
“Aku gak apa-apa kok, Cuma kecapekan aja, kan mas nyuruh aku pulang cepet-cepet kampungku itu jauh.” Laura membalas dengan nada lemah dan mengarahkan pandangan
nya ke jalan.
“Dasar manja,” Dimas bicara ketus, dan Laura hanya diam tidak menanggapi Dimas, perutnya
serasa di aduk-aduk dan pingin muntah.
“Mas aku pingin muntah,”
“Apaan sih lo, tar gue minggir dulu.” Dimas segera mencari tempat untuk berhenti, dan
memberi kantong plastik yang memang selalu tersedia di mobil Dimas.
“Ni lo keluar sana.”
Laura segera keluar dan muntah disana, setelah membuat muntahannya di tempat sampah
dia masuk mobil lagi dengan wajah yang pucat.
“Lo sakit beneran.”
“Aku dari kemarin itu belum makan Mas, lalu tadi minum soda atau apa sih tadi di
pesta langsung gak enak badan ku.” Laura lemas, dia membuka jepitan rambutnya.
Agar lebih muda untuk bersandar.
“Lo itu ya keterlaluan gue gaji lo tu gak sedikit, masa sampai gak makan sih.”Dimas
ngomel sendiri. Sementara Laura hanya diam dan memejamkan matanya.
Dimas yang melihat Laura lemah begitu juga kasihan,.
“Mau di antar ke rumah sakit?” Dimas bertanya pada Laura yang sebenarnya tidak
tidur.
“Tidak usah, aku istirahat di rumah aja.”
“Tar lo gak sembuh-sembuh,”
“Ga mau aku takut kerumah sakit.”
“Kaya anak kecil aja, memangnya selama ini kamu gak pernah sakit.”
“Aku kalau sakit biasanya hanya istirahat dan minum obat beli di apotek aja, pasti
udah sembuh.”
Dimas melihat Laura, dan Laura malah tersenyum di saat wajah lemah nya yang tak
berdaya itu.
Dimas segera mengalihkan pandangan nya. Sesampai di rumah Laura, Dimas membukakan
pintu untuk Laura yang tampak terlihat lemah.
“Bisa gak lo jalan.”
“Bisa, makasih ya mas.”
“Kalau butuh apa-apa lo hubungin gue, jangan sampai lo buat alasan tu sakit nya.”
Laura hanya menganguk, dia berjalan sempoyongan ke rumah nya, sementara Dimas hanya
melihatnya saja dari jauh, sampai Laura masuk kedalam rumah nya.
***
Hari ini adalah hari libur, Dimas mulai gelisah memikirkan Laura. Bagaimana keadaan
nya. Dimas ingin menelpon nya akan tetapi niat itu di urungkan nya kembali,
satu harian dia hanya begitu saja.
“Kamu itu kenapa sih Dim, kok seperti orang bingung aja.”
“Emm enggak kok Ma,”
“Mikirin apa, jangan bohong deh sama Mama.”
“Mikirin pekerjaan.”
“Halah, ga ada habisnya di pikirkan pekerjaan terus, pasti kamu mikirin Laura ya.”
“Enggak lah Ma,”
“Halah gak usah bohong, ayo ngaku sama Mama, kamu mikirin Laura ya.”
__ADS_1
“Laura kemarin itu pulang dari pesta sakit Ma.”
“O ya kok kamu gak jenguk dia sih.”
“Iya dia bilang sih udah gak apa-apa.”
“Kamu ini kok ya gak perhatian banget sama pacar, ya di jenguk gitu lho.”
“Besok aja deh Ma, sekalian Dimas ke kantor.”
“Kalau sekarang ada apa-apa bagaimana? Mendingan kamu telepon aja deh.”
Mamanya meminta Dimas untuk menelpon Laura, tapi masalahnya Laura bukanlah pacar aslinya,
dia hanya pacar pura-pura.
“Dimas mikir apa sih kamu, ayo telephon.”
“Iya-iya nanti Dimas telephon di kamar aja.”
“Tidak, Mama mau denger kamu telephon Laura sekarang.”
Dimas tidak punya pilihan lain kecuali harus mengikuti kemauan Mamanya. Di telepon nya
Laura dan akhirnya terdengar juga suara gadis nya itu.
“Hallo iya Mas ada apa.”
“Emmm anu gimana kabar lo.”
“Baik.”
“Udah sembuh,”
“Udah.”
“Kok lo gak kabari gue sih.”
“Ini kan hari libur Mas.”
Mama Dimas mengerutkan keningnya mendengar obrolan anak nya, Dimas langsung memukul
keningnya. “ Aduh bodoh banget sih gue ada Mama dengerin lagi.” Batin Dimas.
“O iya kalau gitu kamu banyak istirahat ya sayang,”
“Iya udah kamu istirahat dulu, dahh.” Dimas menutup teleponya dan melihat ke arah Mamanya.
“Kalian ini pacaran beneran kan?”
“Iyalah Ma.”
“Kok bicara kalian aneh, seperti hubungan bisnis aja.”
“Ah Mama bisa aja, ya kan namanya aku biasa di dunia bisnis Ma.”
“Awas kamu bohongi Mama.” Ancam Mamanya lalu masuk kamar.
Dimas menghempaskan nafas berat nya di sofa.
***
Senin pagi yang cerah, Laura yang sudah tampak sehat memulai aktifitasnya kembali,
menekuni hobby nya membuat kue. Dengan semangat baru dia akan membuka tokonya
kembali.
“Semoga cowok nyebelin itu tidak menggagu aktifitas ku.” Laura mulai memanggang roti di
oven. Baru saja dia berdoa agar Dimas tidak memanggilnya, ponselnya berdering.
“Iya mas Erlan.”
“Kamu di mana Ra?”
“Aku dirumah Mas,”
“Sibuk?”
“Iya Mas, aku ada beberapa pesanan kue.”
“Lho katanya kamu sakit.”
“Emm sudah sembuh kok Mas, Cuma kecapekan dan telat makan aja kok, ada apa Mas,”
“Oh enggak aku Cuma memastikan keadaan kamu aja, soalnya ada yang khawatir.”
“Oh ya, siapa.”
__ADS_1
“Bos kamu tuh.”
“Ih mana ada dia khawatir sama aku Mas, dia kan nyebelin orang nya.”
“O ya.”
“Iya gitu deh.” Laura menjawab dengan santainya, dan tanpa dia sadari tiba-tiba saja
suara di ponselnya berubah suara Dimas.
“Eh ngomong apa lo barusan.”
“Mas Dimas, hehe gak ngomong apa-apa kok.” Laura terkekeh sendiri.
“Tar kirim kue ke kantor juga,”
“Ih aku tuh Cuma buat sesuai pesanan.”
“Iya kan gue pesen ini.”
“Ih maksa banget, iya-iya tar siang aku ke kantor, udah ya aku sibuk.”
Laura menutup telepon nya, Dimas terlihat kesal sementara Erlangga terkekeh.
“Ngapain lo ketawa.” Dimas melempar ponsel Erlangga yang tengah terkekeh di sofa kantor nya.
“Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta nih.”
“Jatuh cinta sama siapa?”
“Siapa lagi kalau buka Laura.”
“Ngaco, ya emang dia cantik sih, tapi bukan tipe gue.”
“Yakin?” ledek Erlangga.
“Udah deh lo tuh kaya Mama aja, gue mau meeting dulu ya.”
“Oke, sukses ya, gue hendle kantor dulu berarti.”
“Sip.”
Dimas segera keluar untuk melakukan meeting dengan rekan kantornya, sementara
Erlangga terlihat sedang mencari sesuatu di dalam kantor Dimas.
“Sial, di letakan dimana sih berkas itu, rupanya Dimas menyimpan nya dengan rapi,
pokoknya gue harus menemukan berkas itu, dan setelah itu gue akan bunuh lo Dim,
dengan tangan gue sendiri.” Mata Erlangga memerah karena menahan amarah nya.
Dia kembali mencari-cari sesuatu lagi.
“Apa mungkin Dimas menyimpan nya di dalam rumahnya ya, gue harus buat Dimas jatuh
cinta pada Laura, dan mengajak Laura untuk kerja sama, sama gue, dengan begitu
gue akan mudah menghancurkan Dimas dan Mamanya. Gue gak akan diam aja Dim,
setelah apa yang lo lakuin pada keluarga gue.” Erlangga mengepalkan tangan nya
dan melangkah keluar kantor nya.
****
Tepat jam makan siang Laura pergi ke kantor Dimas untuk mengantarkan kue pesanan nya.
“Siang kak, Pak Dimas ada di kantor.”
“Sedang meeting kak, tadi pesan kalau Kak Laura datang, boleh langsung ke ruangan nya.”
kata resepsionist dengan ramah dan tersenyum, Laura berasa seperti pacar Dimas
sungguhan. Laura langsung menuju dalam kantor Dimas.
“Ya ampun kenapa ini berantakan sekali.” Kata Laura yang melihat ruangan Dimas yang
biasanya rapi kini berantakan.
Laura meletakan kotak kue di meja dan mulai merapikan meja Dimas, menyusun kembali
kertas-kertas yang berantakan.
Pintu kantor terbuka.
“Lo ngapain !” Seru Dimas yang baru saja datang, Laura terkejut dan menghentikan
aksinya dengan beberapa berkas masih ada di tangan nya.
__ADS_1