
Dimas tidak bisa menahan kerinduan nya pada Laura, hari itu dia mengikuti Laura. Sebelum nya Dimas bertanya kepada pemilik salon di mall, apakah tahu alamat Laura, dan yang didapat hanyalah Laura memiliki toko didalam mall tersebut. Dimas memperhatikan Laura dari jauh dan mengikuti nya sampai dia pulang kerumah nya. Dimas berdiam cukup lama didalam mobilnya menatap ke arah rumah Laura. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan, saat ini menatapnya dari kejauhan sudah mengurangi rasa rindunya. Tidak lama kemudian Dimas melihat Laura keluar rumah nya, seperti akan berpergian. Dia membawa tas ransel yang besar didalam mobil nya. Dimas terlihat gelisah, apakah Laura akan pergi lagi.
“Laura!” Panggil Dimas, itu membuat Laura terkejut.
“Mas Dimas, kok tahu rumahku disini, siapa yang kasih tau? Rio.”
“Bukan, gue ikutin lo sejak dari Mega Mall tadi.”
“Kenapa? Ada perlu sama saya.”
“Iya.”
“Ya sudah silahkan bicara.”
“lo mau kemana?”
“Itu bukan urusan kamu.” Jawab Laura jutek.
“Kalau loe gak beri tahu gue, gue akan ikutin lo terus.”
“Sebenarnya mau mas Dimas itu apa sih.” Laura mulai jengkel dengan sikap Dimas.
“Gue... gue juga gak tahu, yang jelas gue mau tahu lo mau pergi kemana sekarang.”
“Gak jelas banget sih Mas sekarang, udah ya aku sibuk.” Laura masuk kedalam mobil nya dan Dimas menghadang didepan mobil Laura.
“Mas kamu itu maunya apa sih?”
“Gue mau ikut kemana lo pergi.”
“Gak bisa.”
“Kenapa?’
“Aku mau ke tempat Rio.”
“Lo alasan kan?” Kata Dimas tidak percaya.
“Mas Dimas ini sebenarnya mau apa sih sama Laura mas, Laura benar-benar ada urusan penting mas, Laura mau pergi ke suatu tempat dan itu membutuhkan waktu yang sangat lama.”
__ADS_1
“Iya lo mau kemana?”
“Ke kampung halaman aku.”
“Mau ngapain kesana?”
“Aku mau cari orang tua aku mas, tolong dong jangan ganggu kehidupan aku lagi, kita ini sudah tidak ada apa-apa lagi.”
“Tapi aku sayang banget sama lo Ra.”
“Ya terus bagaimana Mas, mas kan sudah punya tunganan, aku juga udah punya pacar, cobalah untuk menerima kenyataan nya, kalau kita itu memang tidak ditakdirkan bersama, kalau seperti ini, mas itu justru menganggu kehidupan aku, sayang yang Mas Dimas berikan itu membuat aku tidak nyaman.” Suara Laura melemah. Dimas merasa kalau sikap nya sudah kelewatan. Dimas mundur selangkah.
“Oke gue minta maaf kalau gue membuat lo gak nyaman, tapi gue mohon, lo jangan menghindari gue ya, gue mau tahu kabar lo setiap saat.” Ucap Dimas.
“Aku masih pakai nomor yang lama.”
“Gue juga mau nomor baru lo juga.”
“Tapi janji mas gak akan ganggu aku lagi.”
“Oke gue janji”
***
Erlangga tengah gelisah, dia terlihat sedang menunggu seseorang.
“Bos!” Panggil seseorang yang ditunggu Erlangga sejak tadi.
“Ayo masuk mobil.” Kata Erlangga dan saat yang ditunggu sudah masuk mobil, Erlangga malajukan mobilnya.
“Bagaimana?”
“Iya Bos, saya sudah bertemu dengan Ibu Sofi, sudah bertanya sesuai yang Bos suruh, tetapi bu Sofi tidak mengenal dengan pak Handika.”
“Apa kamu yakin, karena pak Handika adalah sahabat Pak Didi Jaelani, suami ibu Sofi.”
“Tapi bu Sofi sendiri yang bilang kesaya, bahwa suaminya tidak mempunyai sahabat dekat yang bersama pak Handika.” Ucap seseorang yang duduk disebelah Erlangga.
Erlangga terlihat memikirkan sesuatu, jika bukan Didi Jaelani sahabat ayah nya, lalu buat apa selama ini dia mendekati Dimas, bukannya info dari paman nya kalau sahabat ayah nya hanya satu yaitu Didi Jaelani. Kemungkinan besar berkas-berkas penting itu di titipkan pada sahabatnya.
__ADS_1
“Apa yang harus saya lakukan lagi Bos.”
“Tunggu kabar selanjutnya dari gue, gue akan selidiki pelan-pelan, tetapi kalau emang tetap tidak menemukan titik temu, terpaksa kita pakai cara kasar, kita culik anak bu Sofi, gue yakin dia pasti tahu soal pak Handika.”
“Siap Bos.”
Erlangga berhenti di tempat yang aman untuk anak buah nya pergi. Setelah itu dia kembali ke kantor nya.
Di perjalanan dia masih memikirkan sesuatu, Paman nya meminta Erlangga untuk mencari berkas penting yang dibawa ayah nya kurang lebih 15 tahun yang lalu sebelum kecelakaan itu terjadi, saat itu Erlangga hanya mengingat sedikit, kalau Ayahnya sangat marah pada Paman nya, mereka bertengkar sangat hebat. Bahkan ibu nya yang saat itu tengah menggendong Laura juga menangis, mereka sepanjang jalan terlihat bertengkar, hingga kabar kecelakaan itu terjadi. Paman waktu itu hanya berkata, bahwa Laura lah yang menyebabkan kecelakaan itu, dan saat sebelum kecelakaan itu terjadi, Ayah nya pergi membawa berkas penting yang diperebutkan antara ayah dan paman nya saat itu.
***
Laura memarkir mobilnya disebuah penginapan yang sederhana, penginapan itu adalah satu-satunya yang ada di desa nya, dan untuk masuk kedesanya Laura harus menggunakan sewa motor. Karena jalanan tidak mungkin di lalui mobil. Laura memandang foto orang tuanya dia berjanji pada diri sendiri, dia tidak akan pulang sebelum menemukan identitas keluarganya.
Dia harus tahu siapa orang tuanya dan siapa anak lelaki ini, apakah ini saudara Laura, kenapa Laura tidak ingat apapun. Laura merebahkan diri, dia akan memulai petualangan nya besok pagi.
***
Dimas sangat gelisah hari ini, suasana hatinya tidak tenang, sudah 24 jam Laura tidak bisa dihubungi nya.
“Lo kenapa sih?” tanya Erlangga.
“Ga apa-apa gue Cuma sedang memikirkan sesuatu.”
“Apa lagi yang lo pikirkan, pekerjaan udah beres semua.” Tanya Erlangga, Dimas tidak mungkin berkata yang sebenarnya pada Erlangga kalau dia sedang memikirkan Laura.
“Sepertinya gue mau ambil cuti, gue butuh istirahat.”
“Lo mau liburan, sama pacar lo.” Kata Erlangga, dia merasa senang jika Dimas bisa enyah beberapa saat dari hidupnya dia akan mengobrak-abrik lagi isi kantor nya.
“Sepertinya begitu, gue titip kantor ini sama lo.”
“Beres, sekarang lo tenang aja, lo liburan dan lo bersenang-senang sesuka hati lo.”
“Lo emang sahabat gue yang paling mengerti.”
Dimas pergi meninggalkan kantor nya, dan Erlangga merasa sangat puas, dia tidak akan menyia-nyiakan waktu ini, dia harus menemukan berkas rahasia ayah nya. Erlangga sama sekali tidak mengetahui jika Dimas sudah memasang cctv di kantor nya.
Dimas mengambil cuti bukan hanya semata-mata untuk menyusul Laura, tetapi dia juga ingin memberikan kesempatan Erlangga untuk membuktikan apa yang dia cari, karena beberapa kali Dimas memergoki perilaku Erlangga yang mencurigakan. Beberapa kali Dimas melihat Erlangga mengumpat dengan sendirinya saat Dimas berada diluar ruangan, yang paling mencurigakan saat Dimas keluar menemui Sindi saat pertama kali datang. Sikap Erlangga sungguh mencurigakan.
__ADS_1
Dimas mencoba menghubungi Laura untuk tahu dia dimana saat ini.