kesal dengan Dimas, dia gak suka di
tuduh mencuri. Laura menerima telepon dari seseorang.
“Hallo, iya betul saya sendiri, oh mas Rio, gimana Mas?” Laura melihat Dimas
mengamatinya, Laura langsung berdiri dan menjauh dari Dimas.
“Mas Rio belum dapat kabar apa-apa mas?”
“Belum Laura, di alamat tersebut tidak ada yang mengenal orang tua kamu yang ada di
foto itu.”
“Emm iya udah deh mas, mungkin kita perlu masuk lagi kedalam, nanti kapan-kapan saya
kesana lagi ya Mas.”
“Iya Laura, saya akan terus membantu kamu mencari informasi nya ya, kamu tenang aja.”
“Iya Mas, makasih, hubungi saya kembali kalau ada kabar terbaru ya.”
“Iya Laura.”
Laura menutup telepon nya dan kembali ke tempat duduknya, disana masih ada Dimas yang
menatapnya.
“Harus ya terima telepon jauh dari gue.”
“Iya, kenapa, anda bukan pacar saya,.” Laura bicara dengan santainya lalu meminum
kopinya. Dan pergi.
“Mau kemana?”
“Mau pulang.”
“Aku antar.”
“Gak usah, saya naik taksi aja.”
Laura pergi meninggalkan Dimas dan naik taksi, aneh banget tu orang, pacar bukan tapi
sikapnya kadang kaya pacar tapi juga nyebelin kaya bos, gak taulah. Laura
bingung, dia merasa seperti terjebak dalam situasi yang sulit. Belum lagi dia
harus mencari keluarganya. Rio adalah sahabatnya selama di panti, sudah seperti
kakak bagi Laura, Rio lah yang mau membantu Laura untuk mencari orang tua
Laura, karena Rio sendiri sudah mendapat keluarga angkat yang baik dan juga
kaya raya.
Saat itu Laura berumur 10 tahun dan Rio 12 tahun, saat itu Rio di angkat oleh
keluarga kaya karena dia pintar di sekolah, kabarnya yang punya yayasan
sekolahan lah yang mengangkatnya jadi anak, dan mereka berpisah. Setelah Rio
sukses, barulah Rio menemui Laura kembali. Hubungan Rio dan Laura begitu dekat.
Jika tidak ada Rio di dunia ini, Laura tidak tahu lagi alasan hidup untuk
siapa.
__ADS_1