
Laura merasa senang sekali hari ini, dia mendapatkan kerjasama dari sebuah hotel
untuk mengirimkan kue setiap hari. Ini sebuah kabar gembira untuk dirinya
sendiri, dan tentu saja akan menambah pundi-pundi rupiah nya.
Laura mendapat pesan dari Dimas kalau dia harus kekantor, ngapain lagi sih Dimas.
Rasanya Laura seperti pembantunya saja. Laura segera pergi ke kantor Dimas naik
taksi.
“Bu Laura ya, sudah di tunggu pak Dimas diruangan nya.” Kata Resepsionist yang
bekerja dikantor Dimas. Laura segera masuk keruangan Dimas.
“Lo darimana rapi banget.”
“Aku habis meeting, kenapa?”
“Meeting?” Tanya Dimas heran, memangnya perusahaan dia aja yang sering melakukan meeting.
“Iya, aku ada kerjasama dengan hotel untuk mengirim kue disana.”
“O,, makin sukses aja lo ya.”
“Apa sih, sudah Mas nyuruh aku kesini ngapain, nemenin tante lagi.”
“Enggak, gue ada reuni kecil dengan gank kuliah gue dulu, lo ikut.”
“Ha,”
“Udah deh gak usah protes, mereka semua bawa pasangan masing-masing.”
“Aduh aku itu repot Mas, kamu kan bisa alasan kalau pacar kamu itu sibuk, lagian
pacar kamu itu kan juga punya pekerjaan.” Laura mendengus kesal.
“Lo gimana sih, gue percuma donk mempekerjakan lo, kalau lo alasan mulu, tujuan gue
tu biar gue gak...”
“Ditanyain sama teman-teman Mas kalau sampai sekarang masih jomblo, iya?” Laura
menghentikan kata-kata Dimas.
“Tuan muda banget.”
“Apa lo bilang.”
“Gak, gak bilang apa-apa.” Laura duduk di sofa dengan kesal.
“Gue gak mau ya lo nanti cemberut seperti itu di depan teman-teman gue.”
“Hiiiii.” Laura memaksakan tersenyum dengan wajah kesal nya, Dimas tersenyum gemas. Laura
hampir saja merasa jantungnya berhenti berdetak melihat senyum Dimas.
Tetapi dia segera merubah posisi duduk nya dan mengalihkan pandangan nya ketempat
lain, Laura memberi kabar pada Tika.
“Tik, aku titip toko dulu ya, aku ada urusan mungkin sore baru pulang, kalau emang
aku belum pulang tar kamu tutup seperti biasa aja ya tidak usah tunggu aku, oke
makasih.” Laura menutup ponselnya dan melihat ke arah Dimas yang sibuk dengan
Laptop nya. Laura menikmati pemandangan yang indah didepan nya. Hingga dia di
kagetkan dengan bunyi dari ponselnya, panggilan dari Rio.
“Hallo, iya.”
“Dimana Ra.”
“Emm aku sedang di luar, lagi ada urusan sama teman, kenapa.”
“Oh lagi sibuk ya, enggak kok, tadinya aku mau ajak makan siang kamu, tapi ga
apa-apa kalau kamu sibuk lain kali ya.”
“Ok.” Laura menutup ponsel nya, tidak peduli Rio berpikir apa dengan sikap dingin
nya.
“Siapa yang telepon?” Tanya Dimas yang telah selesai dengan pekerjaan nya.
“Calon pacar aku.” Jawab Laura singkat, sementara Dimas menatap Laura.
“Apa, calon pacar?”
“Iya, kenapa?”
“Lo gak boleh pacaran sebelum kontrak kita selesai.”
“Kenapa?”
“Laura, lo ngerti gak sih, nanti kalau hubungan kita diketahui pacar lo bagaimana?”
“Dia itu baik kok, kalau aku bilang yang sejujurnya dia pasti ngerti.”
__ADS_1
“O iya, gue jadi penasaran sama pacar lo itu, kerja dimana dia, di bank, hotel,
showroom, atau penjual kue juga seperti lo.” Ejek Dimas.
Laura berdiri dan menatap tajam Dimas.
“Dengar ya Mas Dimas, tuan muda yang terhormat, saya memang penjual kue, dan kalaupun
pacar saya tidak sekaya anda, saya dan pacar saya saling mencintai, tidak
seperti anda yang kesepian, pacar saja
pacar bayaran.”
“Lo berani ya ngomong gitu sama gue.”
“Kenapa aku gak berani, anda sudah menghina saya, dan ini bukan yang pertama kali nya,
sudah ya Mas, aku muak, kerja sama kamu itu gak buat hati iku tenang tambah
susah setiap hari.” Laura akan pergi akan tetapi tangan nya dicekal dengan kuat
oleh Dimas. Laura yang bertubuh ramping itu akhirnya jatuh kepelukan Dimas,
tangan nya menyentuh dadanya yang bidang itu, wajah Laura yang tepat di bawah
dagu Dimas merasakan hembusan nafasnya. Dimas menundukan wajah nya.
“Gue gak bermaksud buat menghina lo, gue Cuma gak mau lo punya pacar, sebelum gue
memutuskan kontrak kerja kita, karena gue tidak suka penghianatan, dan gue bisa
melakukan apa saja kalau lo melawan aturan yang gue buat.” Dimas berbicara
dengan nada berbisik di depan wajah Laura yang berusaha menghindar. Saat itu
juga Erlangga masuk ruangan Dimas dan tercenggang, karena situasi itu seperti
terlihat Dimas sedang mencium Laura. Menyadari ada yang masuk Dimas melepas kan
Laura yang bersemu merah.
“Eh maaf, gue ganggu ya.”
“Enggak, gue mau pergi dengan Laura,” Dimas segera menggandeng tangan Laura yang masih
tampak diam saja dan menunduk. Saat melewati Erlangga.
Erlangga melihat Laura dengan tersenyum. “Bagus sekali Laura, saat lo dan Dimas udah
dekat, saat itu juga gue akan meminta lo balas budi sama gue, buat menghancurkan
Dimas.”
diam dan menatap jalanan luar.
“Kenapa lo diam aja, lo masih marah.”
Laura hanya menggeleng. Dimas menatap Laura yang mengalihkan pandangan nya darinya,
dia tahu kalau Laura pasti marah, Dimas sudah menghina pekerjaan nya.
“Gue gak akan minta maaf sama lo.” Dimas bicara lagi, namun Laura tetap Diam. Laura
menitikan airmatanya, memangnya kenapa kalau dia hanyalah penjual kue. Laura
mengambil tisu di tas nya dan mengusap air matanya. Baru saja Laura akan
mengusap airmatanya, Dimas sudah memberikan tisu padanya, dan Laura menolak
nya.
“Kenapa sih lo cengeng banget jadi orang,”
“Aku cengeng ada alasan, orang lemah seperti aku yang hanya penjual kue, pasti
banyak orang yang akan membuat aku sakit hati, tapi meskipun begitu, tidak akan
aku biarkan orang yang sudah menyakiti hati aku, mengusap airmataku.”
“Iya gue salah gue minta maaf.”
“Buat apa minta maaf, aku bukan hanya seorang penjual kue, aku juga yatim piatu, aku
hidup sebatang kara didunia ini, aku dibesarkan dari panti asuhan, dari kue-kue
itu aku bertahan hidup, sekarang kamu tahu kehidupan aku yang lain, jadi bebas
kamu buat menghina aku.”
Dimas menatap Laura yang masih berusaha menghentikan airmatanya. Sementara Dimas
menghentikan mobilnya di tempat yang
aman, melepas sitbelt dan mendekatkan
tubuhnya ke arah Laura dan menatapnya, kali ini mungkin dia sangat keterlaluan,
Laura sudah banyak membantu nya, tetapi kenapa juga Dimas merasa tidak suka
saat Laura memuji lelaki lain di depan nya.
__ADS_1
“Kamu tidak akan tahu, bagaimana rasanya aku menghadapi rasa ketakutan ku seorang
diri, saat toko kueku jatuh, beberapa orang datang memaki, orang bank, yang
punya tempat, aku sendirian, memang apa salahnya menjadi penjual kue, aku buka
orang seperti kamu yang terlahir kaya, hingga menjadi seseorang bak tuan muda,
aku...” Laura menghentikan kata-katanya karena bibir Dimas menutupnya dengan
lembut.
Rasanya seperti ada aliran listrik didalam tubuh Laura saat itu, tangan nya berusaha
mendorong bahu Dimas, tetapi tubuh Dimas yang kekar terlalu kuat untuk tangan
nya yang lemah. Setelah Dimas melepaskan bibirnya dari bibir mungil Laura,
dengan keras Laura menampar Dimas.
“Sekarang kamu juga melecehkan aku, kamu pikir aku,,,,”
Sekali lagi Dimas mengecup mesra Laura, tidak peduli Laura menangis dan meronta kala
itu, tidak tahu kenapa, dan sejak kapan, Dimas mulai merasakan perasaan takut
kehilangan Laura.
Dimas melepas ciuman nya pelan dan menatap Laura yang masih menangis. Laura tidak
berani berkata lagi, dia takut Dimas akan melakukan hal yang lebih dari itu.
“Gue minta maaf Laura, gue gak tahu sejak kapan ini terjadi, gue merasa kalau gue
sudah jatuh cinta sama lo.” Kata Dimas.
Laura menatap Dimas dengan matanya yang basah, ya ampun Laura jangan menatapku
begitu, aku benar-benar tersiksa.
“Sudahlah Mas, jangan membuat aku semakin membencimu, dengan sikap kamu yang kurang ajar
begitu, kamu pikir aku tidak membencimu.” Laura menatap tajam Dimas.
“Gue gak mau lo punya pacar.”
“Kamu punya seseorang yang kamu tunggu, jadi aku juga berhak untuk mencari pacar,
karena kita hanya pacar pura-pura, memangnya kamu mau memutuskan pacar kamu itu
dan meresmikan hubungan kita.” Laura menantang Dimas.
“Tidak berani kan, kamu itu hanya cowok berengsek tau gak,” Laura berusaha membuka
mobil Dimas.
“Ra Lo mau kemana.”
“Aku mau pulang.”
“Gue antarin ya.”
“Gak usah,” Laura berusaha membuka pintu mobil, akan tetapi dari kejauhan Laura
melihat ada mobil ambulans, Laura mengurungkan niat nya untuk keluar, wajahnya
mulai ketakutan, dia mencari-cari penutup telinganya tapi tidak ada ditas.
Dimas melihat gelagat panik Laura.
“Ra lo kenapa?” Tanya Dimas yang terheran melihat Laura panik, takut dan berusaha
mencari sesuatu. Suara ambulan itu semakin kencang terdengar, Laura menutup
telinganya. Dan memejamkan matanya.
“Ra lo kenapa?” Dimas mulai khawatir dan saat mobil ambulan itu melintas disamping
mobil Dimas. Laura memeluk Dimas dengan sangat erat. Pelukan takut itu membuat
Dimas hampir susah bernafas. Dimas mengelus punggung Laura.
“Sudah-sudah, tidak ada lagi ambulan nya.” Dimas masih berusaha menenangkan Laura.
Laura melepas pelukan nya, wajahnya terlihat sangat pucat, bayangan dimasa lalunya terus
menggagunya saat ada suara ambulans.
“Lo minum dulu ya.” Dimas memberikan minum pada Laura.
“Gue akan antarin lo pulang ya,” kata Dimas. Laura hanya menganguk pelan, kakinya
gemetar. Dimas mengemudikan mobil nya dengan perlahan karena dia melihat mobil
ambulan masih terlihat, sementara dia melihat Laura menutup matanya. Dimas
segera memutar arah mobilnya, memilih jalan lain, menghindari ambulan yang
membuat Laura ketakutan, entah apa yang membuatnya setakut itu. Dimas merasakan
sekali pelukan Laura tadi pelukan penuh ketakutan, Dimas mulai kepikiran,
__ADS_1
bagaimana jika Laura dirumah nya sendiri, Dimas mulai khawatir dengan Laura.