
Laura tersenyum dengan sikap Dimas. Erlangga menatap Laura juga, saat ini Erlangga sendiri juga belum tahu kalau Laura baru sama menemui paman dan bibi nya.
“Ra, selain rindu dengan ruangan ini, apakah Dimas meminta bantuan mu lagi.” Kata Erlangga.
“Tidak, aku datang dengan inisiatif aku sendiri, lagian Mas Erlangga dan mas Dimas sudah baik padaku, jadi aku juga akan baik pada kalian.”
“O bagus kalau begitu.”
Tidak lama kemudian tanpa disangka-sangka datang Sindi ke kantor Dimas. Semua terlihat panik.
“Wah rame sekali ada apa ini? Kamu kok kamu ada disini?”
“Eh mbak, kita sering bertemu, iya aku kesini sedang mengantarkan kue pada kakak ku dan ternyata kakak ku bekerja disini, di kantor pacar nya mbak, saya juga baru tahu.” Kata Laura sembari mendekat ke arah Erlangga yang tampak terkejut dengan ucapan nya.
“Aku sudah mengaggap mas Erlangga seperti kakak ku sendiri, lagian ini untuk menyelamatkan Mas Dimas dan aku.” Bisik Laura. Erlangga tampak menghembuskan nafas lega.
“Iya betul dia adik aku.”
“O iya kok baru tahu aku, bukan adek-adek an kan.” ejek Sindi.
Dimas mulai geram dengan sikap Sindi.
“Sindi kamu itu kenapa sih setiap hari ke kantor aku.”
“Aku kan calon tunangan kamu wajar kan aku datang setiap hari.”
“Tapi kamu tu menggagu pekerjaan aku.”
“Kamu undang semua orang disini gak menggagu, kedatangan aku kok ganggu sih.”
“Sudah deh, kamu mendingan pulang.”
“Terus mereka.”
“Aku ada urusan bisnis sama dia.”
“Ho ya, gak percaya, aku harus tau itu urusan apa?”
“Kamu belum jadi tunangan aku aja sudah berani ya ngatur hidup aku.”
“Dimas, kamu kok gitu sih sama aku sekarang.”
“Sindi Please, tolong kamu keluar, aku gak mau berdebat dengan kamu saat ini, kamu merusak mood aku.”
Tanpa berkata lagi Sindi langsung keluar ruangan, Laura menatap Dimas, dia tidak percaya kalau Dimas bakal melakukan hal itu di depan nya.
“Pasti ini gara-gara aku ya, aku akan pamit kalau begitu.” Ucap Laura.
“Kamu tidak perlu pergi Laura.” Cegah Dimas.
“Kenapa mas, mood nya mas Dimas kan lagi jelek, saya gak mau kena marah seperti mbak Sindi tadi.”
“Justru dengan adanya kamu disini, kamu bisa merubah mood aku jadi baik lagi.” Kata Dimas.
“Ehmmm gombal” kata Erlangga.
__ADS_1
Semuanya tertawa terkekeh. Mereka melanjutkan mengobrol bertiga di ruangan Dimas, samapi akhirnya Dimas dan Laura pergi untuk mengunjungi Mama Dimas, pasti Mama Dimas akan suka dengan kedatangan Laura.
“Hati-hati ya kalian.” Kata Erlangga saat mengantar Dimas dan Laura keluar kantor nya.
“Siap.” Ucap Dimas dengan senyum bahagianya.
Sementara Erlangga cepat kembali keruangan nya.
***
Di dalam mobil nya Dimas Laura mengingat kembali masa-masa dia dan Dimas dulu. Semua agak canggung.
“Mas Dim.”
“Hemm”
“Mas Erlangga itu sudah lama ya ikut kerja sama mas Dimas.”
“Iya, lumayan dia dulu teman satu kampus beda jurusan, dan sampai saat ini, kenapa?”
“Mas Dimas tahu gak keluarganya mas Erlangga?”
“Kasihan sih dia itu, dia sudah yatim piatu, dia ikut paman dan bibinya dari kecil.”
“Mas Dimas pernah main kerumah paman dan bibi nya.”
“Tidak pernah, tapi kita pernah bertemu saat Erlangga wisuda.”
Laura terdiam, dasar pembohong besar om nya itu, dia bahkan menyayangi Erlangga, kenapa bilang pada Laura kalau tidak pernah bertemu sama sekali.
“Kenapa Ra, kok tiba-tiba tanya Erlangga, jangan-jangan kamu?”
“Kamu naksir ya?”
“Apa sih mas, aku Cuma penasaran aja, karena hubungan kalian berdua tu seperti saudara gitu, malahan awalnya aku mengira kalau Mas Erlangga itu saudaranya mas Dimas.”
“Iya memang seperti itu hubungan kita, Erlangga sudah aku anggap seperti saudara sendiri.”
“Harus hati-hati terkadang yang seperti saudara sendiri itu bisa jadi musuh kita.”
“Kenapa begitu?”
“Iya Cuma mengingatkan aja.”
“Emm kamu perhatian banget sih.”
“Idih enggak ya, aku gak perhatian, aku Cuma pernah aja ngalamin hal itu, makanya aku ingatin.”
“Apapun itu aku suka denger nya.”
Laura tersenyum, Dimas juga. Mereka seperti kasmaran kembali.
****
Laura terlalu asyik dengan keluarga Dimas sehingga dia lupa telah mengabaikan janjinya pada Rio yang akan mengajak nya makan malam.
__ADS_1
“Mas Rio aku minta maaf ya aku udah ngecewain mas Rio dengan tidak datang di restoran itu tadi.” Kata Laura saat menemui Rio berada dirumahnya.
“Sudahlah Ra, gak perlu minta maaf, aku tahu aku ini siapa?”
“Maksudnya mas.”
“Kemarin aku cukup bahagia, sikap kamu yang kamu tunjukan seolah-olah kamu memang benar pacar aku, tapi aku lupa kalau aku Cuma kakak buat kamu.”
“Mas, bukan begitu.”
“Mulai sekarang aku gak akan ganggu kamu lagi.”
“Mas kenapa begitu, aku benar-benar minta maaf.”
“Kamu gak salah Ra, aku yang salah paham, aku pikir kamu bisa menerimaku, tapi nyatanya enggak, aku Cuma gak mau berharap aja sama kamu.”
Laura terdiam, pada kenyataan nya memang Laura tidak dapat membalas perasaan Rio.
“Aku pulang ya.”
“Hati-hati ya mas.”
Rio pergi meninggalkan Laura yang menatapnya dalam, Rio merasa kalau Laura sangat kasihan padanya.
Rio pergi dengan perasaan yang hancur, selama ini hanyalah Laura yang membuatnya semangat hidup.
****
“Apa paman, Laura datang kemari.” Kata Erlangga saat pulang menemui paman nya.
“Iya”
“Bagaimana dia bisa menemukan paman dan bibi.” Tanya Erlangga. Pak suparpto melihat ke arah istrinya.
“Sepertinya warga yang memberi tahu, Laura datang mencari orang tuamu dengan membawa foto ini.”
“Lalu bagaimana paman, apa dia tahu soal aku?”
“Tidak, Laura sama sekali tidak tahu, karena paman bilang kalau kamu juga pergi meninggalkan paman.”
“Tap paman, kenapa paman dan bibi tidak mau Laura tahu kalau aku adalah kakak nya.” kata Erlangga, pas Suprapto bergumam dalam hati, “kau bukan kakak kandungnya, kau anak ku” hanya saja kata-kata itu tidak dapat keluar dari bibirnya.
“Saat ini belum saat nya nak, mengertilah, kamu tahu ayah kamu seperti apa. mereka di benci orang sini, karena mengambil berkas penting warga sini, kamu harus mencarinya dulu dan memberikan pada paman, setelah itu kita akan beri tahu Laura.” Kata pak Suprapto, istrinya yang sudah muak pergi meninggalkan nya.
Kali ini dia benar-benar muak dengan suaminya, bisa-bisanya dia memanfaatkan anak nya sendiri untuk melakukan kejahatan nya. Istri pak suprapto tidak bisa apa-apa.
“Iya saya akan bantu paman, tapi apa paman yakin kalau sahabat ayah itu adalah pak jaelani”
“Iya nak, tidak ada lagi sahabat ayahmu selain pak Jaelani.”
“Iya sudah, saat ini Laura dekat kembali dengan Dimas, aku akan coba membujuk nya untuk mencari tahu apa benar berkas itu ada pada anak nya ataupun istri nya, karena aku juga sudah menyuruh orang untuk menyelediki nya tetapi mereka bilang tidak tahu apa-apa.”
“Paksa dia, kalau perlu lakukan apa yang membuat mereka mengaku.”
“Caranya bagaimana paman?”
__ADS_1
“Kamu bisa menyulik orang yang sangat disayangi Dimas, pacarnya mungkin.”
Erlangga terdiam, memang tidak ada cara lain saat ini untuk membuat keluarga Dimas mengaku bahwa mereka mendapat titipan barang berharga dari ayah nya.