Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 11


__ADS_3

Laura merasa senang sekali hari ini, dia mendapatkan kerjasama dari sebuah hotel


untuk mengirimkan kue setiap hari. Ini sebuah kabar gembira untuk dirinya


sendiri, dan tentu saja akan menambah pundi-pundi rupiah nya.


Laura mendapat pesan dari Dimas kalau dia harus kekantor, ngapain lagi sih Dimas.


Rasanya Laura seperti pembantunya saja. Laura segera pergi ke kantor Dimas naik


taksi.


“Bu  Laura ya, sudah di tunggu pak Dimas diruangan nya.” Kata Resepsionist yang


bekerja dikantor Dimas. Laura segera masuk keruangan Dimas.


“Lo  darimana rapi banget.”


“Aku  habis meeting, kenapa?”


“Meeting?” Tanya Dimas heran, memangnya perusahaan dia aja yang sering melakukan meeting.


“Iya, aku ada kerjasama dengan hotel untuk mengirim kue disana.”


“O,, makin sukses aja lo ya.”


“Apa sih, sudah Mas nyuruh aku kesini ngapain, nemenin tante lagi.”


“Enggak,  gue ada reuni kecil dengan gank kuliah gue dulu, lo ikut.”


“Ha,”


“Udah  deh gak usah protes, mereka semua bawa pasangan masing-masing.”


“Aduh  aku itu repot Mas, kamu kan bisa alasan kalau pacar kamu itu sibuk, lagian


pacar kamu itu kan juga punya pekerjaan.” Laura mendengus kesal.


“Lo  gimana sih, gue percuma donk mempekerjakan lo, kalau lo alasan mulu, tujuan gue


tu biar gue gak...”


“Ditanyain  sama teman-teman Mas kalau sampai sekarang masih jomblo, iya?” Laura


menghentikan kata-kata Dimas.


“Tuan  muda banget.”


“Apa lo bilang.”


“Gak,  gak bilang apa-apa.” Laura duduk di sofa dengan kesal.


“Gue  gak mau ya lo nanti cemberut seperti itu di depan teman-teman gue.”


“Hiiiii.”  Laura memaksakan tersenyum dengan wajah kesal nya, Dimas tersenyum gemas. Laura


hampir saja merasa jantungnya berhenti berdetak melihat senyum Dimas.


Tetapi  dia segera merubah posisi duduk nya dan mengalihkan pandangan nya ketempat


lain, Laura memberi kabar pada Tika.


“Tik,  aku titip toko dulu ya, aku ada urusan mungkin sore baru pulang, kalau emang


aku belum pulang tar kamu tutup seperti biasa aja ya tidak usah tunggu aku, oke


makasih.” Laura menutup ponselnya dan melihat ke arah Dimas yang sibuk dengan


Laptop nya. Laura menikmati pemandangan yang indah didepan nya. Hingga dia di


kagetkan dengan bunyi dari ponselnya, panggilan dari Rio.


“Hallo,  iya.”


“Dimana  Ra.”


“Emm  aku sedang di luar, lagi ada urusan sama teman, kenapa.”


“Oh  lagi sibuk ya, enggak kok, tadinya aku mau ajak makan siang kamu, tapi ga


apa-apa kalau kamu sibuk lain kali ya.”


“Ok.”  Laura menutup ponsel nya, tidak peduli Rio berpikir apa dengan sikap dingin


nya.


“Siapa  yang telepon?” Tanya Dimas yang telah selesai dengan pekerjaan nya.


“Calon  pacar aku.” Jawab Laura singkat, sementara Dimas menatap Laura.


“Apa,  calon pacar?”


“Iya,  kenapa?”


“Lo  gak boleh pacaran sebelum kontrak kita selesai.”


“Kenapa?”


“Laura,  lo ngerti gak sih, nanti kalau hubungan kita diketahui pacar lo bagaimana?”


“Dia  itu baik kok, kalau aku bilang yang sejujurnya dia pasti ngerti.”

__ADS_1


“O  iya, gue jadi penasaran sama pacar lo itu, kerja dimana dia, di bank, hotel,


showroom, atau penjual kue juga seperti lo.” Ejek Dimas.


Laura  berdiri dan menatap tajam Dimas.


“Dengar  ya Mas Dimas, tuan muda yang terhormat, saya memang penjual kue, dan kalaupun


pacar saya tidak sekaya anda, saya dan pacar saya saling mencintai, tidak


seperti anda yang  kesepian, pacar saja


pacar bayaran.”


“Lo  berani ya ngomong gitu sama gue.”


“Kenapa  aku gak berani, anda sudah menghina saya, dan ini bukan yang pertama kali nya,


sudah ya Mas, aku muak, kerja sama kamu itu gak buat hati iku tenang tambah


susah setiap hari.” Laura akan pergi akan tetapi tangan nya dicekal dengan kuat


oleh Dimas. Laura yang bertubuh ramping itu akhirnya jatuh kepelukan Dimas,


tangan nya menyentuh dadanya yang bidang itu, wajah Laura yang tepat di bawah


dagu Dimas merasakan hembusan nafasnya. Dimas menundukan wajah nya.


“Gue  gak bermaksud buat menghina lo, gue Cuma gak mau lo punya pacar, sebelum gue


memutuskan kontrak kerja kita, karena gue tidak suka penghianatan, dan gue bisa


melakukan apa saja kalau lo melawan aturan yang gue buat.” Dimas berbicara


dengan nada berbisik di depan wajah Laura yang berusaha menghindar. Saat itu


juga Erlangga masuk ruangan Dimas dan tercenggang, karena situasi itu seperti


terlihat Dimas sedang mencium Laura. Menyadari ada yang masuk Dimas melepas kan


Laura yang bersemu merah.


“Eh  maaf, gue ganggu ya.”


“Enggak,  gue mau pergi dengan Laura,” Dimas segera menggandeng tangan Laura yang masih


tampak diam saja dan menunduk. Saat melewati Erlangga.


Erlangga  melihat Laura dengan tersenyum. “Bagus sekali Laura, saat lo dan Dimas udah


dekat, saat itu juga gue akan meminta lo balas budi sama gue, buat menghancurkan


Dimas.”


diam dan menatap jalanan luar.


“Kenapa  lo diam aja, lo masih marah.”


Laura hanya menggeleng. Dimas menatap Laura yang mengalihkan pandangan nya darinya,


dia tahu kalau Laura pasti marah, Dimas sudah menghina pekerjaan nya.


“Gue  gak akan minta maaf sama lo.” Dimas bicara lagi, namun Laura tetap Diam. Laura


menitikan airmatanya, memangnya kenapa kalau dia hanyalah penjual kue. Laura


mengambil tisu di tas nya dan mengusap air matanya. Baru saja Laura akan


mengusap airmatanya, Dimas sudah memberikan tisu padanya, dan Laura menolak


nya.


“Kenapa  sih lo cengeng banget jadi orang,”


“Aku  cengeng ada alasan, orang lemah seperti aku yang hanya penjual kue, pasti


banyak orang yang akan membuat aku sakit hati, tapi meskipun begitu, tidak akan


aku biarkan orang yang sudah menyakiti hati aku, mengusap airmataku.”


“Iya  gue salah gue minta maaf.”


“Buat  apa minta maaf, aku bukan hanya seorang penjual kue, aku juga yatim piatu, aku


hidup sebatang kara didunia ini, aku dibesarkan dari panti asuhan, dari kue-kue


itu aku bertahan hidup, sekarang kamu tahu kehidupan aku yang lain, jadi bebas


kamu buat menghina aku.”


Dimas  menatap Laura yang masih berusaha menghentikan airmatanya. Sementara Dimas


menghentikan mobilnya di tempat  yang


aman, melepas sitbelt dan mendekatkan


tubuhnya ke arah Laura dan menatapnya, kali ini mungkin dia sangat keterlaluan,


Laura sudah banyak membantu nya, tetapi kenapa juga Dimas merasa tidak suka


saat Laura memuji lelaki lain di depan nya.

__ADS_1


“Kamu  tidak akan tahu, bagaimana rasanya aku menghadapi rasa ketakutan ku seorang


diri, saat toko kueku jatuh, beberapa orang datang memaki, orang bank, yang


punya tempat, aku sendirian, memang apa salahnya menjadi penjual kue, aku buka


orang seperti kamu yang terlahir kaya, hingga menjadi seseorang bak tuan muda,


aku...” Laura menghentikan kata-katanya karena bibir Dimas menutupnya dengan


lembut.


Rasanya  seperti ada aliran listrik didalam tubuh Laura saat itu, tangan nya berusaha


mendorong bahu Dimas, tetapi tubuh Dimas yang kekar terlalu kuat untuk tangan


nya yang lemah. Setelah Dimas melepaskan bibirnya dari bibir mungil Laura,


dengan keras Laura menampar Dimas.


“Sekarang  kamu juga melecehkan aku, kamu pikir aku,,,,”


Sekali  lagi Dimas mengecup mesra Laura, tidak peduli Laura menangis dan meronta kala


itu, tidak tahu kenapa, dan sejak kapan, Dimas mulai merasakan perasaan takut


kehilangan Laura.


Dimas  melepas ciuman nya pelan dan menatap Laura yang masih menangis. Laura tidak


berani berkata lagi, dia takut Dimas akan melakukan hal yang lebih dari itu.


“Gue  minta maaf Laura, gue gak tahu sejak kapan ini terjadi, gue merasa kalau gue


sudah jatuh cinta sama lo.” Kata Dimas.


Laura  menatap Dimas dengan matanya yang basah, ya ampun Laura jangan menatapku


begitu, aku benar-benar tersiksa.


“Sudahlah  Mas, jangan membuat aku semakin membencimu, dengan sikap kamu yang kurang ajar


begitu, kamu pikir aku tidak membencimu.” Laura menatap tajam Dimas.


“Gue  gak mau lo punya pacar.”


“Kamu  punya seseorang yang kamu tunggu, jadi aku juga berhak untuk mencari pacar,


karena kita hanya pacar pura-pura, memangnya kamu mau memutuskan pacar kamu itu


dan meresmikan hubungan kita.” Laura menantang Dimas.


“Tidak  berani kan, kamu itu hanya cowok berengsek tau gak,” Laura berusaha membuka


mobil Dimas.


“Ra  Lo mau kemana.”


“Aku  mau pulang.”


“Gue  antarin ya.”


“Gak  usah,” Laura berusaha membuka pintu mobil, akan tetapi dari kejauhan Laura


melihat ada mobil ambulans, Laura mengurungkan niat nya untuk keluar, wajahnya


mulai ketakutan, dia mencari-cari penutup telinganya tapi tidak ada ditas.


Dimas melihat gelagat panik Laura.


“Ra  lo kenapa?” Tanya Dimas yang terheran melihat Laura panik, takut dan berusaha


mencari sesuatu. Suara ambulan itu semakin kencang terdengar, Laura menutup


telinganya. Dan memejamkan matanya.


“Ra  lo kenapa?” Dimas mulai khawatir dan saat mobil ambulan itu melintas disamping


mobil Dimas. Laura memeluk Dimas dengan sangat erat. Pelukan takut itu membuat


Dimas hampir susah bernafas. Dimas mengelus punggung Laura.


“Sudah-sudah,  tidak ada lagi ambulan nya.” Dimas masih berusaha menenangkan Laura.


Laura  melepas pelukan nya, wajahnya terlihat sangat pucat, bayangan dimasa lalunya terus


menggagunya saat ada suara ambulans.


“Lo  minum dulu ya.” Dimas memberikan minum pada Laura.


“Gue  akan antarin lo pulang ya,” kata Dimas. Laura hanya menganguk pelan, kakinya


gemetar. Dimas mengemudikan mobil nya dengan perlahan karena dia melihat mobil


ambulan masih terlihat, sementara dia melihat Laura menutup matanya. Dimas


segera memutar arah mobilnya, memilih jalan lain, menghindari ambulan yang


membuat Laura ketakutan, entah apa yang membuatnya setakut itu. Dimas merasakan


sekali pelukan Laura tadi pelukan penuh ketakutan, Dimas mulai kepikiran,

__ADS_1


bagaimana jika Laura dirumah nya sendiri, Dimas mulai khawatir dengan Laura.


__ADS_2